Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
Meski demikian, Irman mengingatkan perhatian utama sebaiknya tidak hanya tertuju pada besarnya stok utang, tetapi juga biaya pendanaan (cost of funding). Menurutnya, suku bunga global yang masih tinggi dan pelemahan rupiah berpotensi membuat pemerintah menerbitkan utang baru dengan biaya yang lebih mahal.
Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam periode yang panjang, belanja bunga utang pemerintah berisiko meningkat sehingga ruang fiskal untuk membiayai program-program produktif menjadi lebih sempit.
"Karena itu, kami memandang dampak kenaikan ULN terhadap stabilitas fiskal akan sangat bergantung pada durasi pelemahan rupiah, arah suku bunga global, kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal, serta efektivitas penggunaan utang untuk kegiatan yang produktif," kata Faiz.
Ia menilai selama faktor-faktor tersebut tetap terjaga, posisi ULN pemerintah masih berada pada level yang relatif aman. Namun, pemerintah tetap perlu mengantisipasi kenaikan biaya utang agar tidak mengurangi fleksibilitas APBN dalam menghadapi berbagai risiko ekonomi di masa mendatang.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung beberapa sektor, yaitu:
Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 22,0 persen dari total ULN pemerintah
Sektor Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 20,6 persen
Sektor Jasa Pendidikan sebesar 16,2 persen
Sektor Konstruksi sebesar 11,5 persen
Sektor Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,5 persen.