Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Venezuela Siap Gantikan Bolivar dan Gunakan Dolar AS, Akankah Sukses?
ilustrasi bendera Venezuela (pexels.com/Alex Dos Santos)
  • Bolivar kehilangan sekitar 78 persen nilainya terhadap dolar AS dalam setahun, sementara dolarisasi spontan membuat dolar dominan dalam transaksi harian masyarakat Venezuela.
  • Ekonom Steve Hanke menilai penggunaan dolar resmi dapat menekan inflasi sekitar 400 persen dengan membatasi pencetakan uang, tetapi Venezuela harus menyerahkan kendali kebijakan moneter kepada AS.
  • Dolarisasi diharapkan menarik investasi dan meningkatkan produksi minyak untuk membantu utang 250 miliar dolar AS, namun keberhasilannya bergantung pada stabilitas fiskal, kebijakan politik, dan pengelolaan ekonomi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau kamu melihat kondisi ekonomi Venezuela dalam beberapa tahun terakhir, perubahan mata uang mungkin terdengar seperti langkah yang cukup ekstrem. Nilai bolivar terus tertekan hingga membuat dolar Amerika Serikat (AS) semakin banyak digunakan dalam aktivitas sehari-hari masyarakat.

Kini, Venezuela kembali mempertimbangkan langkah yang lebih besar, yaitu meninggalkan bolivar dan menggunakan dolar AS secara resmi. Ekonom Steve Hanke menilai kebijakan tersebut bisa menjadi jalan untuk menghentikan inflasi yang sangat tinggi sekaligus mengembalikan stabilitas ekonomi. Namun, mengganti mata uang nasional tentu bukan keputusan sederhana karena Venezuela juga harus siap kehilangan kendali atas kebijakan moneternya sendiri.

Lantas, seperti apa kondisi yang membuat Venezuela mulai mempertimbangkan langkah besar tersebut? Simak pembahasannya berikut ini.

1. Bolivar makin terpuruk dan dolar sudah jadi pilihan

ilustrasi dolar Amerika (freepik.com/pvproductions)

Menurut laporan Fortune, bolivar Venezuela telah kehilangan sekitar 78 persen nilainya terhadap dolar AS dalam setahun terakhir. Kondisi tersebut membuat dolar semakin dominan dalam transaksi masyarakat Venezuela. Bahkan, hampir semua orang yang tidak bekerja untuk pemerintah atau gak menerima bantuan dan pensiun dari pemerintah disebut sudah menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari.

Situasi ini sebenarnya sudah menciptakan apa yang disebut Hanke sebagai spontaneous dollarization atau dolarisasi spontan. Artinya, masyarakat secara perlahan memilih dolar karena dianggap lebih stabil dibandingkan bolivar. Kalau kamu melihat kondisi seperti ini, penggunaan dolar secara resmi sebenarnya bukan lagi sesuatu yang benar-benar asing bagi masyarakat Venezuela.

2. Dolarisasi dianggap bisa menekan inflasi

ilustrasi inflasi, ekonomi (vecteezy.com/Sutthiphong Chandaeng)

Hanke, profesor ekonomi terapan di Johns Hopkins University yang dikenal sebagai penasihat kebijakan mata uang berbagai negara, menilai masalah utama Venezuela adalah inflasi. Menurutnya, inflasi Venezuela yang mencapai sekitar 400 persen perlu segera dikendalikan agar perekonomian bisa kembali stabil. Ia melihat penggunaan dolar secara penuh sebagai cara untuk mengurangi risiko pemerintah mencetak uang demi membiayai kebutuhannya.

Jika bolivar dan bank sentral ditinggalkan, pemerintah gak lagi memiliki keleluasaan untuk menggunakan pencetakan uang sebagai alat pembiayaan. Kondisi tersebut diharapkan dapat mengurangi tekanan yang membuat harga barang terus meningkat. Hanke menilai stabilitas harga menjadi fondasi penting karena tanpa kestabilan, pertumbuhan ekonomi dan berbagai perbaikan lainnya akan sulit bertahan.

