Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

8 Kebiasaan Finansial Buruk yang Sering Dianggap Normal, Apa Saja?

8 Kebiasaan Finansial Buruk yang Sering Dianggap Normal, Apa Saja?
ilustrasi stres finansial, dompet kosong, bokek, utang, tagihan (vecteezy.com/dao_kp20226443)
  • Menabung dari sisa gaji, tidak memiliki dana darurat, dan menganggap saldo rekening bebas dibelanjakan dapat membuat kebutuhan penting serta pengeluaran mendadak tidak tertangani.
  • Pembelian aset mahal perlu menghitung biaya perawatan, asuransi, dan perbaikan; cicilan berjangka panjang juga bisa meningkatkan total bunga meski angsuran bulanan terlihat ringan.
  • Mengikuti gaya hidup orang lain, terlalu sering memesan makanan, serta membuang bahan pangan dapat menggerus anggaran dan menghambat tabungan maupun investasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah merasa gaji baru masuk, tapi beberapa minggu kemudian uang di rekening sudah menipis tanpa tahu habis untuk apa? Kondisi seperti ini sebenarnya gak selalu terjadi karena penghasilanmu terlalu kecil, lho. Bisa jadi ada beberapa kebiasaan finansial yang selama ini kamu anggap wajar, padahal diam-diam bikin kondisi keuangan semakin berantakan.

Kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali memang kelihatannya gak terlalu berdampak, tapi kalau dikumpulkan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, jumlahnya bisa cukup besar. Karena itu, penting buat kamu mengenali kebiasaan finansial yang terlihat normal tapi sebenarnya kurang sehat berikut ini.

  1. 1. Menabung dari sisa gaji

    ilustrasi saving, dana pensiun, dana darurat, investasi
    ilustrasi saving, dana pensiun, dana darurat, investasi (magnific.com/magnific)

    Banyak orang baru memikirkan tabungan setelah semua kebutuhan dan keinginan selama sebulan terpenuhi. Masalahnya, sering kali gak ada uang yang tersisa sehingga rencana menabung kembali ditunda sampai bulan berikutnya.

    Padahal, para ahli keuangan justru menyarankan konsep pay yourself first, yaitu menyisihkan uang untuk tabungan segera setelah menerima gaji, bukan menunggu sisa di akhir bulan. Gak harus langsung dalam jumlah besar, kok, karena nominal kecil yang dilakukan secara rutin tetap lebih baik daripada gak menabung sama sekali.

  2. 2. Meremehkan biaya perawatan

    ilustrasi bengkel mobil
    ilustrasi bengkel mobil (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Saat membeli rumah atau kendaraan, kamu mungkin lebih fokus menghitung harga pembelian dan cicilan bulanannya. Padahal, barang bernilai besar juga membutuhkan biaya perawatan, asuransi, perbaikan, hingga penggantian komponen yang rusak.

    Investopedia menyebut pemilik rumah sebaiknya menyiapkan sekitar 1-4 persen dari nilai rumah setiap tahun untuk kebutuhan perawatan dasar. Jadi, sebelum membeli sesuatu yang mahal, jangan cuma bertanya apakah kamu sanggup membelinya, tapi pikirkan juga apakah kamu sanggup merawatnya.

  3. 3. Gak punya dana cadangan

    ilustrasi emergency fund atau dana darurat
    ilustrasi emergency fund atau dana darurat (vecteezy.com/pichai pipatkuldilok)

    Seperti kita tahu, kehidupan gak selalu berjalan sesuai rencana, karena pengeluaran mendadak bisa muncul kapan saja. Mulai dari kendaraan rusak, kebutuhan keluarga, sampai tagihan tak terduga bisa bikin kondisi keuangan terguncang kalau kamu gak punya dana cadangan.

    NerdWallet menjelaskan bahwa dana darurat idealnya dapat mencakup beberapa bulan biaya hidup, meski begitu, jumlah kecil yang berhasil kamu kumpulkan tetap bisa membantu menghadapi keadaan mendesak. Dengan adanya dana cadangan, kamu juga gak harus langsung mengandalkan kartu kredit atau berutang ketika masalah datang.

  4. 4. Menganggap punya uang berarti mampu membeli

    ilustrasi checkout, belanja online
    ilustrasi checkout, belanja online (freepik.com/rawpixel.com)

    Punya Rp500 ribu di rekening bukan berarti kamu benar-benar punya Rp500 ribu yang bebas digunakan untuk belanja, lho. Bisa saja sebagian uang tersebut sebenarnya sudah dialokasikan untuk tagihan, kebutuhan harian, tabungan, atau pengeluaran lain yang akan datang.

