Minyak Rusia Dikabarkan Sudah Tiba di RI, Pemerintah: Kami Cek Dulu

- Indonesia disebut menerima 770 ribu barel minyak mentah Rusia senilai sekitar 75 juta dolar AS yang tiba di Pelabuhan Balikpapan pada 29 Juni 2026.
- Kementerian ESDM masih mengecek asal dan kandungan minyak karena produk yang diterima berbentuk campuran atau Nusantara blending dari pemasok.
- Pemerintah menyebut impor minyak Rusia dilakukan melalui Lemigas sebagai BLU sektor energi dan akan dijadikan cadangan penyangga energi nasional.
Jakarta, IDN Times - Indonesia disebut telah menerima pengiriman minyak mentah Rusia untuk pertama kalinya setelah kesepakatan pasokan minyak antara kedua negara pada April 2026. Informasi tersebut dilaporkan Bloomberg berdasarkan data kepabeanan yang dihimpun Big Trade Data.
Dalam laporan itu disebutkan, hampir 770 ribu barel minyak mentah dikirim ke Pelabuhan Balikpapan pada 29 Juni 2026. Nilai pengiriman tersebut mencapai sekitar 75 juta dolar AS. Data kepabeanan mencatat minyak berasal dari Pelabuhan Kozmino, Rusia, dan diangkut menggunakan kapal tanker Sierra.
1. Kementerian ESDM akan mengecek terlebih dahulu

Menanggapi kabar tersebut, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan masih memeriksa asal minyak yang masuk ke Indonesia. Dia menyebut minyak yang diterima dalam bentuk campuran atau blending dari pemasok.
Yuliot menjelaskan pengadaan minyak dilakukan melalui pemasok yang membawa produk dalam bentuk Indonesia blend atau Nusantara blending. Karena berbentuk campuran, pemerintah masih perlu memastikan kandungan dan asal minyak tersebut.
"Jadi saya rasa itu dari mana asalnya, apakah itu ada yang dari Rusia, berapa jumlahnya kami cek dulu," kata Yuliot kepada jurnalis di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (16/7/2026).
2. Lemigas disebut menjadi pihak pengimpor

Terkait informasi impor minyak tersebut dilakukan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), Yuliot membenarkan mekanisme tersebut dapat dilakukan melalui Badan Layanan Umum (BLU) sektor energi.
Dia mengatakan kerja sama antarnegara dalam pengadaan minyak dapat menggunakan mekanisme melalui BLU sektor energi, yang dalam hal ini adalah Lemigas.
"Ya, ini kalau untuk ini kerja sama antarnegara, itu mekanismenya adalah melalui BLU sektor energi. Jadi kalau BLU sektor energi itu adalah yang ini Lemigas," tuturnya.
3. Minyak Rusia jadi cadangan penyangga energi

Yuliot mengatakan minyak yang diimpor dari Rusia belum akan diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM). Minyak tersebut lebih diperuntukkan sebagai cadangan penyangga energi nasional.
Dia belum menjelaskan lokasi penyimpanan minyak tersebut. Saat ditanya mengenai storage atau tempat penyimpanan, Yuliot mengatakan pihaknya masih akan melakukan pengecekan.
"Itu menjadi cadangan penyangga energi nasional," kata mantan Wakil Menteri Investasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).














![[QUIZ] Tebak Pekerjaan Karakter di Upin-Ipin, Penonton Setia Bisa Benar Semua?](https://image.idntimes.com/post/20240922/img-4256-7705a60071e5c91c966005914272f5fd.jpeg)



![[QUIZ] Tebak Nama Mata Uang Asia Tenggara, Yakin Bisa?](https://image.idntimes.com/post/20241117/18879-68854c3f6876b62c6c0e179f8d1fe608.jpg)
