Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Robert Kiyosaki Blak-Blakan Ungkap 5 Kebiasaan yang Bikin Sulit Kaya
potret Robert Kiyosaki (commons.wikimedia.org)
  • Robert Kiyosaki menilai kesulitan membangun kekayaan dipengaruhi penggunaan uang, terutama ketergantungan pada gaji, tabungan tanpa strategi investasi, serta pembelian barang mahal yang menguras arus kas.
  • Ia mendorong pembentukan aset produktif seperti properti sewaan, bisnis, saham dividen, dan royalti agar menghasilkan cash flow serta mengurangi ketergantungan penuh pada waktu kerja.
  • Kiyosaki menekankan pergeseran dari konsumen ke investor: pahami aset dan liabilitas, kelola utang, serta sesuaikan investasi dengan kondisi keuangan, tujuan, dan toleransi risiko.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di dunia keuangan, Robert Kiyosaki dikenal sebagai sosok yang tidak ragu menyampaikan pandangan secara blak-blakan. Penulis Rich Dad Poor Dad ini sering membagi kebiasaan finansial menjadi dua kelompok besar: mereka yang membangun kekayaan dan mereka yang justru terus mempertahankan pola keuangan yang membuat mereka sulit berkembang. Bahkan, untuk orang-orang yang dianggapnya terlalu mengikuti pola finansial konvensional, Kiyosaki tak segan menggunakan istilah yang cukup keras, yaitu “loser”.

Bagi Kiyosaki, persoalan utamanya bukan sekadar berapa besar penghasilan seseorang, melainkan bagaimana uang tersebut digunakan. Ia mendorong orang untuk memiliki aset yang dapat menghasilkan uang dalam jangka panjang, seperti properti yang menghasilkan pendapatan, bisnis, saham dengan dividen, hingga aset lainnya. Sebaliknya, ia cukup kritis terhadap kebiasaan mengandalkan gaji, menabung tanpa strategi investasi, atau membeli barang mahal yang nilainya terus menyusut.

Pandangan tersebut tentu tidak harus diterima mentah-mentah. Namun, ada satu gagasan utama yang menarik untuk diperhatikan: apakah uang yang kita miliki hanya digunakan untuk membiayai kehidupan, atau mulai diarahkan untuk menghasilkan lebih banyak uang?

Berikut beberapa kebiasaan finansial yang menurut Kiyosaki dilakukan oleh orang-orang yang ia sebut sebagai “loser”, seperti dikutip dari GoBankingRates.

1. Memilih jalur investasi yang tidak konvensional

Ilustrasi investasi (freepik.com)

Dalam sebuah video di YouTube, Kiyosaki kembali membahas prinsip-prinsip finansial yang pernah ia sampaikan melalui buku-bukunya dan mengaitkannya dengan perkembangan investasi terbaru, termasuk Bitcoin. Ia sendiri mendukung aset kripto, terutama ketika aset tersebut dibeli menggunakan hasil dari investasi yang sudah menghasilkan keuntungan.

Menurut Kiyosaki, salah satu pola finansial yang terlalu umum adalah sekolah, mendapatkan pekerjaan, bekerja keras, membayar pajak, menabung, lalu memasukkan uang ke dalam rekening pensiun seperti 401(k). Ia menganggap pola tersebut terlalu bergantung pada sistem konvensional.

Kiyosaki juga mengkritik kebiasaan membeli rumah besar, mobil mewah, atau barang mahal kemudian menyebut semuanya sebagai “aset”. Menurutnya, sesuatu yang justru menguras uang secara rutin lebih tepat disebut sebagai liability atau kewajiban finansial.

Dalam pandangannya, membeli Ferrari, Lamborghini, atau Rolls-Royce mungkin membuat seseorang terlihat kaya, tetapi jika kendaraan tersebut hanya menghasilkan biaya berupa cicilan, perawatan, pajak, dan kebutuhan lainnya, kendaraan itu tidak membantu membangun kekayaan.

Begitu pula dengan rumah. Secara finansial, rumah memang termasuk aset. Namun, Kiyosaki melihat persoalannya dari sisi arus kas. Rumah yang ditempati sendiri dapat membutuhkan biaya hipotek, pajak properti, asuransi, perawatan, dan berbagai pengeluaran lainnya. Selain itu, rumah bukanlah aset yang mudah dicairkan menjadi uang tunai dalam waktu singkat.

Karena itu, menurut pendekatan Kiyosaki, memiliki rumah sendiri tidak otomatis berarti seseorang sudah membangun kekayaan. Yang lebih penting adalah apakah aset tersebut benar-benar membantu meningkatkan kondisi keuangan dalam jangka panjang.

