ilustrasi dolar (pexels.com/Pixabay)
Meski demikian, Yusuf menilai DHE SDA tetap memberikan manfaat penting bagi stabilitas pasar keuangan. Dengan semakin banyak dolar yang berada di dalam sistem keuangan domestik, pasar valas menjadi lebih dalam dan tidak mudah mengalami kekeringan likuiditas saat terjadi gejolak.
Selain itu, kebijakan tersebut juga mengubah pola lama di mana devisa hasil ekspor cenderung cepat keluar dari sistem keuangan nasional setelah diterima eksportir.
"Selama bertahun-tahun, sebagian besar DHE segera dikonversi, dipindahkan, atau ditempatkan di luar negeri sehingga pasokan dolar di dalam negeri terus menipis. Aturan baru ini mencoba menghentikan pola tersebut dan memastikan sebagian devisa tetap berputar di dalam negeri," ungkap Yusuf.
Karena itu, ia memandang DHE SDA lebih tepat disebut sebagai bantalan tambahan bagi stabilitas rupiah dibandingkan instrumen utama untuk menjaga nilai tukar.
Dalam situasi pasar yang bergejolak, keberadaan likuiditas dolar yang lebih besar dapat membantu meredam kepanikan dan mengurangi volatilitas. Namun, jika tekanan terhadap rupiah dipicu oleh faktor eksternal yang lebih besar, seperti arus keluar modal asing, memburuknya sentimen global, atau perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat, efektivitas DHE SDA tetap terbatas.
"Kebijakan ini bisa menambah daya tahan, tetapi tidak cukup kuat untuk mengubah arah permainan sendirian," tutur Yusuf.