Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa UMKM Sulit Naikkan Harga meski Biaya Produksi Terus Naik?

Kenapa UMKM Sulit Naikkan Harga meski Biaya Produksi Terus Naik?
ilustrasi berjualan pakaian (pexels.com/RDNE Stock project)
  • UMKM ragu menaikkan harga karena pelanggan sensitif terhadap perubahan biaya, terutama saat daya beli melemah dan produk serupa tersedia dengan harga lebih murah.
  • Persaingan ketat di marketplace dan media sosial memudahkan konsumen membandingkan harga, sementara diskon, gratis ongkir, dan voucher mempersempit ruang UMKM untuk menaikkan harga.
  • Biaya bahan baku, energi, transportasi, sewa, dan tenaga kerja kerap naik lebih cepat daripada harga jual; ketakutan kehilangan pelanggan membuat margin keuntungan semakin tipis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Menaikkan harga produk seharusnya menjadi langkah yang wajar ketika biaya bahan baku, ongkos kirim, sewa tempat, hingga upah tenaga kerja ikut meningkat. Namun, bagi banyak pelaku UMKM, keputusan tersebut ternyata tidak semudah menaikkan angka pada label harga. Ada banyak pertimbangan yang membuat UMKM bimbang dalam keputusan untuk menaikkan harga produk.

Khawatir pelanggan akan pergi, penjualan turun, atau produk kalah bersaing dengan bisnis lain yang menawarkan harga lebih murah. Situasi ini membuat sebagian UMKM memilih mempertahankan harga meski keuntungan semakin tipis. Padahal, jika terus dilakukan, strategi tersebut justru bisa membuat bisnis kesulitan berkembang. Lantas, kenapa banyak UMKM sulit naikkan harga meski biaya produksi terus naik? Ini dia jawabannya!

  1. 1. Pelanggan sensitif terhadap harga

    membaca label makanan
    ilustrasi membeli produk makanan (freepik.com/freepik)

    Salah satu alasan utamanya adalah pelanggan yang cukup sensitif terhadap perubahan harga. Ketika banyak penjual menawarkan produk serupa, konsumen bisa dengan mudah membandingkan harga dan berpindah ke penjual lain. Kondisi tersebut semakin terasa ketika daya beli masyarakat sedang melemah. Kenaikan biaya hidup membuat konsumen menjadi lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Akibatnya, kenaikan harga yang sebenarnya terlihat kecil bagi pemilik usaha bisa menjadi pertimbangan bagi pelanggan.

    Misalnya, seorang pemilik usaha makanan menaikkan harga produk dari Rp15 ribu menjadi Rp18 ribu. Bagi penjual, tambahan Rp3 ribu mungkin diperlukan untuk menutupi kenaikan harga bahan baku. Namun, pelanggan bisa saja memilih produk lain dengan harga Rp15 ribu jika merasa keduanya menawarkan kualitas yang hampir sama.

  2. 2. Persaingan membuat UMKM sulit menentukan harga

    ilustrasi UMKM
    ilustrasi UMKM (unsplash.com/Claudette Bleijenberg)

    UMKM umumnya beroperasi di pasar dengan banyak pemain. Tidak sedikit bisnis kecil yang menjual produk dengan jenis, kualitas, bahkan kemasan yang hampir serupa. Persaingan tersebut membuat pelaku usaha memiliki ruang yang terbatas untuk menaikkan harga. Jika harga dinaikkan terlalu tinggi tanpa ada nilai tambah yang jelas, pelanggan mungkin akan memilih kompetitor.

    Kondisi ini semakin terasa sejak marketplace dan media sosial membuat perbandingan harga menjadi sangat mudah. Konsumen hanya perlu beberapa detik untuk melihat produk dari berbagai penjual. Promosi seperti diskon, gratis ongkir, dan voucher juga membuat persaingan harga semakin ketat. Karena itu, UMKM yang hanya mengandalkan harga murah akan lebih sulit menaikkan harga dibandingkan dengan bisnis yang sudah memiliki keunikan dan pelanggan loyal.

  3. 3. Biaya operasional naik lebih cepat daripada harga jual

    ilustrasi bisnis kuliner
    ilustrasi bisnis kuliner (pexels.com/Gary Barnes)

    Masalah lainnya adalah biaya usaha sering kali meningkat lebih cepat daripada harga produk. Harga bahan baku, energi, transportasi, kemasan, sewa, hingga biaya tenaga kerja dapat berubah dari waktu ke waktu. Banyak usaha kecil mengalami peningkatan biaya input dan tenaga kerja. Namun, sebagian besar perusahaan yang menaikkan harga jual hanya melakukan kenaikan dalam kisaran tertentu. Artinya, kenaikan harga produk belum tentu mampu sepenuhnya menutupi tambahan biaya operasional.

    Jika kondisi ini terus berlangsung, margin keuntungan UMKM bisa semakin tipis. Penjualan mungkin tetap terlihat ramai, tetapi keuntungan yang diperoleh belum tentu ikut meningkat. Setelah seluruh biaya dibayar, uang yang tersisa justru bisa semakin sedikit.

  4. 4. Takut kehilangan pelanggan

    ilustrasi bisnis thrifting
    ilustrasi bisnis thrifting (pexels.com/Liza Summer)

    Selain persoalan angka, ada faktor psikologis yang membuat pemilik UMKM sulit menaikkan harga. Banyak pelaku usaha sudah membangun hubungan dengan pelanggan selama bertahun-tahun sehingga merasa tidak enak hati saat harus meminta mereka membayar lebih mahal. Kekhawatiran seperti "nanti pelanggan kabur" atau "nanti dianggap kemahalan" akhirnya membuat harga produk dipertahankan terlalu lama. Padahal, kenaikan harga tidak selalu membuat pelanggan pergi. Konsumen cenderung lebih bisa menerima perubahan jika mereka memahami alasan di baliknya dan tetap merasa mendapatkan nilai yang sepadan.

    Walau UMKM sulit naikkan harga meski biaya produksi terus naik, pihak penjual perlu berani menyesuaikan harga agar keuntungan tetap sehat. Harga yang tepat bukan hanya membantu menutup biaya operasional, tetapi juga menjaga bisnis tetap bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. Dengan begitu, usaha tidak sekadar ramai pembeli, tetapi juga mampu menghasilkan keuntungan yang layak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More