Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kelangkaan Dolar di Venezuela Paksa Pengusaha Gunakan Kripto

Kelangkaan Dolar di Venezuela Paksa Pengusaha Gunakan Kripto
Bendera Venezuela (pixabay.com/DavidRockDesign)
Intinya Sih
  • Krisis kelangkaan dolar di Venezuela membuat pelaku UKM kesulitan mengimpor bahan baku, memicu kenaikan harga produk dan mengancam ketersediaan kebutuhan pokok seperti obat-obatan.
  • Pengusaha farmasi terpaksa membeli dolar di pasar gelap dengan biaya tinggi, menyebabkan lonjakan harga obat dan risiko kebangkrutan akibat inflasi ekstrem serta keterbatasan modal kerja.
  • Banyak pengusaha beralih ke mata uang kripto untuk transaksi impor demi menghindari birokrasi dan sanksi internasional, meski tetap menghadapi risiko keamanan digital dan ketidakpastian regulasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Krisis kelangkaan dolar Amerika Serikat (AS) di Venezuela kini mencapai tahap kritis. Kondisi ini memaksa pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mengambil langkah ekstrem demi menjaga operasional perusahaan. Akibat sulitnya mengakses dolar di pasar resmi, para pengusaha mulai beralih ke mata uang kripto dan menaikkan harga produk secara signifikan guna menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Situasi ini mencerminkan kegagalan pemerintah dalam mengelola alokasi keuangan negara. Kebijakan yang ada justru membatasi ruang gerak industri manufaktur domestik dan mengancam ketersediaan kebutuhan pokok, terutama obat-obatan esensial. Hal ini terjadi karena rantai pasok impor bahan baku terputus akibat sulitnya akses terhadap valuta asing yang stabil.

1. Krisis dolar di Venezuela ancam produksi obat dan kelangsungan usaha menengah

ilustrasi kripto
ilustrasi kripto (pexels.com/Worldspectrum)

Sektor farmasi menjadi salah satu yang terdampak paling parah. Seorang pemilik pabrik farmasi di pusat Venezuela mengaku kesulitan mendapatkan dolar untuk mengimpor bahan baku obat-obatan dasar. Meski pemerintah menjanjikan perbaikan sistem, birokrasi dinilai lebih memihak perusahaan besar di sektor pangan.

Pengusaha yang enggan disebutkan identitasnya ini mengungkapkan bahwa permohonan lelang resminya telah ditolak tiga kali oleh otoritas perbankan tanpa alasan jelas. Ketidakpastian nilai tukar juga membuat perencanaan bisnis menjadi mustahil karena biaya stok ulang bahan baku tidak dapat diprediksi.

"Kami kesulitan menghitung biaya stok barang karena ketidakpastian akses dan nilai tukar valuta asing. Sementara itu, pendapatan Bolivar terus tergerus inflasi padahal produksi harus tetap berjalan," ujar pengusaha tersebut, dilansir dari Tribune.

Data dari asosiasi manufaktur swasta, Conindustria, menunjukkan bahwa sekitar 58 persen pemilik bisnis menengah menganggap kelangkaan dolar sebagai hambatan utama produksi.

Kondisi ini diperparah oleh sanksi internasional yang memutus akses perbankan Venezuela dari sistem keuangan global. Dana hasil ekspor minyak yang menjadi sumber utama devisa pun terhambat. Analis keuangan mencatat volume dolar yang dilelang pada awal 2026 turun 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan total hanya sekitar 1,3 miliar dolar AS (Rp21,95 triliun).

2. Pengusaha farmasi Venezuela tercekik pasar gelap dan ancaman kebangkrutan

bendera Vietnam (unsplash.com/erika m)
bendera Vietnam (unsplash.com/erika m)

Ketidakmampuan mendapatkan dolar melalui jalur resmi memaksa pengusaha farmasi mencari alternatif di pasar gelap. Tingginya biaya valuta asing di pasar ilegal menyebabkan lonjakan biaya produksi bahan kimia esensial, yang akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga obat.

Presiden Conindustria, Luigi Pisella, menjelaskan bahwa beban tambahan dari fluktuasi valas dan pajak langsung telah menggerus modal kerja perusahaan.

"Apa pun pajak tambahan yang dibayarkan akan berasal dari modal kerja," kata Pisella.

Modal yang terbatas membuat pabrik tidak mampu melakukan investasi ulang atau menjaga kapasitas produksi optimal. Akibatnya, stok obat di pasar menurun sementara harga melambung tinggi di tengah proyeksi inflasi tahun 2026 yang mencapai 600 persen.

Secara historis, keterpurukan ini berakar pada kebijakan pengambilan alih aset swasta sejak 2004 dan ketergantungan berlebih pada komoditas minyak. Saat produksi minyak nasional turun di bawah 2 juta barel per hari, kemampuan negara menghasilkan devisa semakin terbatas, meninggalkan industri lokal dalam posisi yang sangat rentan.

3. Pengusaha Venezuela andalkan kripto untuk impor bahan baku obat

Sebagai solusi atas kegagalan sistem perbankan tradisional, banyak pebisnis di Venezuela kini mengandalkan mata uang kripto untuk transaksi impor. Penggunaan Bitcoin dan stablecoin dianggap sebagai cara paling praktis untuk menghindari birokrasi lelang yang tidak transparan serta sanksi internasional.

Dengan aset digital, pengusaha dapat langsung membayar pemasok di luar negeri tanpa melalui bank lokal. Strategi ini memungkinkan pabrik farmasi tetap beroperasi meskipun terisolasi dari sistem keuangan dunia.

Di tengah ketidakpastian politik tahun 2026, teknologi blockchain dipandang sebagai jalur yang relatif bebas dari kontrol pemerintah. Meskipun terdapat kunjungan diplomatik dari pejabat AS, Doug Burgum, pada Maret 2026 yang memberi harapan pemulihan ekonomi, kenyataan di lapangan tetap pahit bagi para pengusaha.

Meski efektif, penggunaan kripto tetap memiliki risiko teknis dan keamanan. Banyak pengusaha mengandalkan platform pihak ketiga, yang rentan terhadap serangan siber dan perubahan regulasi internasional. Namun, bagi pemilik pabrik di Venezuela, risiko tersebut dianggap lebih kecil dibandingkan risiko penutupan total usaha akibat ketiadaan bahan baku.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More