Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Destry Tegaskan Sinergi dengan Pemerintah Tak Gerus Independensi BI

Destry Tegaskan Sinergi dengan Pemerintah Tak Gerus Independensi BI
Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjalani Fit and Proper Test di Komisi XI. (IDN Times/Triyan).
  • Calon Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan sinergi dengan pemerintah tetap berada dalam mandat masing-masing dan tidak mengurangi independensi serta kredibilitas BI sesuai UU P2SK.
  • Destry menilai koordinasi dan bauran kebijakan diperlukan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan berkualitas di tengah perlambatan ekonomi global, inflasi tinggi, serta dinamika dolar dan obligasi AS.
  • BI akan mengoptimalkan kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar uang, dan pasar valas; transaksi pasar uang naik enam kali lipat, sementara valas meningkat tiga kali lipat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan penguatan sinergi dengan pemerintah tidak akan mengurangi independensi bank sentral. Menurutnya, koordinasi antarlembaga dibutuhkan untuk menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks.

Hal tersebut disampaikan Destry dalam uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test calon Gubernur BI di Komisi XI DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Dengan begitu, sinergi antara BI dan pemerintah harus tetap berada dalam koridor mandat dan kewenangan masing-masing lembaga. Kerja sama tersebut, kata dia, tidak boleh dipandang sebagai bentuk intervensi terhadap independensi BI.

"Jadi kembali saya ingin tekankan di sini, bahwa kata-kata sinergi ini tidak berarti juga mengurangi kredibilitas dan juga independensi dari BI dalam menjalankan tugas-tugasnya," ujar Destry.

  1. 1. BI tetap akan berpegang teguh pada aturan P2SK

    Logo Bank Indonesia
    Logo Bank Indonesia

    Ia menjelaskan, BI akan tetap berpegang pada prinsip independensi sesuai mandat dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).

    Di sisi lain, Destry menegaskan sinergi bukan hanya bekerja sama tapi bagaimana menyatukan kekuatan untuk saling melengkapi. Oleh karena itu, masing-masing lembaga memiliki mandat dan instrumen kebijakan yang berbeda sehingga koordinasi diperlukan agar kebijakan yang ditempuh dapat saling melengkapi

    "Jadi artinya masing-masing itu punya senjatanya masing-masing. Tapi kita saling melengkapi. Dan kita melangkannya siirama," tegasnya.

  2. 2. Sinergi perlu dioptimalkan untuk dorong pertumbuhan ekonomi

    Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Shuterstock/Costello77
    Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Shuterstock/Costello77

    Lebih lanjut, Destry menilai independensi BI harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Apalagi, kondisi perekonomian global saat ini menghadapi persoalan yang tidak biasa. Kondisi tersebut membuat respons kebijakan tidak bisa hanya mengandalkan satu instrumen.

    Menurut Destry, kompleksitas persoalan global menjadi salah satu alasan pentingnya sinergi kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

    “Kita ini sekarang menghadapi masalah yang tidak biasa. Makanya kalau saya ambil dari topik makalah ini, saya juga menekankan sinergi dalam rangka untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas,” ujar Destry.

  3. 3. Ada sederet tantangan dari ekonomi global

    Ilustrasi pertumbuhan ekonomi
    Ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Markus Spiske)

    Destry menjelaskan, kondisi ekonomi global saat ini menunjukkan adanya tantangan yang berbeda dari situasi normal. Negara-negara maju, termasuk Eropa dan Amerika Serikat, menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi, tetapi pada saat yang sama masih dibayangi tekanan inflasi.

    Menurut dia, secara teori perlambatan ekonomi biasanya diikuti oleh inflasi yang lebih rendah. Namun, kondisi saat ini justru berbeda karena inflasi masih tinggi akibat kenaikan harga komoditas serta gangguan rantai pasok.

    “Kalau kita lihat di negara maju, Eropa, Amerika, mereka menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Kalau kita bicara secara teoritis, perlambatan pertumbuhan ekonomi artinya inflasi mereka rendah. Tapi ini enggak. Inflasi mereka tinggi,” katanya.

  4. 4. Soroti pergerakan dolar AS hingga naiknya imbal hasil AS

    ilustrasi utang, pinjaman, dolar Amerika Serikat
    ilustrasi utang, pinjaman, dolar Amerika Serikat (vecteezy.com/Ahmad Juliyanto)

    Destry menyebut kenaikan harga komoditas dan gangguan rantai pasok menjadi sejumlah faktor yang membuat tekanan inflasi tetap tinggi meski pertumbuhan ekonomi melambat. Selain inflasi, kondisi pasar keuangan Amerika Serikat juga menunjukkan dinamika yang tidak biasa. Destry menyoroti pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang menguat, tetapi diikuti kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

    Padahal, menurut dia, dalam kondisi normal penguatan dolar AS seharusnya dapat diikuti penurunan imbal hasil obligasi karena meningkatnya permintaan terhadap aset berdenominasi dolar AS.

    “Kalau DXY menguat, mestinya bond yield-nya mereka turun. Kenapa? Karena akan ada permintaan banyak dolar untuk beli bond-nya mereka. Tapi ini kebalikannya,” ujar Destry.

    Ia menambahkan, imbal hasil obligasi pemerintah AS terus meningkat. Bahkan, imbal hasil surat utang tenor 30 tahun telah berada di atas 5,3 persen, sedangkan tenor 10 tahun sudah menembus 4,6 persen.

    Kondisi tersebut, menurut Destry, menunjukkan semakin kompleksnya dinamika perekonomian dan pasar keuangan global. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat sinergi dan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

    “Dalam menjalankan suatu kebijakan, enggak bisa hanya bertahan atau bersandar pada satu kebijakan tertentu,” tegasnya.

  5. 5. Destry akan perkuat bauran kebijakan

    Logo Bank Indonesia
    Logo Bank Indonesia

    Karena itu, BI perlu mengoptimalkan bauran kebijakan yang mencakup kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, serta instrumen kebijakan pendukung lainnya. Destry juga menilai pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing menjadi bagian penting untuk memperkuat stabilitas ekonomi sekaligus memperluas sumber pembiayaan pembangunan.

    Ia menyebut transaksi pasar uang dalam enam tahun terakhir telah meningkat sekitar enam kali lipat. Sementara itu, transaksi di pasar valuta asing meningkat sekitar tiga kali lipat.

    "Jadi ini adalah makin dalam pasarnya, maka tentu stabilitas dari rupiah juga akan makin terjaga, kemudian juga sumber pembiayaan untuk pembangunan juga akan makin bisa kita dorong," ujarnya.

    Dengan demikian, Destry menilai stabilitas ekonomi tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan moneter BI. Sinergi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk meningkatkan efektivitas kebijakan, dengan tetap menempatkan independensi bank sentral sebagai prinsip utama.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More