PGE Akselerasi Proyek Panas Bumi, Targetkan Kapasitas 1 GW pada 2028

- PGE menargetkan kapasitas panas bumi mandiri naik dari 727 MW per September 2026 menjadi 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2033.
- Perusahaan menyiapkan 12 proyek berkapasitas total 320 MW, termasuk Hululais 110 MW pada 2028 dan Ulubelu Binary 30 MW pada 2027.
- PGE mempercepat lima proyek 105 MW melalui tahapan teknis paralel, dukungan PPA dan pembiayaan, ditopang pertumbuhan produksi energi, pendapatan, serta laba hingga kuartal III 2026.
Jakarta, IDN Times - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mempercepat pengembangan sejumlah proyek panas bumi untuk meningkatkan kapasitas terpasang yang dikelola secara mandiri menjadi 1 gigawatt (GW) pada 2028. Perusahaan menyiapkan 12 proyek pengembangan dengan total kapasitas mencapai 320 megawatt (MW). Hingga September 2026, PGE memiliki kapasitas terpasang yang dikelola secara mandiri sebesar 727 MW.
Perusahaan menargetkan kapasitas tersebut meningkat menjadi 1 GW pada 2028, kemudian mencapai 1,8 GW pada 2033. Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, percepatan proyek prioritas, penguatan kesiapan investasi, dan optimalisasi aset yang telah beroperasi menjadi bagian dari strategi untuk mencapai target tersebut. Berikut tiga langkah yang disiapkan PGE untuk mempercepat pengembangan proyek panas bumi.
1. Menyiapkan 12 proyek dengan kapasitas total 320 MW

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk menggelar Public Expose PGEO 2026 (Dok. Prajna) PGE memprioritaskan 12 proyek pengembangan panas bumi dengan total kapasitas 320 MW. Sejumlah proyek ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dan 2028. Salah satu proyek berkapasitas besar adalah Hululais Unit 1 dan 2 dengan kapasitas 110 MW yang dijadwalkan beroperasi pada 2028. Selain itu, ada Ulubelu Binary Unit 1, 2, dan 3 berkapasitas 30 MW yang ditargetkan beroperasi pada 2027.
Proyek lain yang dijadwalkan beroperasi pada 2028 meliputi Lahendong Low Pressure sebesar 15 MW, Lahendong Binary Unit 1 sebesar 15 MW, Lumut Balai Binary Unit 1 sebesar 10 MW, Sibayak Binary Unit sebesar 5 MW, serta Hululais Binary Unit 1 sebesar 30 MW. Sementara itu, sejumlah proyek lainnya memiliki jadwal operasi pada 2029 hingga 2031.
Proyek tersebut mencakup Sungai Penuh Low Pressure, Lumut Balai Binary Unit 2, Ulubelu Low Pressure, Ulubelu Extension (Gunung Tiga), serta Lumut Balai Low Pressure Unit 1 dan 2. Pengembangan proyek-proyek tersebut menjadi bagian dari upaya PGE menambah kapasitas pembangkit secara bertahap.
2. Mempercepat lima proyek berkapasitas 105 MW

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi (Dok. Prajna) Selain menyiapkan 12 proyek, PGE juga mengakselerasi lima proyek dengan total kapasitas 105 MW. Kelima proyek tersebut sebelumnya dijadwalkan beroperasi setelah 2028. Percepatan dilakukan dengan mengoptimalkan tahapan pengembangan proyek, termasuk menjalankan sejumlah kegiatan teknis secara paralel. Tahapan tersebut mencakup penyelesaian studi teknis, pengeboran dan pengujian sumur, hingga persiapan konstruksi.
PGE juga mendorong penyelesaian aspek komersial dan pembiayaan, termasuk kepastian Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (Power Purchase Agreement/PPA). Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi mengatakan, percepatan tahapan kritis proyek diperlukan agar tambahan kapasitas pembangkit dapat direalisasikan sesuai target.
"Langkah ini menjadi penting karena proyek panas bumi tidak hanya membutuhkan kesiapan teknis, tetapi juga kepastian kontrak penjualan dan pendanaan sebelum pembangkit dapat beroperasi," ujar Edwil Suzandi dalam siaran pers.
3. Mengandalkan kinerja operasional dan keuangan untuk mendukung ekspansi

PGE area Hululais (Dok. Prajna) Percepatan proyek panas bumi membutuhkan dukungan operasional dan keuangan. Hingga kuartal III 2026, PGE mencatatkan sejumlah pertumbuhan kinerja yang menjadi salah satu penopang rencana ekspansi. Sepanjang Januari–September 2026, produksi energi perusahaan mencapai 4.114 gigawatt hour (GWh), meningkat 9,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi operasional, PGE mencatatkan Availability Factor sebesar 98,51 persen dan Forced Outage Rate sebesar 0,21 persen. Sementara itu, pendapatan perusahaan mencapai 352,20 juta dolar AS atau tumbuh 10,46 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Laba bersih meningkat 21,45 persen menjadi 126,62 juta dolar AS. EBITDA PGE juga tumbuh 15,58 persen menjadi 287,77 juta dolar AS. Adapun kas dan setara kas tercatat sebesar 713,68 juta dolar AS, sedangkan total liabilitas turun 3,37 persen menjadi 955,55 juta dolar AS.
Selain mengembangkan proyek untuk mengejar target 1 GW, PGE juga memiliki portofolio pengembangan panas bumi dengan total potensi hingga 3 GW. Portofolio tersebut mencakup proyek yang telah memperoleh PPA maupun Perjanjian Jual Beli Uap (Steam Sales Contract/SSC), serta pengembangan melalui optimalisasi aset yang sudah beroperasi (brownfield) dan pengembangan wilayah baru (greenfield). Dengan berbagai proyek tersebut, PGE menargetkan peningkatan kapasitas terpasang secara bertahap hingga 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2033. Realisasi target tersebut akan bergantung pada penyelesaian tahapan teknis, kesiapan pembiayaan, serta kepastian aspek komersial setiap proyek.

















![[QUIZ] Tebak Nama Mata Uang Asia Tenggara, Yakin Bisa?](https://image.idntimes.com/post/20241117/18879-68854c3f6876b62c6c0e179f8d1fe608.jpg)




