Viral Susu MBG Dijual di Minimarket, BGN Beri Klarifikasi

- Sebuah minimarket di Kendal viral karena menjual susu bertuliskan 'Susu Gratis Program MBG' seharga Rp4 ribu, padahal seharusnya tidak untuk diperjualbelikan.
- Kepala BGN menegaskan lembaganya tidak pernah bekerja sama dengan produsen mana pun dalam pengadaan susu untuk program MBG dan seluruh pembelian dilakukan oleh SPPG di pasar bebas.
- Dadan menjelaskan bahwa merek 'Susu Sekolah' dibuat oleh produsen sendiri, bukan bagian resmi dari program MBG, kemungkinan untuk menarik minat pembeli di pasaran.
Jakarta, IDN Times - Viral di media sosial, sebuah minimarket di wilayah Kendal, Jawa Tengah menjual susu UHT kemasan 125 mililiter (ml) bermerek ‘Susu Sekolah’. Temuan itu menggemparkan media sosial karena dalam kemasan susu tertulis ‘Susu Gratis Program MBG, Tidak Untuk Diperjualbelikan’.
Adapun minimarket tersebut dikabarkan menjual susu sekolah itu seharga Rp4 ribu per kemasan, dan Rp138 ribu per karton. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengatakan BGN tidak mengeluarkan susu khusus untuk program MBG.
“BGN tidak pernah membuat kontrak dan berkomitmen dengan produsen mana pun,” ucap Dadan di kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
1. Pengadaan susu untuk MBG dilakukan melalui SPPG

Dadan mengatakan, pengadaan susu untuk program MBG dilakukan oleh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Adapun mekanismenya dilakuikan di pasar bebas.
“Seluruh SPPG membeli di free market. Tidak ada misalnya kita memberikan ke produsen tertentu, ini kami bayar. Kemudian nanti dikasihkan ke MBG gratis, enggak ada,” ucap Dadan.
2. SPPG lakukan pengadaan susu sesuai harga pasaran

Dadan mengatakan, susu yang dibeli SPPG untuk program MBG juga dibeli sesuai harga pasaran.
“Jadi susu berbasis SPPG, dibeli berbasis harga pasar yang ada,” ujar Dadan.
3. Merek Susu Sekolah dibuat oleh produsen

Dadan mengatakan, terkait merek ‘Susu Sekolah’ dibuat oleh produsen untuk tujuan tertentu.
“Jadi kalau ada yang tulisan sekolah di pasaran saya kira itu mungkin ada produsen yang berusaha supaya laku kemudian dijual di pasaran,” tutur Dadan.



















