Dalam menjalankan aksinya, pelaku dapat menginformasikan adanya transaksi mencurigakan, pemblokiran rekening, penyalahgunaan kartu, hingga gangguan keamanan akun. Untuk meyakinkan korban, pelaku kemudian menawarkan bantuan dengan meminta data pribadi, kode verifikasi, atau mengarahkan korban membuka tautan maupun mengunduh aplikasi tertentu.
"Pelaku juga dapat menggunakan teknik komunikasi persuasif untuk memengaruhi pola pikir dan perilaku korban. Salah satunya melalui pendekatan Neuro-Linguistic Programming (NLP) atau pemrograman neuro-linguistik, yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dan pola komunikasi," ungkapnya.
Dalam konteks penipuan, pendekatan komunikasi semacam ini dapat dimanfaatkan untuk membangun kepercayaan, menciptakan rasa takut, serta menimbulkan kesan mendesak agar korban mengikuti instruksi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
BNI mengimbau masyarakat untuk segera menghentikan komunikasi apabila mencurigai adanya upaya penipuan. Nasabah juga diminta tidak memberikan data rahasia, membuka tautan, mengunduh aplikasi, menghubungi nomor yang diberikan penelepon, maupun melakukan transaksi sebelum memastikan kebenaran informasi.
Jika telanjur memberikan data rahasia, mengakses tautan, mengunduh aplikasi, atau melakukan transaksi mencurigakan, nasabah disarankan segera menghubungi BNI untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.