2. Mengutamakan cash flow, bukan sekadar gaji

Ilustrasi menghitung uang (freepik.com)

Bagi Kiyosaki, aset yang benar-benar produktif adalah aset yang secara konsisten memasukkan uang ke kantong pemiliknya. Contohnya, antara lain properti sewaan yang menghasilkan arus kas positif, bisnis yang memberikan keuntungan, saham yang membayar dividen, serta kekayaan intelektual yang menghasilkan royalti. Konsep sederhananya adalah cash flow.

Seseorang tidak hanya berusaha mendapatkan gaji yang lebih tinggi, tetapi juga membangun sumber pemasukan yang dapat terus menghasilkan uang tanpa harus selalu menukar waktu dengan pekerjaan.

Inilah yang menurut Kiyosaki menjadi salah satu jalan menuju kebebasan finansial: membangun sumber pendapatan pasif hingga jumlahnya mampu menutupi biaya hidup.

Memang, pendekatan Kiyosaki sering dianggap terlalu sederhana. Namun, prinsip dasarnya cukup mudah dipahami. Aset produktif memasukkan uang, sedangkan liabilitas mengambil uang. Dengan sudut pandang tersebut, seseorang dapat mulai mengevaluasi kembali berbagai keputusan finansialnya.

Misalnya, daripada hanya bertanya, “Berapa gaji yang saya dapatkan setiap bulan?”, seseorang juga bisa mulai bertanya, “Berapa banyak uang yang bisa masuk ke rekening saya tanpa saya harus bekerja lebih lama?”

Pertanyaan tersebut mengubah cara seseorang memandang uang. Fokusnya tidak lagi hanya pada menghemat pengeluaran, tetapi juga pada bagaimana meningkatkan pemasukan dan membangun sumber kekayaan baru.

3. Mengubah pola pikir dari konsumen menjadi investor

Ilustrasi investasi (freepik.com)

Terlepas dari apakah seseorang setuju dengan strategi Kiyosaki atau tidak, gagasan mengenai perubahan pola pikir dari konsumen menjadi investor tetap menarik untuk dipertimbangkan.

Kiyosaki memang memiliki banyak pengkritik. Beberapa orang menilai strateginya terlalu agresif, terutama dalam penggunaan utang dan investasi berisiko. Karena itu, prinsip-prinsipnya sebaiknya tidak diterapkan secara membabi buta tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan, toleransi risiko, dan tujuan masing-masing individu.

Namun, ada satu pelajaran yang cukup relevan: bekerja keras dan menabung saja belum tentu cukup untuk membangun kekayaan dalam jangka panjang.

Jika seluruh pemasukan seseorang hanya berasal dari pekerjaan dan sebagian besar uangnya kemudian habis untuk kebutuhan konsumsi, kemampuan finansialnya akan sangat bergantung pada gaji. Sebaliknya, ketika sebagian penghasilan mulai dialokasikan untuk aset yang berpotensi menghasilkan pendapatan atau mengalami pertumbuhan nilai, seseorang mulai membangun sumber kekayaan di luar pekerjaannya.

Dengan kata lain, persoalannya bukan apakah memiliki pekerjaan tetap atau rekening pensiun itu salah. Kiyosaki justru ingin menekankan bahwa seseorang sebaiknya tidak berhenti pada tahap tersebut.

4. Jadi, apa pelajaran yang bisa diambil?

Ilustrasi perencanaan finansial (freepik.com)

Istilah “loser” yang digunakan Kiyosaki memang terdengar provokatif dan mungkin terlalu menyederhanakan kondisi finansial seseorang. Tidak semua orang yang membeli rumah, memiliki mobil, atau berinvestasi melalui instrumen konvensional dapat dianggap gagal secara finansial. Setiap orang memiliki kondisi, kebutuhan, tujuan, dan tingkat risiko yang berbeda.

Namun, di balik istilah kontroversial tersebut, ada satu pertanyaan yang layak kita bawa ke kehidupan sehari-hari: apakah uang kita semakin banyak menghasilkan uang, atau justru semakin banyak menghabiskan uang?

Membangun kekayaan tidak selalu berarti harus memiliki bisnis besar, membeli banyak properti, atau mengambil investasi berisiko tinggi. Prinsip yang lebih sederhana adalah mulai memahami perbedaan antara aset yang produktif dan pengeluaran konsumtif, kemudian secara bertahap mengarahkan sebagian penghasilan untuk membangun sumber pendapatan tambahan.

Pada akhirnya, tujuan finansial bukan sekadar terlihat kaya. Memiliki rumah besar, mobil mewah, atau barang mahal belum tentu membuat kondisi keuangan menjadi lebih kuat. Kekayaan yang lebih berkelanjutan justru dapat terlihat dari seberapa baik seseorang membangun aset, mengelola arus kas, mengendalikan utang, dan menciptakan sumber pemasukan yang tidak sepenuhnya bergantung pada gaji bulanan.

Itulah inti dari pesan Kiyosaki: jangan hanya bekerja untuk mendapatkan uang. Perlahan, bangun sistem agar uang yang sudah kamu miliki juga bisa bekerja untukmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article