ilustrasi bendera Thailand (pexels.com/Markus Winkler)
BRICS kini memiliki 11 anggota penuh, yaitu Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, Indonesia, dan Arab Saudi. Selain itu, terdapat 10 negara mitra, yakni Belarus, Bolivia, Kuba, Kazakhstan, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam. Negara mitra dapat mengikuti pertemuan tingkat tinggi dan menteri luar negeri, mendukung deklarasi, serta bergabung dalam kelompok kerja tertentu.
Model negara mitra ini membuat BRICS bisa memperluas pengaruh tanpa harus langsung memberikan status anggota penuh. Negara seperti Nigeria dan Thailand bahkan berpotensi berkembang menjadi anggota penuh apabila memenuhi sejumlah kriteria, termasuk keseimbangan geografis, hubungan baik dengan seluruh anggota, status sebagai anggota PBB, serta dukungan terhadap reformasi multilateral. Perluasan tersebut dapat membuat BRICS semakin kuat dari sisi populasi, energi, sumber daya mineral, dan perdagangan antaranggota.
Bagi kamu yang melihat BRICS dari sisi ekonomi global, pertambahan anggota ini cukup penting. Basis ekonomi BRICS sudah mencapai sekitar 40 persen ekonomi dunia berdasarkan purchasing power parity atau paritas daya beli. Semakin banyak negara yang terhubung, semakin besar pula potensi perdagangan dan kerja sama ekonomi di dalam kelompok tersebut.
Namun, jumlah anggota yang semakin besar juga membawa tantangan tersendiri. Perbedaan kepentingan, terutama terkait hubungan China dan India, bisa membuat proses pengambilan keputusan berjalan lebih lambat. BRICS sendiri menggunakan pendekatan berbasis konsensus sehingga kesepakatan antarnegara menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa cepat agenda bersama dapat berjalan.