Peretasan terhadap Binance pada 29 Oktober 2026 menjadi salah satu pencurian terbesar dalam sejarah industri kripto. Serangan tersebut menyebabkan aset digital senilai sekitar US$6,34 miliar berpindah dari dompet yang dikelola bursa kripto tersebut. Investigasi Binance menemukan bahwa pelaku menggunakan berbagai cara, mulai dari perangkat lunak berbahaya hingga wawancara kerja palsu untuk menyusup ke sistem internal perusahaan.
Cara Hacker Bobol Binance, AI Coding Tool hingga Fake Interview

- Peretasan Binance pada 29 Oktober 2026 memindahkan aset digital sekitar US$6,34 miliar setelah pelaku menyusup berbulan-bulan melalui perangkat dan akun engineer.
- Pelaku memakai installer Homebrew yang dimodifikasi untuk AI coding tool, lalu menjebak engineer lain lewat wawancara kerja palsu dan repositori kode bermalware.
- Kredensial curian dipakai mengakses sistem otorisasi transaksi dompet; Binance melacak, membekukan, dan hingga 31 Oktober mengklaim memulihkan 98% token terdampak.
Serangan ini berlangsung selama beberapa bulan dan melibatkan sejumlah perangkat milik karyawan Binance. Pelaku tidak langsung membobol sistem transaksi, tetapi terlebih dahulu mengumpulkan informasi dan mendapatkan akses melalui perangkat para engineer. Berikut empat tahapan utama yang menjelaskan bagaimana cara hacker bobol Binance.
1. Peretas menyusup melalui perangkat AI coding tool

ilustrasi seorang hacker (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Rangkaian serangan mulai terdeteksi pada Juni 2026 ketika seorang engineer dari tim pengembangan dompet Binance mengunduh installer Homebrew yang telah dimodifikasi. Homebrew merupakan perangkat pengelola paket perangkat lunak yang membantu pengguna Mac mengunduh dan memasang berbagai aplikasi melalui perintah tertentu. Installer tersebut digunakan untuk memasang perangkat AI yang membantu pekerjaan pemrograman, tetapi ternyata telah disusupi komponen berbahaya.
Binance mendeteksi aktivitas mencurigakan tersebut dan langsung mengganti perangkat engineer serta memperbarui kredensial yang berkaitan dengan aksesnya. Kredensial merupakan informasi autentikasi seperti kata sandi, token, atau kunci akses yang digunakan untuk masuk ke sistem perusahaan. Namun, pelaku diduga telah memperoleh informasi mengenai posisi engineer tersebut dan rekan kerjanya yang menangani infrastruktur dompet Binance.
2. Wawancara kerja palsu digunakan untuk menjebak engineer

ilustrasi wawancara kerja (freepik.com/Drazen Zigic) Pada September 2026, pelaku menghubungi engineer Binance lainnya melalui platform pencarian kerja dengan menyamar sebagai direktur proyek. Pelaku kemudian mengatur dua tahap wawancara untuk membangun kepercayaan korban terhadap perusahaan fiktif tersebut. Pada wawancara pertama, seseorang yang mengaku sebagai staf sumber daya manusia bahkan melakukan panggilan video dan membagikan akun media sosial berisi foto pribadi.
Tahap berikutnya melibatkan seseorang yang mengaku sebagai CEO perusahaan tersebut melalui aplikasi pesan. Orang itu meminta engineer mengunduh sebuah repositori kode yang diklaim sebagai tugas teknis untuk proses rekrutmen. File tersebut ternyata mengandung malware, yaitu perangkat lunak berbahaya yang dapat menjalankan perintah tanpa izin dan mengirimkan informasi dari perangkat korban kepada pelaku.
3. Peretas memanfaatkan perangkat internal dan kredensial karyawan

ilustrasi seseorang yang sedang bekerja (pexels.com/ThisIsEngineering) Pada 20 Oktober 2026, pelaku menggunakan perangkat yang telah disusupi untuk mengakses komputer dua engineer lain yang menangani pengembangan dompet Binance. Serangan tersebut juga melibatkan sebuah perangkat AI internal yang digunakan perusahaan, meskipun Binance tidak mengungkapkan seluruh detail teknis pemanfaatannya. Melalui rangkaian akses tersebut, pelaku memperoleh kredensial yang kemudian digunakan untuk menyusup lebih jauh ke infrastruktur dompet.
Salah satu teknik yang digunakan pelaku adalah code obfuscation, yaitu metode menyamarkan struktur kode agar aktivitas berbahaya lebih sulit dikenali. Pelaku juga menggunakan teknik untuk menghindari deteksi perangkat keamanan dan menghapus jejak aktivitasnya. Binance menyebut malware tersebut memiliki kemampuan yang belum dikenali oleh perangkat keamanan saat serangan berlangsung atau dikenal sebagai zero-day malware.
4. Akses ke sistem otorisasi dompet memungkinkan pencurian aset

Binance (unsplash.com/Vadim Art) Pada 29 Oktober 2026, pelaku menggunakan kredensial yang telah dicuri untuk menjalankan skrip berbahaya dan mengakses sistem yang mengatur persetujuan transaksi dompet Binance. Sistem tersebut berkaitan dengan layanan penandatanganan transaksi atau wallet signing, yaitu mekanisme yang memberikan otorisasi digital sebelum aset kripto dipindahkan. Setelah memperoleh akses, pelaku dapat menjalankan transfer aset tanpa melalui prosedur penarikan normal yang seharusnya berlaku.
Binance mencatat bahwa aset digital senilai sekitar US$6,34 miliar terdampak dalam insiden tersebut. Perusahaan kemudian bekerja sama dengan penerbit token, penegak hukum, dan mitra analisis blockchain untuk melacak serta membekukan aset hasil pencurian. Hingga 31 Oktober 2026, Binance menyatakan telah memulihkan 98 persen aset token yang terdampak dan menyiapkan dana lebih dari 100 persen untuk menanggung kerugian pengguna.
Cara hacker bobol Binance menunjukkan bahwa serangan siber terhadap perusahaan kripto dapat dimulai dari perangkat karyawan, bukan hanya dari kelemahan sistem transaksi. Penggunaan perangkat lunak yang dimodifikasi, wawancara kerja palsu, dan pencurian kredensial membuat pelaku mampu menembus beberapa lapisan keamanan perusahaan. Insiden ini juga menjadi pengingat bahwa keamanan teknologi AI dan proses perekrutan karyawan perlu mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan perlindungan aset digital.





















