Jakarta, IDN Times - Pengembangan usaha perempuan masih menghadapi tantangan dalam mengakses pembiayaan formal. Padahal, pemahaman terhadap karakteristik usaha, aktivitas bisnis, hingga pola arus kas perempuan dapat menjadi kunci bagi lembaga keuangan untuk merancang skema pembiayaan yang lebih tepat sasaran.
Women’s World Banking menilai, program kredit pemerintah perlu mempertimbangkan realitas usaha yang dijalankan perempuan. Pasalnya, pendekatan pembiayaan yang tidak mempertimbangkan karakteristik tersebut berpotensi membuat pelaku usaha perempuan dengan prospek bisnis yang layak justru kesulitan memperoleh akses keuangan formal.
Hal ini disampaikan dalam Seminar Internasional International Fora for Kredit Program Pemerintah 2026 yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Nusa Dua, Bali, pada 29 Oktober 2026. Forum tersebut membahas pengalaman dan pendekatan dalam pengembangan program kredit pemerintah bagi sektor produktif.
Regional Head for Southeast Asia Women’s World Banking, Angelique Timmer, menekankan bahwa layanan keuangan perlu dirancang berdasarkan kondisi kehidupan dan aktivitas bisnis perempuan agar mereka tidak hanya memperoleh akses pembiayaan, tetapi juga mampu mengembangkan usahanya.
Ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan untuk memperkuat pembiayaan bagi pelaku usaha perempuan.