    Jadi, kemampuan membayar sesuatu dan kemampuan untuk benar-benar membelinya tanpa mengganggu kondisi keuangan adalah dua hal berbeda. Sebelum checkout, coba tanyakan kepada dirimu apakah pengeluaran tersebut masih aman setelah semua kebutuhan penting terpenuhi.

  5. 5. Ikut gaya hidup orang lain

    ilustrasi belanja baju
    ilustrasi belanja baju (unsplash.com/charlesdeluvio)

    Melihat teman atau orang lain membeli barang baru memang gampang bikin kamu merasa harus mengikuti mereka. Apalagi media sosial sering membuat kehidupan orang lain terlihat jauh lebih mewah dan menyenangkan daripada kenyataannya.

    Kebiasaan mengejar gaya hidup seperti ini bisa membuatmu terus meningkatkan pengeluaran setiap kali pendapatan naik, yang dikenal sebagai lifestyle inflation menurut Investopedia. Padahal, kenaikan gaji sebenarnya bisa menjadi kesempatan bagus untuk memperbesar tabungan dan investasi, bukan sekadar menaikkan standar belanja.

  6. 6. Terlalu sering memakai aplikasi pesan makanan

    ilustrasi food delivery atau pesan makan online
    ilustrasi food delivery atau pesan makan online (pexels.com/Norma Mortenson)

    Pesan makanan lewat aplikasi memang praktis, terutama ketika kamu sedang sibuk atau terlalu lelah untuk memasak. Namun kalau dilakukan berkali-kali dalam seminggu, biaya makanan, ongkos kirim, biaya layanan, dan berbagai tambahan lainnya bisa menguras dompet tanpa terasa, lho.

    Menurut Circuit, menggunakan layanan pesan antar makanan bisa membuat biaya yang dikeluarkan hingga 46% lebih mahal dibandingkan mengambil makanan sendiri. Sesekali memanjakan diri tentu gak masalah, tapi jangan sampai pesan makanan menjadi kebiasaan otomatis setiap kali merasa lapar, ya.

  7. 7. Sering membuang makanan

    8 Kebiasaan Finansial Buruk yang Sering Dianggap Normal, Apa Saja?
    ilustrasi leftover, sisa makanan (pexels.com/Phong Tran)

    Membeli bahan makanan dalam jumlah banyak memang terlihat lebih hemat, tapi keuntungan itu hilang kalau sebagian besar akhirnya membusuk dan masuk tempat sampah. Setiap makanan yang kamu buang, sebenarnya juga berarti uang yang sudah kamu keluarkan ikut terbuang.

    Kebiasaan ini sering terjadi ketika kamu berbelanja tanpa membuat perencanaan menu atau membeli terlalu banyak hanya karena sedang ada promo. Supaya lebih hemat, cobalah sesuaikan jumlah belanja dengan kebutuhan dan pastikan bahan makanan yang sudah ada di rumah benar-benar digunakan.

  8. 8. Memilih cicilan panjang karena angsurannya kecil

    8 Kebiasaan Finansial Buruk yang Sering Dianggap Normal, Apa Saja?
    ilustrasi pinjaman (freepik.com/rawpixel.com)

    Cicilan dengan tenor panjang memang terlihat menarik karena jumlah pembayaran setiap bulannya menjadi lebih ringan. Namun, semakin lama masa pinjaman, semakin besar pula bunga yang berpotensi kamu bayarkan secara keseluruhan.

    Contohnya, pembiayaan mobil bekas senilai 10 ribu dolar AS dengan bunga sekitar 10 persen dapat membuat total pembayaran menjadi sekitar 12.600 dolar AS untuk tenor lima tahun dan sekitar 13.750 dolar AS untuk tenor tujuh tahun. Jadi, jangan hanya melihat apakah cicilannya sanggup dibayar setiap bulan, tapi hitung juga total uang yang harus kamu keluarkan sampai pinjaman benar-benar lunas.

    Mengelola keuangan dengan baik bukan berarti kamu gak boleh menikmati hasil kerja kerasmu. Kamu tetap boleh makan di restoran, membeli barang yang disukai, atau menggunakan layanan yang membuat hidup lebih praktis. Namun, semuanya perlu dilakukan dengan sadar supaya kebiasaan kecil gak berubah menjadi pengeluaran besar yang mengganggu tujuan keuanganmu.

    Mulai sekarang, coba perhatikan kebiasaan mana yang paling sering kamu lakukan dan perlahan ubah menjadi lebih sehat. Dengan begitu, kamu gak cuma tahu ke mana uangmu pergi, tapi juga bisa membuat setiap rupiah yang kamu hasilkan punya tujuan yang lebih jelas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More