Harga Pertamax Naik Bikin Konsumsi Pertalite Melonjak, Ini Buktinya

- BPH Migas mencatat penyaluran Pertalite dan Solar subsidi meningkat setelah harga BBM nonsubsidi naik.
- Disparitas harga antara BBM nonsubsidi dan BBM bersubsidi atau berkompensasi mendorong peralihan penggunaan.
- Peningkatan aktivitas logistik dan sektor produktif turut memengaruhi kebutuhan Solar di sejumlah wilayah.
Jakarta, IDN Times - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat kenaikan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi setelah harga BBM nonsubsidi naik. Kenaikan terlihat pada Pertalite maupun solar subsidi.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menyebut salah satu faktor pendorongnya adalah pelebaran disparitas harga antara BBM nonsubsidi dan BBM yang mendapat subsidi atau kompensasi pemerintah. Kondisi tersebut mendorong sebagian masyarakat beralih menggunakan BBM subsidi.
"Disparitas harganya ini masih cukup lebar, cukup tinggi dan masyarakat banyak melakukan shifting penggunaannya kepada BBM subsidi dan kompensasi negara," kata dia dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).
1. Aktivitas logistik mendorong konsumsi BBM subsidi

ilustrasi aktivitas angkutan logistik dan peti kemas di kawasan pelabuhan (pexels.com/Kelly) Kenaikan penyaluran solar juga dipengaruhi peningkatan aktivitas logistik. BPH Migas mencatat kebutuhan solar meningkat di sejumlah wilayah, seperti Jawa Timur dan Surabaya, Medan, Palembang, Riau, Kalimantan, hingga Makassar.
Menurut Wahyudi, aktivitas logistik pada kuartal II-2026 terus meningkat, baik untuk kegiatan ekspor maupun impor dan distribusi barang kepada masyarakat.
Kebutuhan solar juga naik seiring pertumbuhan sejumlah sektor produktif. Sektor perdagangan tumbuh 6,39 persen secara year to date, akomodasi dan makan minum 10,60 persen, sedangkan pertanian tumbuh 3,8 persen.
"Kemudian di dalam rangka distribusi kenaikan ini, tak lepas dari program Asta Cita Bapak Presiden Republik Indonesia atas implementasi program-program strategis pemerintah pada tahun 2026 ini, seperti Koperasi Nelayan Merah Putih, Berdikari Pangan, Food Estate, dan program lainnya," ujarnya.
2. Konsumsi Pertalite naik 12,92 persen pada Juli

Ilustrasi: Petugas SPBU sedang mengisikan Pertalite ke mobil konsumen. (Dok. Pertamina) BPH Migas mencatat rata-rata penyaluran Pertalite sebelum kenaikan harga BBM nonsubsidi berada di level 75.795 kiloliter (KL) per hari. Setelah harga Pertamax naik pada 10 Juni 2026, penyaluran Pertalite meningkat 9,19 persen. Kenaikannya setara 6.965 KL per hari dari rata-rata sebelumnya.
Pada periode 1-31 Juli 2026, rata-rata penyaluran Pertalite kembali meningkat 12,92 persen. Selisih penyalurannya mencapai 9.794 KL per hari.
Pada Agustus 2026, penyaluran Pertalite sedikit menurun setelah harga Pertamax turun dari Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter. Meski demikian, rata-rata penyaluran Pertalite masih mencapai 84.368 KL per hari.
"Jadi artinya kenaikan konsumsi Pertalite yang rerata saat ini menjadi 84.368 kiloliter ini memang shifting dari sisi pemindahan semula konsumsi Pertamax menjadi Pertalite," ujar Wahyudi.
3. Penyaluran solar naik 15,10 persen pada Agustus

Ilustrasi pembelian solar subsidi di Sulawesi Utara wajib menggunakan QR Code. (IDN Times/Ungke Pepotoh/bt) Untuk solar, rata-rata penyaluran harian sebelum kenaikan harga BBM nonsubsidi berada di level 50.624 KL. Penyaluran kemudian meningkat secara bertahap hingga mencapai 58.271 KL per hari. Dengan demikian, terdapat tambahan penyaluran sekitar 7.647 KL per hari.
Kenaikan tertinggi tercatat pada Agustus 2026 sebesar 15,10 persen. BPH Migas menyebut peningkatan tersebut juga sejalan dengan indikasi pertumbuhan aktivitas ekonomi.
"Ini khusus solar dan kami terus melakukan proses dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat secara baik karena faktor ekonomi juga terjadi indikasi peningkatan," kata Wahyudi.




















