Laba Bank Aladin Syariah Tembus Rp150,7 M di Tengah Ekspansi Digital

- Bank Aladin Syariah mencatat laba Rp150,7 miliar dan total aset Rp14,4 triliun, didorong kenaikan nasabah aktif 35,5 persen di tengah ekspansi digital.
- Kolaborasi dengan BCA Syariah dan Bank Syariah Nasional melalui instrumen SIPA memperkuat efisiensi serta keamanan transaksi antarbank berbasis prinsip syariah.
- Pemanfaatan SBSN dan SukBI sebagai agunan dalam transaksi SIPA menandai modernisasi pasar uang syariah untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan industri.
Jakarta, IDN Times – PT Bank Aladin Syariah Tbk (Bank Aladin Syariah) mencatatkan tren pertumbuhan positif hingga akhir 2025.
Bank digital syariah pertama di Indonesia ini berhasil membukukan laba sebesar Rp150,7 miliar dengan total aset yang kini mencapai Rp14,4 triliun
Pertumbuhan tersebut juga didorong oleh jumlah nasabah aktif yang meningkat hingga 35,5 persen secara year-on-year (yoy). Capaian kinerja Bank Aladin Syariah menjadi modal kuat bagi perseroan untuk terus memperluas kolaborasi strategis di industri perbankan syariah.
1. Pertumbuhan positif nasabah aktif dan laba

Di tengah persaingan bank digital, Bank Aladin Syariah berhasil membuktikan stabilitas kinerjanya lewat raihan laba ratusan miliar rupiah.
Efisiensi layanan berbasis teknologi membuat jangkauan nasabah semakin luas, yang berimbas pada penguatan total aset perusahaan. Pertumbuhan ini menjadi landasan bagi bank untuk meningkatkan keandalan layanan dan operasional yang lebih stabil.
"Bank Aladin percaya bahwa penguatan instrumen pasar uang akan menjadi salah satu faktor kunci dalam meningkatkan ketahanan industri perbankan syariah, sekaligus mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan di masa depan," ujar Presiden Direktur Bank Aladin Syariah, Koko Tjatur Rachmadi dikutip dari keterangan resmi, Selasa (28/4/2026).
2. Sinergi strategis perkuat manajemen risiko

Untuk menjaga keberlanjutan tren positif tersebut, Bank Aladin Syariah bekerja sama dengan PT Bank BCA Syariah dan PT Bank Syariah Nasional (BSN).
Kolaborasi itu berfokus pada penggunaan instrumen Sertifikat Pengelolaan Dana Berdasarkan Prinsip Syariah Antarbank (SIPA) untuk memperkuat efisiensi dan keamanan transaksi antarbank.
Presiden Direktur BCA Syariah, Yuli Melati Suryaningrum mengatakan pengerahan instrumen pasar uang syariah secara kolaboratif melalui transaksi SIPA ini sangat penting. Menurutnya, langkah itu akan mendukung kapasitas pasar keuangan syariah agar menjadi lebih besar namun tetap akuntabel.
“Melalui instrumen ini, BCA Syariah dan mitra perbakan dapat bersinergi dalam mendukung tujuan Bank Indonesia agar pasar keuangan syariah lebih aktif dengan kapasitas yang lebih besar, namun tetap mengedepankan prinsip tata kelola yang akuntabel,” tutur Yuli.
3. Modernisasi instrumen pasar uang syariah

Kerja sama itu juga menjadi bagian dari adaptasi bank terhadap pergeseran pasar yang kini lebih meminati instrumen beragun (secured).
Penggunaan agunan berupa Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan Sukuk Bank Indonesia (SukBI) dalam transaksi SIPA diharapkan memberikan rasa aman bagi pelaku industri.
Direktur Utama BSN, Alex Sofjan Noor mengatakan transaksi SIPA ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pasar.
“Sebagai bagian dari komitmen Bank BSN dalam mendorong pertumbuhan keuangan syariah nasional, kami terus menghadirkan inovasi yang mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan kepatuhan syariah,” ujar Alex.


















