Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mau Buka Usaha Jastip Hand Carry? Kenali Dulu Risikonya
ilustrasi jastip (pexels.com/MART PRODUCTION)
  • Barang jastip berstatus nonpribadi dan dapat dikenai bea masuk 10 persen, PPN, serta PPh; biaya kepabeanan perlu dihitung sebelum menetapkan harga.
  • Kesalahan varian, keterbatasan kapasitas dan berat koper, serta risiko kerusakan selama perjalanan dapat memicu komplain dan menggerus keuntungan.
  • Produk seperti kosmetik, obat, suplemen, dan makanan tertentu bisa memiliki persyaratan khusus masuk Indonesia, sehingga aturan perlu dicek sebelum membuka pesanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjadi jasa titip beli barang dari luar negeri memang kelihatannya menguntungkan. Sekali jalan, koper yang tadinya cuma berisi barang pribadi bisa sekalian membawa pesanan orang lain, lalu dari setiap barang kamu mendapatkan biaya jasa.

Namun, urusan jastip gak berhenti setelah barang berhasil dibeli dan masuk ke koper. Kalau kamu sedang kepikiran buka usaha jastip hand carry, kenali dulu beberapa risikonya supaya gak salah menghitung keuntungan. Simak, yuk!

1. Barang jastip gak mendapat fasilitas barang pribadi

ilustrasi jastip (pexels.com/cottonbro studio)

Barang yang kamu bawa untuk pelanggan punya perlakuan berbeda dengan barang yang memang kamu beli untuk dipakai sendiri. Bea Cukai memasukkan barang jastip sebagai barang nonpribadi sehingga fasilitas pembebasan bea masuk berlaku sampai nilai FOB 500 dolar Amerika. Berdasarkan PMK 34 Tahun 2025 yang berlaku sejak 6 Juni 2025, barang nonpribadi dikenakan bea masuk 10 persen, PPN, serta PPh sesuai ketentuan yang berlaku.

Hitungan harga jastip pun gak cukup hanya dari harga barang di negara asal ditambah ongkos jasa. Kamu perlu memasukkan kemungkinan pungutan kepabeanan tersebut sebelum menentukan harga untuk pelanggan. Kalau perhitungannya baru dilakukan setelah sampai di Indonesia, keuntungan yang awalnya terlihat besar bisa ternyata jauh lebih kecil.

2. Salah varian bisa bikin kamu harus berurusan dengan pelanggan

ilustrasi membeli oleh-oleh (pexels.com/iMin Technology)

Kesalahan kecil saat membeli barang bisa menjadi masalah ketika pesanan sudah dibayar dan dibawa pulang. Misalnya, pelanggan meminta warna tertentu, tetapi kamu justru mengambil varian lain karena kemasannya mirip atau stok di toko berubah. Kesalahan seperti ini bisa membuat pelanggan meminta penukaran atau mempertanyakan barang yang mereka terima.

Karena itu, pesanan sebaiknya dicatat sedetail mungkin sebelum kamu berangkat. Tulis nama produk, ukuran, warna, varian, jumlah, sampai foto barang yang diminta supaya gak terjadi salah ambil ketika belanja. Bukti pembelian juga perlu disimpan karena bisa menjadi acuan kalau ada perbedaan antara pesanan dan barang yang kamu bawa pulang.

3. Kapasitas koper bisa membatasi jumlah pesanan

ilustrasi packing (pexels.com/Vlada Karpovich)

Koper punya kapasitas yang terbatas, sementara jumlah pesanan bisa bertambah dengan cepat ketika kamu membuka open order. Beberapa produk juga memakan tempat lebih besar daripada perkiraan, terutama sepatu, tas, kemasan besar, atau barang yang masih menggunakan kotak. Pada titik tertentu, kamu harus memilih antara menerima pesanan tambahan dan menjaga agar koper tetap berada dalam batas bagasi.

Masalahnya bukan hanya soal muat atau gak muat. Berat koper yang melewati jatah bagasi maskapai bisa membuat kamu harus membayar excess baggage, sehingga biaya perjalanan ikut bertambah. Sebelum menerima banyak pesanan, hitung berat barang, jatah bagasi, dan ruang yang masih tersedia supaya tambahan order gak malah menggerus keuntungan.

4. Barang bisa rusak selama perjalanan

ilustrasi rusak (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Barang yang aman ketika masih berada di rak toko belum tentu sampai ke pelanggan dalam kondisi yang sama. Botol bisa pecah atau bocor, kotak bisa penyok, dan barang tertentu bisa rusak karena tertindih selama berada di dalam koper. Risiko tersebut semakin perlu diperhatikan kalau kamu membawa kosmetik, makanan, barang dari kaca, atau produk dengan kemasan yang mudah rusak.

Cara mengemas barang juga perlu disesuaikan dengan jenisnya, bukan sekadar memasukkannya ke koper setelah selesai berbelanja. Barang pecah-belah perlu diberi perlindungan tambahan, sedangkan cairan sebaiknya ditempatkan dalam kemasan yang mencegah kebocoran mengenai barang lain. Kamu juga perlu menentukan sejak awal bagaimana ketentuan penggantian barang kalau pesanan rusak atau hilang selama perjalanan.

5. Ada barang yang memerlukan ketentuan khusus

ilustrasi jastip (unsplash.com/Karsten Winegeart)

Gak semua barang yang bebas dibeli di luar negeri otomatis bisa dibawa masuk ke Indonesia tanpa persyaratan. Sejumlah produk termasuk kategori larangan dan pembatasan atau lartas, sehingga ada ketentuan khusus yang harus dipenuhi ketika barang tersebut masuk ke Indonesia. Aturan ini tetap perlu diperhatikan untuk barang jastip karena statusnya bukan barang pribadi penumpang.

Kosmetik, obat, suplemen, makanan tertentu, dan beberapa jenis produk lainnya perlu dicek terlebih dahulu sebelum kamu memasukkannya ke daftar pesanan. Jangan sampai pelanggan sudah membayar dan barang sudah dibeli, tetapi kamu baru mengetahui bahwa produk tersebut memiliki persyaratan khusus ketika hendak masuk Indonesia. Untuk jastip yang ingin dijalankan secara rutin, mengecek aturan barang sebelum membuka open order jauh lebih aman daripada mencari tahu setelah koper penuh.

Buka usaha jastip hand carry memang bisa menjadi pemasukan tambahan ketika kamu sedang bepergian ke luar negeri. Namun, keuntungan yang kamu dapat bukan cuma soal selisih harga barang dan biaya jasa karena masih ada ongkos bagasi, kepabeanan, serta risiko selama perjalanan yang ikut memengaruhi hitungan. Sebelum mengunggah daftar open order, pastikan semua biaya dan ketentuannya sudah kamu hitung dengan jelas.

Referensi

"Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 203/PMK.04/2017 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Barang yang Dibawa Oleh Penumpang dan Awak Sarana Pengangkut." BPK RI. Diakses pada September 2026.

"Starting a Business as a Personal Shopper." Entrepreneur. Diakses pada September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article