Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Saham Bank vs Teknologi, Mana yang Lebih Tahan Banting?
ilustrasi memantau pasar (magnific.com/standret)
  • Saham bank sangat bergantung pada aktivitas ekonomi, permintaan kredit, dan suku bunga; pelemahan ekonomi dapat meningkatkan kredit bermasalah serta menekan keuntungan.
  • Saham teknologi menawarkan potensi pertumbuhan dari layanan digital, semikonduktor, dan kecerdasan buatan, tetapi harganya lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi investor.
  • Tidak ada sektor yang otomatis lebih tahan banting; ketahanan bank maupun teknologi ditentukan ekonomi, suku bunga, profitabilitas, utang, dan prospek masing-masing perusahaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saham perbankan dan teknologi sering menjadi pilihan investor karena keduanya punya karakter bisnis dan peluang pertumbuhan yang berbeda. Saham bank sangat berkaitan dengan kondisi ekonomi, kredit, dan suku bunga. Di lain sisi, perusahaan teknologi banyak bertumpu pada inovasi serta pertumbuhan bisnis di masa depan.

Lalu, sektor mana yang lebih tahan banting ketika pasar mulai bergejolak? Jawabannya bergantung pada kondisi yang sedang terjadi, termasuk arah suku bunga, pertumbuhan ekonomi, dan kinerja perusahaan. Sebelum menentukan pilihan, mari kita lihat bagaimana saham bank dan teknologi menghadapi berbagai situasi pasar.

1. Saham bank sangat dipengaruhi kondisi ekonomi

ilustrasi uang dan kredit (freepik.com/rawpixel)

Bisnis bank pada dasarnya bergantung pada aktivitas ekonomi. Ketika masyarakat dan perusahaan lebih aktif meminjam uang, bank memiliki peluang memperoleh pendapatan lebih besar dari penyaluran kredit. Namun, ketika ekonomi melemah, kemampuan nasabah membayar pinjaman juga dapat menurun sehingga risiko kredit bermasalah meningkat.

Suku bunga juga memiliki pengaruh besar terhadap keuntungan bank. Perubahan selisih antara bunga yang dibayar bank untuk mendapatkan dana dan bunga yang diterima dari pinjaman dapat memengaruhi keuntungan. Ketika ekonomi mengalami tekanan berat, bank justru dapat menghadapi masalah dari meningkatnya kredit bermasalah dan melemahnya permintaan pinjaman.

2. Saham teknologi punya potensi pertumbuhan lebih besar

ilustrasi artificial intelligence (freepik.com/DC Studio)

Saham teknologi biasanya menarik perhatian investor karena memiliki peluang pertumbuhan yang tinggi. Perusahaan di sektor ini dapat berkembang melalui perangkat lunak, layanan digital, pusat data, semikonduktor, dan kecerdasan buatan. Namun, harga sahamnya juga sering mencerminkan harapan besar terhadap pertumbuhan keuntungan di masa depan, sehingga perubahan ekspektasi investor dapat membuat pergerakannya lebih tajam.

Kondisi pasar pada 2026 juga menunjukkan kuatnya minat investor terhadap saham teknologi dan perusahaan semikonduktor. Perkembangan kecerdasan buatan menjadi salah satu alasan yang mendorong optimisme terhadap sektor tersebut karena investor melihat peluang pertumbuhan bisnis yang besar. Pada 13 Agustus, S&P 500 dan Nasdaq kembali naik setelah kekhawatiran investor terhadap kenaikan suku bunga mulai mereda.

3. Perubahan suku bunga bisa memengaruhi keduanya

ilustrasi suku bunga (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Suku bunga dapat memengaruhi saham bank dan teknologi dengan cara yang berbeda. Bagi bank, perubahan suku bunga dapat memengaruhi keuntungan dari kegiatan pinjaman, tetapi suku bunga yang terlalu tinggi juga bisa membuat masyarakat dan perusahaan mengurangi pinjaman. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, risiko nasabah kesulitan membayar utang juga dapat meningkat.

Saham teknologi juga bisa tertekan ketika suku bunga naik karena harga sahamnya sering dipengaruhi oleh harapan terhadap keuntungan perusahaan di masa depan. Ketika suku bunga meningkat, investor bisa menilai keuntungan yang baru diperoleh beberapa tahun lagi tidak lagi semenarik sebelumnya. Akibatnya, sebagian investor dapat memilih mengurangi kepemilikan saham teknologi.

4. Mana yang lebih tahan banting?

ilustrasi market yang turun (freepik.com/standret)

Saham bank dan teknologi memiliki kekuatan yang berbeda ketika menghadapi perubahan pasar. Saat ekonomi melemah, bank bisa tertekan karena permintaan pinjaman menurun dan semakin banyak nasabah berisiko kesulitan membayar utang. Di sisi lain, saham teknologi bisa mengalami penurunan ketika investor mulai mengurangi minat pada perusahaan yang memiliki harga saham tinggi atau pertumbuhannya mulai melambat.

Karena itu, kita tidak bisa menentukan sektor yang lebih kuat hanya dengan melihat harga saham dalam beberapa bulan terakhir. Kita perlu memperhatikan kondisi ekonomi, perubahan suku bunga, kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan, tingkat utang, dan prospek bisnisnya. Dengan melihat faktor-faktor tersebut, kita bisa menilai apakah saham bank atau teknologi lebih sesuai dengan kondisi pasar dan tujuan investasi kita.

Saham bank tidak selalu lebih aman, begitu juga saham teknologi tidak selalu lebih berisiko. Keduanya dapat mengalami kenaikan atau penurunan tergantung kondisi ekonomi, suku bunga, dan kinerja masing-masing perusahaan. Oleh karena itu, kita perlu memahami cara kerja setiap sektor dan menyesuaikannya dengan tujuan investasi serta risiko yang siap kita hadapi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article