Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Trump Ancam Tarif 200 Persen pada Magnet Tanah Jarang China

ilustrasi area tambang (pexels.com/Tom Fisk)
ilustrasi area tambang (pexels.com/Tom Fisk)

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melontarkan peringatan keras kepada China soal pasokan magnet tanah jarang yang sangat penting untuk industri teknologi. Ia menilai tarif 200 persen bisa diberlakukan jika ekspor magnet itu ditahan, sehingga berisiko mengguncang perjanjian dagang dua raksasa ekonomi dunia. Peringatan ini ia sampaikan usai bertemu Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, di Gedung Putih pada Senin (25/8/2025).

Trump menegaskan hal itu dalam pernyataannya kepada awak media.

“Mereka harus memberi kami magnet, jika mereka tidak memberi kami magnet, maka kami harus mengenakan tarif 200 persen atau sesuatu,” kata Trump dikutip dari CNBC.

Dilansir dari Al Jazeera, China menguasai sekitar 90 persen pasokan global magnet tanah jarang dan proses mineral untuk memproduksinya. Komponen tersebut sangat krusial untuk industri otomotif, elektronik, energi hijau, hingga pembuatan chip semikonduktor yang dipakai di ponsel pintar.

1. Suku cadang pesawat dipakai sebagai kartu tawar dagang

ilustrasi pesawat (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi pesawat (pexels.com/Pixabay)

Trump menyinggung bahwa AS memiliki senjata dagang berupa suku cadang pesawat. Ia menyebut, ratusan armada China bisa berhenti beroperasi bila Boeing menahan pengiriman komponen vital.

Di sisi lain, perusahaan penerbangan asal AS itu tengah merampungkan kesepakatan penjualan hingga 500 pesawat ke China, termasuk soal tipe pesawat dan jadwal pengiriman.

2. Ekspor magnet China melonjak meski ada pembatasan

ilustrasi kapal (pexels.com/Thomas Parker)
ilustrasi kapal (pexels.com/Thomas Parker)

Data dari Administrasi Umum Bea Cukai China menunjukkan lonjakan besar ekspor magnet ke AS sepanjang 2025. Pada Juni, pengiriman naik 660 persen dibanding bulan sebelumnya, lalu bertambah 76 persen pada Juli.

Ledakan ekspor ini muncul setelah China menambahkan magnet dan produk tanah jarang dalam daftar pembatasan ekspor pada April, yang dipandang sebagai balasan terhadap tarif impor AS.

3. Negosiasi dagang masih alot jelang akhir masa gencatan

ilustrasi perang dagang antara China dan Amerika Serikat. (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
ilustrasi perang dagang antara China dan Amerika Serikat. (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Perjanjian dagang AS–China pada Juni 2025 sempat melonggarkan pembatasan ekspor magnet dari China dan menurunkan bea masuk untuk kedua belah pihak. Tarif barang AS dipotong hingga 55 persen, sementara tarif barang China turun ke 32 persen, tetapi gencatan ini hanya berlaku sampai pertengahan November 2025. Trump sudah mengeluarkan perintah eksekutif untuk menunda lonjakan tarif selama 90 hari, agar pembicaraan bisa diperpanjang.

Minggu ini, negosiator perdagangan senior China, Li Chenggang, dijadwalkan bertemu Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, serta pejabat Departemen Keuangan di Washington. Direktur GreenPoint, Alfredo Montufar-Helu, menilai masa depan kesepakatan dagang bergantung pada hasil lawatan Li yang bisa membuka jalan menuju pembicaraan lebih luas.

Sementara itu, Henry Wang dari Center for China & Globalization mengomentari gaya bicara Trump.

“Dia selalu berbicara besar tentang tarif atau hukuman potensial, tetapi kita tidak boleh terjebak dalam retorika,” ucap Wang dikutip Times of India.

Ia menekankan bahwa keberhasilan akan ditentukan dari keseriusan kedua negara dalam menjalankan komitmen yang sudah disepakati.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us