Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Patokan Utang Sehat vs Berbahaya yang Wajib Diketahui Sekarang Ini

5 Patokan Utang Sehat vs Berbahaya yang Wajib Diketahui Sekarang Ini
ilustrasi utang (freepik.com/teksomolika)
Intinya Sih
  • Artikel menjelaskan lima patokan utama untuk menilai apakah utang tergolong sehat atau berbahaya, mulai dari rasio cicilan terhadap penghasilan hingga dampaknya pada tujuan finansial jangka panjang.
  • Utang dianggap sehat jika rasio cicilan di bawah 36 persen, digunakan untuk aset produktif, dan tagihan selalu dibayar tepat waktu tanpa mengorbankan kebutuhan pokok.
  • Tanda utang berbahaya muncul saat digunakan untuk kebutuhan harian, sering telat bayar, atau mulai menghambat tabungan serta investasi masa depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Utang sering kali punya citra negatif, padahal gak selalu begitu, lho. Dalam kondisi tertentu, utang justru bisa membantumu mencapai tujuan besar, seperti membeli rumah atau membangun usaha.

Tantangannya, kamu perlu tahu kapan utang masih tergolong sehat dan kapan sudah mulai berbahaya bagi kondisi finansial. Hal ini penting karena beban utang rumah tangga terus naik, sementara bunga kartu kredit juga masih tinggi sehingga cicilan bisa terasa makin berat.

Bukan nominalnya saja yang jadi patokan, tapi juga kemampuanmu mengelolanya dari bulan ke bulan. Supaya gak terjebak dalam tekanan finansial jangka panjang, lima patokan berikut wajib kamu pahami sekarang juga.

1. Rasio cicilan terhadap penghasilan

ilustrasi gaji
ilustrasi gaji (vecteezy.com/Miftachul Huda)

Patokan paling umum untuk menilai sehat atau tidaknya utang adalah debt-to-income ratio atau DTI, yaitu perbandingan total cicilan bulanan dengan penghasilan kotor kamu. Secara umum, rasio 36 persen ke bawah masih dianggap aman karena kamu masih punya ruang untuk memenuhi kebutuhan hidup, menabung, dan menyiapkan dana darurat. Misalnya, kalau penghasilan kamu Rp10 juta per bulan, total cicilan idealnya gak lebih dari Rp3,6 juta.

Saat DTI naik melewati 43 persen, kondisi mulai masuk area waspada karena lembaga keuangan biasanya menilai angka ini sebagai risiko yang lebih tinggi. Jika sudah mencapai 50 persen atau lebih, artinya lebih dari separuh pemasukanmu habis untuk membayar kewajiban sebelum kebutuhan dasar terpenuhi. Situasi ini bisa membuat keuangan terasa sesak dan meningkatkan risiko gagal bayar di bulan-bulan berikutnya.

2. Jenis utang yang dimiliki

ilustrasi KPR
ilustrasi KPR (vecteezy.com/kwanchai chai-udom)

Bukan cuma jumlahnya, jenis utang juga sangat menentukan apakah kondisi finansialmu masih sehat atau mulai berbahaya. Utang seperti KPR rumah biasanya lebih aman karena terkait aset yang nilainya berpotensi meningkat seiring waktu. Selama cicilannya masih sesuai kemampuan, nominal besar pun belum tentu menjadi masalah.

Berbeda halnya dengan utang kartu kredit berbunga tinggi atau pinjaman konsumtif lain yang dipakai untuk kebutuhan gaya hidup. Secara umum, jenis utang ini lebih cepat menimbulkan tekanan karena bunganya terus bertambah setiap bulan. Nilai barang yang dibeli juga biasanya langsung habis dipakai, sehingga gak memberi manfaat finansial jangka panjang.

3. Kemampuan bayar tagihan tepat waktu

ilustrasi kartu kredit
ilustrasi kartu kredit (vecteezy.com/wichayada suwanachun)

Salah satu tanda utang masih sehat adalah kamu bisa membayar semua tagihan tepat waktu tanpa mengorbankan kebutuhan utama. Kalau cicilan, kartu kredit, atau tagihan pinjaman lain selalu lunas sebelum jatuh tempo, berarti arus kas bulananmu masih cukup stabil. Kondisi ini menunjukkan kamu masih memegang kendali atas kewajiban finansial.

Sebaliknya, kalau kamu mulai sering telat bayar, terkena denda, atau harus meminjam dari sumber lain untuk menutup cicilan, itu tanda kondisi sudah mulai berbahaya. Dalam banyak kasus, keterlambatan berulang menunjukkan jumlah kewajiban sudah melampaui kemampuan bayar. Selain bunga makin besar, skor kredit juga bisa ikut terdampak dan menyulitkan kamu saat butuh pinjaman baru.

4. Penggunaan utang untuk kebutuhan harian

ilustrasi belanja di supermarket (pexels.com/Jack Sparrow)
ilustrasi belanja di supermarket (pexels.com/Jack Sparrow)

Tujuan penggunaan utang juga jadi pembeda penting antara utang sehat dan berbahaya. Kalau utang dipakai untuk sesuatu yang terencana, seperti pendidikan, renovasi rumah, atau modal usaha, biasanya masih lebih mudah dikendalikan. Pengeluaran seperti ini punya arah yang jelas dan hasilnya bisa memberi manfaat dalam jangka panjang.

Kondisi perlu diwaspadai ketika kartu kredit atau pinjaman mulai dipakai untuk kebutuhan sehari-hari seperti belanja bulanan, bensin, atau makan. Secara umum, hal ini menunjukkan pemasukanmu sudah gak cukup untuk menopang pengeluaran rutin. Kalau terus berulang, kamu berisiko masuk ke siklus gali lubang tutup lubang yang makin sulit dihentikan.

5. Dampaknya terhadap tujuan masa depan

ilustrasi investasi
ilustrasi investasi (unsplash.com/Austin Distel)

Utang yang sehat seharusnya tetap memberi ruang untuk tujuan finansial jangka panjang. Selama kamu masih bisa menabung, berinvestasi, menyiapkan dana pensiun, atau mengumpulkan DP rumah, kondisi utangmu masih relatif aman. Artinya, kewajiban bulanan belum sampai mengorbankan masa depan.

Kalau utang mulai membuatmu menunda tabungan, membatalkan investasi, atau bahkan mengorbankan kebutuhan penting seperti kesehatan, itu tanda situasinya sudah berbahaya. Dalam banyak kasus, tekanan utang yang menghambat tujuan hidup menjadi sinyal bahwa kondisi finansial perlu segera dievaluasi. Semakin lama dibiarkan, semakin besar dampaknya terhadap kestabilan keuangan jangka panjang.

Pada akhirnya, gak ada angka nominal pasti yang langsung menentukan utang kamu sehat atau berbahaya. Semua kembali pada seberapa besar penghasilan, jenis kewajiban, dan kemampuan kamu membayarnya dengan nyaman. Lima patokan di atas bisa jadi cara sederhana untuk mengecek apakah kondisi utangmu masih aman atau mulai masuk zona bahaya.

Kalau cicilan terasa makin menekan, dipakai untuk kebutuhan harian, atau mulai menghambat tujuan masa depan, itu saatnya evaluasi strategi keuanganmu. Semakin cepat kamu menyadarinya, semakin besar peluang untuk memperbaiki kondisi sebelum berubah jadi masalah yang lebih serius.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More