Rupiah Meroket ke Rp17.755, Kabar Selat Hormuz Jadi Pendorongnya

- Rupiah menguat 142 poin atau 0,79 persen ke level Rp17.755 per dolar AS pada penutupan awal pekan.
- Harapan kesepakatan Iran dan Oman terkait pembukaan kembali Selat Hormuz disebut mendorong penguatan rupiah.
- Meredanya kekhawatiran inflasi energi dan turunnya peluang kenaikan suku bunga The Fed turut memicu sentimen positif.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (10/8/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang rupiah menguat sebanyak 142 poin atau 0,79 persen ke level Rp17.755 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya.
1. Muncul harapan kesepakatan Iran-Oman soal Selat Hormuz
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan penguatan rupiah didorong oleh munculnya harapan kesepakatan antara Iran dan Oman yang berujung pada potensi pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang melayani pengangkutan seperlima pasokan minyak dunia.
"Adanya harapan bahwa Iran dan Oman akan segera mencapai kesepakatan yang berujung pada pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya melayani pengangkutan seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang pecah," kata dia.
Meskipun Iran lmengonfirmasi kesepakatan dengan Oman sudah memasuki tahap akhir, mereka menegaskan jalur tersebut baru akan dibuka setelah AS memenuhi syarat-syarat lain, termasuk pemberian kompensasi dari AS kepada Iran atas serangan luas yang terjadi.
2. Meredanya kekhawatiran inflasi energi dan sinyal suku bunga The Fed
Ibrahim menyebut sentimen positif juga dipicu meredanya kekhawatiran inflasi energi yang membuat para pelaku pasar mengurangi taruhan terkait kenaikan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
"Apalagi, bersama dengan angka ketenagakerjaan yang lemah, hal ini semakin mengurangi ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang," ujar dia.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September kini merosot ke angka 42 persen, turun dari posisi 67 persen pada pekan lalu.
Lebih lanjut, dia menyebutkan pasar pekan ini menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) atau tingkat inflasi AS bulan Juli pada Rabu.
"Para ekonom memperkirakan inflasi akan sedikit menurun dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen secara tahunan, dengan CPI Inti juga turun dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen secara tahunan," tuturnya.
3. Rupiah diprediksi lanjut menguat lawan dolar AS pada Selasa
Ibrahim menyampaikan pada perdagangan hari ini, nilai tukar mata uang Garuda sempat tercatat menguat hingga 145 poin sebelum akhirnya parkir dan ditutup menguat 142 poin di level Rp17.755 per dolar AS.
Sementara itu, untuk perdagangan Selasa (10/8/2026) Ibrahim memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah masih akan berlangsung fluktuatif, tetapi berpotensi kembali ditutup menguat pada kisaran rentang Rp17.700 hingga Rp17.750 per dolar AS.





















