ilustrasi Venezuela (unsplash.com/Leonardo Guillen)
Hanke melihat dolarisasi bukan hanya sebagai cara untuk mengendalikan inflasi, tapi juga sebagai pintu masuk bagi pemulihan ekonomi Venezuela. Negara tersebut sangat bergantung pada ekspor minyak sehingga kestabilan mata uang dinilai dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap sektor tersebut. Ia memperkirakan perubahan mata uang bisa mendorong investasi asing yang kemudian meningkatkan produksi minyak Venezuela.
Tambahan produksi minyak juga dianggap penting untuk membantu Venezuela menghadapi utang sekitar 250 miliar dolar AS atau setara dengan sekitar Rp4.000 triliun, dengan asumsi kurs Rp16 ribu per dolar AS. Nilai tersebut setara dengan sekitar 150 persen dari produk domestik bruto Venezuela. Menurut Hanke, meningkatnya produksi dapat menghasilkan dolar yang dibutuhkan untuk membayar pokok dan bunga utang. Ia juga memperkirakan berakhirnya hiperinflasi bisa menurunkan suku bunga, mendorong pinjaman masyarakat dan perusahaan, serta menghidupkan kembali pasar properti dan investasi dalam negeri.
Rencana Venezuela untuk meninggalkan bolivar dan menggunakan dolar AS jelas bukan langkah kecil. Di satu sisi, kamu bisa melihat alasan kuat di baliknya karena dolar sudah banyak digunakan masyarakat dan bolivar terus kehilangan nilainya. Di sisi lain, pemerintah harus siap kehilangan kendali atas kebijakan moneter serta menghadapi tantangan ketika bank sentral tidak lagi memiliki peran seperti sebelumnya.
Hanke memperkirakan peluang Venezuela mengadopsi dolar secara penuh berada di kisaran 50-80 persen. Jika benar-benar terjadi, ia menilai perubahan tersebut bisa menjadi salah satu peralihan mata uang terbesar sejak euro diperkenalkan pada 1999. Namun, apakah kebijakan itu benar-benar sukses atau tidak pada akhirnya akan sangat bergantung pada kemampuan Venezuela menjaga stabilitas fiskal, meningkatkan produksi minyak, menarik investasi, dan mengelola utangnya.