Pemerintah-Oposisi Venezuela Upayakan Pengembalian 31 Ton Emas di Inggris

- Pemerintah dan oposisi Venezuela sepakat mengupayakan pengembalian 31 ton emas senilai sekitar US$4 miliar dari Bank of England, yang tertahan sejak 2018.
- Dana emas direncanakan sepenuhnya untuk rekonstruksi pascagempa 24 Juni 2026, termasuk perumahan, fasilitas kesehatan, dan sekolah, dengan usulan penampungan di rekening Departemen Keuangan AS serta audit internasional.
- Bank of England menunggu putusan hukum mengikat, sementara AS melonggarkan sanksi dan Venezuela membuka kembali akses dana internasional di tengah utang luar negeri US$240 miliar.
Jakarta, IDN Times – Pemerintah dan oposisi Venezuela mendadak sepakat untuk bersama-sama mengupayakan pengembalian 31 ton emas simpanan mereka di Bank of England. Aset senilai sekitar 4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp71,9 triliun itu tertahan sejak 2018.
Kesepakatan langka ini tercapai usai perundingan selama dua pekan yang difasilitasi AS, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan bersama pada pekan lalu. Kedua kubu menegaskan, dana raksasa tersebut bakal dialokasikan penuh untuk membiayai rekonstruksi pascagempa bumi dahsyat pada 24 Juni 2026 yang merenggut lebih dari 6 ribu jiwa, dilaporkan Euro News.
Musibah tersebut semakin memukul perekonomian Venezuela, di mana Bank Sentral memproyeksikan inflasi bulanan melonjak dari 13,8 persen pada Juni menjadi 19,9 persen pada Juli, dengan estimasi inflasi tahunan menembus 575 persen.
Table of Content
1. Inggris tunggu putusan hukum pengendalian emas

ilustrasi hukum (pexels.com/Sora Shimazaki) Akses Venezuela terhadap cadangan emas tersebut dibekukan setelah Inggris berhenti mengakui legitimasi pemerintahannya pada 2018. Pihak Bank of England memilih bungkam dan menegaskan baru akan bergerak setelah ada putusan hukum yang mengikat. Sementara itu, Kantor Luar Negeri Inggris menyatakan, pemerintahnya bukan bagian dari sengketa hukum tersebut, seraya menegaskan kembali dukungan bagi transisi kekuasaan yang demokratis di Venezuela.
Presiden Interim Delcy Rodríguez bahkan sempat menyurati Raja Charles bulan lalu demi memohon pelepasan batangan emas yang tersimpan di Threadneedle Street tersebut. Perundingan tingkat tinggi ini sendiri tidak melibatkan María Corina Machado, tokoh oposisi paling populer sekaligus peraih Nobel Perdamaian yang dilarang pulang usai gempa, hingga memicu dinamika internal di kedua kubu, meski mereka akhirnya setuju untuk mulai membahas reformasi sistem peradilan.
2. Oposisi Venezuela minta pengawasan ketat atas aset

ilustrasi emas (pexels.com/Michael Steinberg) Ramón López, anggota delegasi Majelis Nasional 2015, menekankan perlunya mekanisme pengawasan ekstra ketat sebelum aset tersebut dicairkan. Dana yang disiapkan untuk membangun kembali perumahan, fasilitas kesehatan, dan sekolah itu rencananya bakal ditampung di rekening Departemen Keuangan AS serta diaudit oleh firma internasional. López juga memastikan tidak ada kompromi politik terkait reformasi Mahkamah Agung, walau isu peradilan dan penguatan lembaga pemilu tetap masuk dalam agenda pembahasan.
Di sisi lain, kubu oposisi menegaskan bahwa transparansi merupakan harga mati agar dana rekonstruksi tidak dijarah oleh oknum pemerintah. Mereka memastikan langkah bersama ini diambil tanpa mengendurkan kewaspadaan terhadap kepemimpinan interim saat ini.
“Tidak ada naivitas dari pihak kami. Kami tahu bahwa pemerintahan interim Delcy Rodríguez bukanlah para reformis demokratis,” katanya, dikutip Financial Times.
3. AS longgarkan sanksi dan akses dana internasional

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio) Langkah diplomasi emas ini berjalan beriringan dengan pelonggaran sanksi ekonomi oleh AS yang mulai membuka ruang investasi asing di sektor sumber daya alam Venezuela. Upaya penataan kembali keuangan negara ini menjadi krusial di tengah himpitan tumpukan utang luar negeri (sovereign debt) yang mencapai 240 miliar dolar AS (setara Rp3.840 triliun), menjadikannya salah satu restrukturisasi utang terbesar dalam sejarah.
Langkah ini menyusul dinamika politik baru pascapenangkapan Nicolas Maduro, di mana Venezuela mulai mendapatkan kembali akses dana internasional. Negara tersebut sebelumnya sukses mencairkan dana senilai 350 juta dolar AS (setara Rp5,6 triliun) dari Dana Moneter Internasional (IMF) pada Juli lalu, dan kini tengah membidik akses cadangan Special Drawing Rights (SDR) senilai 4,6 miliar dolar AS (setara Rp73,6 triliun) untuk memulihkan ekonomi yang hancur akibat bertahun-tahun salah kelola, korupsi, dan sanksi global.




















