Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga BBM Naik, Berapa Dana Darurat yang Ideal untuk Milenial?
ilustrasi menyimpan dana darurat (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
  • Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250/liter sejak 10 Juni membuat biaya hidup meningkat, sehingga dana darurat jadi semakin penting untuk menjaga kestabilan finansial milenial.
  • Perencana keuangan menyarankan dana darurat 3–6 kali pengeluaran bulanan bagi milenial lajang dan 6–12 kali bagi yang sudah menikah agar siap menghadapi lonjakan biaya.
  • Dana darurat sebaiknya disimpan di tempat mudah diakses namun terpisah dari rekening harian, serta diprioritaskan sebelum menambah pengeluaran gaya hidup.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Belakangan ini masyarakat kembali dihadapkan pada kenaikan biaya hidup setelah adanya penyesuaian harga bahan bakar. Salah satu yang cukup menyita perhatian adalah harga Pertamax yang naik menjadi Rp 16.250/liter mulai 10 Juni, sehingga biaya transportasi harian bagi pengguna kendaraan pribadi ikut meningkat.

Dalam situasi seperti ini, dana darurat menjadi salah satu fondasi keuangan yang semakin penting. Dana darurat setiap orang bisa berbeda-beda, tergantung kebutuhan dan kondisi finansialnya. Supaya tidak salah menentukan target, penting untuk memahami cara menghitung dana darurat yang sesuai dengan kondisi keuangan masing-masing. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Mengapa dana darurat semakin penting saat harga BBM naik?

ilustrasi menghitung uang (pexels.com/www.kaboompics.com)

Kenaikan harga BBM biasanya tidak hanya memengaruhi biaya mengisi bahan bakar kendaraan. Efeknya bisa merambat ke berbagai kebutuhan lain seperti ongkos transportasi umum, harga bahan makanan, biaya logistik, hingga tarif layanan tertentu. Akibatnya, pengeluaran bulanan bisa bertambah tanpa disadari.

Ketika harga BBM naik, banyak milenial mungkin perlu mengalokasikan anggaran lebih besar untuk mobilitas sehari-hari. Di sinilah dana darurat berperan sebagai bantalan keuangan agar kondisi finansial tidak langsung terganggu ketika terjadi lonjakan pengeluaran.

2. Berapa dana darurat ideal untuk milenial lajang?

ilustrasi kaum milenial yang berkumpul bersama (pexels.com/Vitaly Gariev)

Secara umum, perencana keuangan menyarankan dana darurat sebesar 3 hingga 6 kali pengeluaran bulanan bagi seseorang yang masih lajang. Misalnya, jika total kebutuhan bulanan mencapai Rp5 juta, maka dana darurat ideal berkisar antara Rp15 juta hingga Rp30 juta.

Angka tersebut bertujuan memberikan ruang bernapas apabila terjadi situasi yang memengaruhi pendapatan atau meningkatkan pengeluaran secara tiba-tiba. Di tengah kondisi harga BBM naik, memiliki dana cadangan dalam jumlah tersebut dapat membantu menjaga stabilitas keuangan tanpa harus berutang.

3. Bagaimana dengan milenial yang sudah menikah?

ilustrasi keluarga yang berkumpul bersama (pexels.com/Vlada Karpovich)

Bagi pasangan yang sudah menikah, kebutuhan finansial biasanya lebih kompleks karena mencakup kebutuhan pasangan dan mungkin juga anak. Oleh karena itu, dana darurat yang disarankan umumnya berkisar antara 6 hingga 12 kali pengeluaran bulanan keluarga.

Sebagai contoh, jika pengeluaran rumah tangga mencapai Rp8 juta per bulan, maka target dana darurat dapat berada di kisaran Rp48 juta hingga Rp96 juta. Jumlah ini memang terlihat besar, tetapi dapat dibangun secara bertahap sesuai kemampuan finansial masing-masing.

4. Cara menghitung dana darurat dengan mudah

ilustrasi menghitung harga jual (pexels.com/www.kaboompics.com)

Langkah pertama adalah mencatat seluruh pengeluaran wajib setiap bulan, seperti cicilan, biaya transportasi, makan, listrik, internet, dan kebutuhan pokok lainnya. Fokuslah pada kebutuhan esensial yang harus tetap dipenuhi meskipun kondisi keuangan sedang tidak ideal.

Setelah mendapatkan total pengeluaran bulanan, kalikan dengan jumlah bulan yang menjadi target dana darurat. Metode sederhana ini membantu menentukan angka yang lebih realistis dibanding sekadar menebak-nebak berapa banyak uang yang perlu disimpan.

5. Di mana sebaiknya menyimpan dana darurat?

ilustrasi menghitung uang (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Dana darurat harus mudah diakses saat dibutuhkan, tetapi tetap terpisah dari rekening harian agar tidak mudah digunakan untuk kebutuhan konsumtif. Banyak orang memilih menyimpannya di tabungan khusus atau instrumen keuangan dengan risiko rendah.

Hindari menempatkan seluruh dana darurat pada instrumen yang sulit dicairkan dalam waktu singkat. Tujuan utama dana ini bukan mengejar keuntungan besar, melainkan memastikan ketersediaan dana ketika keadaan mendesak terjadi.

6. Prioritaskan dana darurat sebelum menambah gaya hidup

ilustrasi seorang pria yang menghitung uang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Ketika pendapatan meningkat, tidak sedikit orang yang langsung menambah pengeluaran untuk gaya hidup. Padahal, kondisi ekonomi yang tidak menentu menunjukkan bahwa memiliki cadangan keuangan jauh lebih penting daripada sekadar meningkatkan konsumsi.

Dengan kabar kenaikan BBM ini, milenial perlu lebih bijak dalam mengelola keuangan. Membangun dana darurat secara konsisten dapat menjadi langkah sederhana namun sangat berharga untuk menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan.

Kenaikan biaya hidup sering kali datang tanpa banyak peringatan, dan dampaknya bisa terasa pada berbagai aspek keuangan rumah tangga. Karena itu, memiliki dana darurat yang memadai bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang penting untuk menjaga keamanan finansial.

Di tengah kondisi kenaikan harga BBM ini, dana darurat dapat menjadi pelindung pertama ketika kondisi ekonomi berubah. Semakin cepat mulai membangunnya, semakin besar pula ketenangan yang bisa dirasakan saat menghadapi ketidakpastian di masa mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article