Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Hal yang Perlu Dipertimbangkan sebelum Membeli Saham IPO

ilustrasi trading saham
ilustrasi trading saham (pexels.com/Artem Podrez)
Intinya sih...
  • Memahami bisnis dan model pendapatan perusahaan
  • Membaca dokumen prospektus dengan cermat
  • Menilai harga penawaran dan valuasi
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Saham IPO (Initial Public Offering) atau dalam Bahasa Indonesia disebut Penawaran Umum Perdana adalah proses di mana perusahaan swasta menjual sahamnya ke publik untuk pertama kali di bursa efek. Lewat proses ini, perusahaan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk ikut memiliki sebagian bisnisnya. Karena statusnya masih baru di bursa, saham IPO sering menarik perhatian banyak orang.

Banyak orang tergoda membeli saham perdana tanpa benar benar memahami bisnis di baliknya. Mengingat risiko yang tetap tinggi, ada beberapa hal penting yang perlu dipikirkan matang sebelum ikut membeli saham perdana. Berikut beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli saham IPO.

1. Memahami bisnis dan model pendapatan perusahaan

ilustrasi membuat rencana investasi
ilustrasi membuat rencana investasi (pexels.com/Yan Krukau)

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah bisnis inti perusahaan yang akan IPO. Penting memahami dari mana perusahaan memperoleh pendapatan dan seberapa berkelanjutan sumber tersebut ke depannya. Bisnis yang terlihat populer belum tentu memiliki arus kas yang kuat atau stabil dalam jangka panjang. Tren sesaat sering membuat sebuah usaha tampak menarik di permukaan.

Selain itu, perlu dilihat apakah produk atau layanan perusahaan benar benar dibutuhkan pasar dalam jangka panjang. Banyak perusahaan teknologi misalnya memiliki jumlah pengguna besar, tetapi belum mampu menghasilkan laba yang konsisten. Tanpa pemahaman model bisnis yang jelas, membeli saham IPO bisa berubah menjadi spekulasi semata dan berisiko tinggi.

2. Membaca dokumen prospektus dengan cermat

ilustrasi membaca dokumen
ilustrasi membaca dokumen (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Prospektus adalah dokumen resmi yang berisi penjelasan lengkap tentang perusahaan yang akan melepas saham ke publik. Dokumen ini sering diabaikan karena dianggap terlalu panjang dan sulit dipahami. Padahal prospektus memuat informasi penting tentang kondisi keuangan, rencana penggunaan dana, serta berbagai risiko bisnis yang mungkin dihadapi perusahaan.

Dengan membaca prospektus, kita dapat melihat apakah dana hasil IPO akan digunakan untuk ekspansi yang sehat atau sekadar menutup utang lama. Informasi mengenai manajemen dan struktur kepemilikan juga tercantum dengan jelas. Hal ini membantu menilai keseriusan, keterbukaan, dan arah bisnis perusahaan ke depan secara lebih objektif.

3. Menilai harga penawaran dan valuasi

ilustrasi seorang investor
ilustrasi seorang investor (pexels.com/Kampus Production)

Harga saham saat IPO tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya dari perusahaan. Dalam beberapa kasus, harga sudah dipatok cukup tinggi karena ekspektasi pasar yang terlalu optimistis. Jika harapan tersebut tidak tercapai, harga saham bisa turun setelah mulai diperdagangkan. Kondisi ini sering mengejutkan investor pemula yang belum siap menghadapi pergerakan tajam.

Menilai kewajaran harga menjadi penting agar tidak membeli di harga yang terlalu mahal. Membandingkan dengan perusahaan sejenis dapat memberi gambaran kasar tentang skala bisnis, pendapatan, dan potensi pertumbuhannya. Pendekatan ini membantu menghindari keputusan emosional yang hanya didorong rasa takut ketinggalan dan ikut ikutan tren sesaat di pasar.

4. Memperhatikan sentimen pasar dan periode lock up

ilustrasi pergerakan harga
ilustrasi pergerakan harga (unsplash.com/Maxim Hopman)

Pergerakan awal saham IPO sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar secara umum. Jika kondisi pasar sedang lesu atau penuh ketidakpastian, saham bagus sekalipun bisa ikut tertekan. Sebaliknya, antusiasme berlebihan juga dapat membuat harga melonjak cepat tanpa didukung kinerja perusahaan. Kondisi ini sering memicu fluktuasi tajam di awal perdagangan.

Selain itu, penting memahami periode lock up bagi pemegang saham lama. Lock up adalah masa ketika pemilik awal saham tidak boleh menjual kepemilikannya. Setelah masa ini berakhir, sebagian pemegang saham bisa mulai menjual untuk mengambil keuntungan. Situasi ini berpotensi menambah tekanan jual dan memengaruhi pergerakan harga dalam beberapa bulan pertama.

Membeli saham IPO sebaiknya tidak dilakukan secara terburu buru. Setiap keputusan perlu didasarkan pada pemahaman bisnis, harga, dan kondisi pasar. Fokus utama tetap pada kualitas perusahaan, bukan sensasi sesaat. Dengan memperhatikan hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli saham IPO, instrumen ini bisa menjadi bagian dari strategi investasi jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Business

See More

BRI dan Kemenpora Gelar Program Literasi Keuangan bagi Para Atlet

09 Jan 2026, 10:40 WIBBusiness