3. Venezuela punya pengalaman dengan dolar

ilustrasi bendera Venezuela, crowd (pexels.com/Renan Braz)

Rencana ini bukan pertama kalinya Hanke mendorong perubahan sistem mata uang di sebuah negara. Ia pernah membantu Montenegro meninggalkan dinar Yugoslavia dan beralih menggunakan deutsche mark pada 1999. Setahun kemudian, ia juga terlibat dalam proses peralihan Ekuador dari sucre ke dolar AS, yang menjadi salah satu contoh penting dolarisasi di Amerika Latin.

Pengalaman lain datang dari Zimbabwe ketika Hanke menjadi penasihat informal perdana menteri pada 2009. Negara tersebut menggunakan dolar dan berhasil menekan hiperinflasi, tapi pemerintahan berikutnya menghentikan penggunaan dolar pada 2013 dan masalah hiperinflasi kembali muncul. Pengalaman itu menunjukkan bahwa dolarisasi memang bisa membantu menstabilkan harga, tapi keberhasilannya tetap bergantung pada kebijakan ekonomi dan politik yang mendukungnya.

4. Lumpuhnya peran bank sentral Venezuela bukan perkara sepele

ilustrasi bank (vecteezy.com/MUHAMMAD NUR)

Meski terlihat menjanjikan, penggunaan dolar secara resmi juga memiliki risiko besar bagi Venezuela. Salah satu persoalan utamanya adalah lumpuhnya peran bank sentral sebagai pemberi pinjaman terakhir ketika sektor keuangan menghadapi masalah. Negara juga pada dasarnya akan menyerahkan kebijakan moneternya kepada Federal Reserve di Amerika Serikat.

Kamu juga bisa melihat contoh Argentina yang pernah mengusung gagasan dolarisasi tapi kemudian tidak benar-benar menjalankannya. Presiden Javier Milei sempat berkampanye dengan ide tersebut, tapi setelah menjabat ia memilih fokus pada pemangkasan subsidi dan defisit anggaran untuk menurunkan inflasi. Pengalaman Argentina memperlihatkan bahwa mengganti mata uang nasional memiliki konsekuensi besar sehingga pemerintah harus mempertimbangkan banyak faktor sebelum benar-benar mengambil keputusan.

5. Investasi dan sektor minyak jadi harapan besar

ilustrasi Venezuela (unsplash.com/Leonardo Guillen)

Hanke melihat dolarisasi bukan hanya sebagai cara untuk mengendalikan inflasi, tapi juga sebagai pintu masuk bagi pemulihan ekonomi Venezuela. Negara tersebut sangat bergantung pada ekspor minyak sehingga kestabilan mata uang dinilai dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap sektor tersebut. Ia memperkirakan perubahan mata uang bisa mendorong investasi asing yang kemudian meningkatkan produksi minyak Venezuela.

Tambahan produksi minyak juga dianggap penting untuk membantu Venezuela menghadapi utang sekitar 250 miliar dolar AS atau setara dengan sekitar Rp4.000 triliun, dengan asumsi kurs Rp16 ribu per dolar AS. Nilai tersebut setara dengan sekitar 150 persen dari produk domestik bruto Venezuela. Menurut Hanke, meningkatnya produksi dapat menghasilkan dolar yang dibutuhkan untuk membayar pokok dan bunga utang. Ia juga memperkirakan berakhirnya hiperinflasi bisa menurunkan suku bunga, mendorong pinjaman masyarakat dan perusahaan, serta menghidupkan kembali pasar properti dan investasi dalam negeri.

Rencana Venezuela untuk meninggalkan bolivar dan menggunakan dolar AS jelas bukan langkah kecil. Di satu sisi, kamu bisa melihat alasan kuat di baliknya karena dolar sudah banyak digunakan masyarakat dan bolivar terus kehilangan nilainya. Di sisi lain, pemerintah harus siap kehilangan kendali atas kebijakan moneter serta menghadapi tantangan ketika bank sentral tidak lagi memiliki peran seperti sebelumnya.

Hanke memperkirakan peluang Venezuela mengadopsi dolar secara penuh berada di kisaran 50-80 persen. Jika benar-benar terjadi, ia menilai perubahan tersebut bisa menjadi salah satu peralihan mata uang terbesar sejak euro diperkenalkan pada 1999. Namun, apakah kebijakan itu benar-benar sukses atau tidak pada akhirnya akan sangat bergantung pada kemampuan Venezuela menjaga stabilitas fiskal, meningkatkan produksi minyak, menarik investasi, dan mengelola utangnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article