ilustrasi usaha kuliner street food (unsplash.com/Markus Winkler)
Meski profit lebih mencerminkan kondisi keuangan perusahaan, bukan berarti kamu boleh mengabaikan revenue, ya. Revenue tetap penting karena menunjukkan kemampuan bisnis dalam menghasilkan pendapatan dari kegiatan utamanya. Perusahaan yang mampu meningkatkan revenue secara konsisten memiliki peluang untuk memperbesar profit apabila pengeluarannya bisa dikendalikan dengan baik. Sebaliknya, profit yang tinggi tapi revenue terus menurun juga perlu diperhatikan karena bisa menjadi tanda adanya masalah pada penjualan atau permintaan pasar.
Karena itu, cara paling tepat adalah melihat revenue dan profit secara bersamaan, bukan memilih salah satunya secara mutlak. Kamu bisa melihat revenue untuk mengetahui apakah bisnis memiliki pertumbuhan penjualan, kemudian membandingkannya dengan profit untuk melihat apakah pertumbuhan tersebut benar-benar menghasilkan keuntungan. Jika revenue naik tapi profit justru turun, kamu perlu melihat apakah biaya produksi, operasional, bunga, atau pajaknya mengalami peningkatan. Dari perbandingan tersebut, kamu bisa mendapatkan gambaran yang jauh lebih utuh mengenai kesehatan dan efisiensi sebuah bisnis.
Revenue dan profit memang sama-sama penting, tapi keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda. Revenue memberi tahumu seberapa besar pendapatan yang berhasil diperoleh bisnis, sedangkan profit menunjukkan berapa banyak pendapatan yang tersisa setelah berbagai pengeluaran dibayarkan.
Jadi, jika tujuanmu adalah menilai kesehatan keuangan sebuah perusahaan, profit biasanya menjadi indikator yang lebih menggambarkan kondisi sebenarnya. Meski begitu, jangan hanya terpaku pada satu angka karena pertumbuhan revenue yang sehat dan kemampuan menghasilkan profit secara konsisten sama-sama penting bagi keberlangsungan bisnis.