Bagaimana Prospek Saham di Tengah Kondisi Pasar Saat Ini?

- Kenaikan suku bunga membuat biaya pendanaan emiten lebih mahal sehingga investor dinilai perlu lebih selektif memilih saham.
- Lanjar Nafi membedakan sentimen pasar jangka pendek dengan data ekonomi yang menjadi sinyal arah pasar jangka panjang.
- Penilaian untuk ekuitas masih netral, dengan saham berkapitalisasi besar dan rasio utang yang tidak terlalu besar dapat diperhatikan.
Jakarta, IDN Times - Investor dinilai perlu lebih selektif memilih saham di tengah kenaikan suku bunga. Sebab, bunga yang lebih tinggi membuat biaya pendanaan emiten alias perusahaan yang tercatat di bursa efek ikut meningkat.
WM Business Development & Market Research Head CIMB Niaga, Lanjar Nafi menjelaskan emiten biasanya membutuhkan dana dari pinjaman bank atau penerbitan obligasi ketika ingin melakukan ekspansi. Ketika suku bunga tinggi, biaya untuk mendapatkan pendanaan tersebut menjadi lebih mahal.
"Itu akan mengakibatkan valuasi dari harga saham itu menjadi agak sedikit kurang menarik sehingga kita perlu selektif ya. Mungkin saat ini memang bagus saham-saham sudah terkoreksi banyak, tapi diharapkan yang big cap ya, atau yang memiliki rasio utang enggak terlalu besar terhadap mereka punya aset," katanya dalam Wealth Xpo 2026: Kelas Jurnalisme Inspiratif di Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
1. Pergerakan pasar saham sempat mengalami volatilitas

ilustrasi IHSG (IDN Times/Aditya Pratama) Lanjar membagi faktor yang memengaruhi pergerakan pasar menjadi dua, yakni sentimen pasar atau noise dan sinyal struktural atau signal. Noise biasanya muncul dari emosi dan kepanikan pasar dalam jangka pendek. Sementara signal berasal dari data ekonomi yang bisa memengaruhi pasar dalam jangka lebih panjang.
Dia mencontohkan suntikan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun ke bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) pada tahun lalu sebagai sinyal positif bagi pasar. Kebijakan tersebut dinilai mengubah struktur valuasi saham.
Lebih lanjut, kenaikan harga saham pada akhir tahun dipengaruhi window dressing yang masuk dalam kategori noise positif. Itu adalah upaya memperbaiki atau mempercantik tampilan portofolio investasi menjelang akhir periode pelaporan.
"Di awal tahun, kita kedapatan sentimen negatif atau noise pasar yaitu isu transparansi dari MSCI membuat orang-orang panik, akhirnya mereka jual semua aset berisiko mereka di Indonesia ya," ujarnya.
Ada pula faktor yang sifatnya lebih struktural, seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Gangguan pengiriman dan distribusi membuat harga minyak serta bahan baku meningkat sehingga ikut memengaruhi valuasi. Tekanan lain datang dari ancaman penurunan outlook peringkat utang.
"Kita mengalami kejatuhan market itu di kuartal I sampai kuartal II, ya. Sinyal positifnya yaitu rilis laporan keuangan gagal. Dia naik sedikit dari noise, turun lagi karena ada sinyal BI Rate. Ditambah sentimen pasar downgrade aset Indonesia," paparnya.
2. Data ekonomi jadi sinyal untuk pasar

ilustrasi pergerakan IHSG (IDN Times/Aditya Pratama) Menurut Lanjar, sentimen pasar biasanya hanya berdampak dalam jangka pendek. Sebaliknya, data ekonomi menjadi sinyal yang lebih menentukan arah pasar dalam jangka panjang.
Dia mencontohkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat naik pada April setelah rilis laporan keuangan. Namun, pergerakan tersebut kembali tertekan oleh sentimen penurunan outlook Indonesia dan kenaikan BI Rate.
Begitu pula dengan sentimen sell in May and go away. Istilah tersebut menggambarkan strategi investor yang menjual saham pada Mei dan kembali masuk pasar setelah periode tertentu karena menganggap pasar saham cenderung melemah pada periode tersebut.
"Tapi PDB kita bagus di kuartal I, makanya kita mulai rebound. Ditambah PDB kita di kuartal II juga cukup bagus di atas 5 persen. Ini akan menjadi sinyal struktural yang membuat IHSG bisa rebound dan naik di jangka panjang," tuturnya.
3. Saham masih netral dan investor diminta selektif

ilustrasi IHSG (IDN Times/Muhammad Surya) Untuk ekuitas, Lanjar masih memberikan penilaian netral. Saham memiliki volatilitas paling tinggi dalam jangka pendek, meski dalam jangka panjang dinilai mampu mengalahkan inflasi.
Beban utang korporasi masih menjadi salah satu faktor yang menahan valuasi saham. Karena itu, investor yang ingin masuk ke pasar saham saat ini perlu tetap selektif. Lanjar menyebut saham berkapitalisasi besar sebagai salah satu pilihan yang dapat diperhatikan.
"Kita melihat beban bunga ini masih menjadi bayangan kita sehingga kita netral dulu, selektif lah. Kalau teman-teman mau beli saham saat ini diharapkan selektif untuk saham-saham big cap, ya," kata dia.




















