Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Tanda Kekerasan Finansial dalam Rumah Tangga, Jangan Remehkan!

7 Tanda Kekerasan Finansial dalam Rumah Tangga, Jangan Remehkan!
ilustrasi tanda kekerasan finansial dalam rumah tangga (pexels.com/Mikhail Nilov)
Intinya Sih

  • Pembatasan akses penuh terhadap dana bersama.

  • Sabotase terhadap karier dan kemandirian ekonomi.

  • Pengawasan ketat dan interogasi atas setiap pengeluaran.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Banyak pasangan menganggap bahwa perselisihan soal uang adalah hal yang lumrah dalam kehidupan pernikahan. Namun, kamu perlu berhati-hati karena tak semua perdebatan soal anggaran belanja bersifat wajar, sebab bisa jadi itu adalah tanda kekerasan finansial dalam rumah tangga, lho. Realitasnya, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang dikendalikan secara ekonomi karena pelakunya sering membungkus kontrol tersebut dengan alasan kasih sayang atau demi masa depan keluarga.

Kondisi ini kerapi dimulai secara perlahan, seperti pasangan yang menawarkan diri untuk mengatur semua tagihan hingga akhirnya kamu tidak memiliki akses sama sekali ke uangmu sendiri. Fenomena ini bukan sekadar masalah pelit atau hemat, melainkan bentuk manipulasi untuk membuatmu bergantung sepenuhnya kepada pasangan secara finansial. Jika kamu mulai merasa takut atau harus selalu "meminta izin" bahkan untuk kebutuhan pokok, saatnya kamu menelaah lebih dalam situasi yang sedang terjadi, ya. Simak tanda-tandanya, ya.


1. Pembatasan akses penuh terhadap dana bersama

ilustrasi pembatasan akses penuh terhadap dana darurat
ilustrasi pembatasan akses penuh terhadap dana darurat (pexels.com/www.kaboompics.com)

Salah satu indikasi awal kekerasan ekonomi adalah ketika salah satu pihak menutup akses pasangan terhadap informasi keuangan keluarga. Kamu mungkin dilarang memiliki kartu debit sendiri atau tidak diperbolehkan mengetahui berapa jumlah saldo di dalam joint account yang kalian miliki. Hal ini bertujuan agar pasangan memiliki kendali penuh atas setiap rupiah yang masuk dan keluar tanpa bisa kamu intervensi.

Dalam situasi ini, kamu biasanya hanya diberikan uang saku atau allowance dalam jumlah yang sangat terbatas dan tak masuk akal untuk kebutuhan sehari-hari. Kamu akan merasa seperti seorang anak kecil yang harus memohon demi mendapatkan uang untuk membeli keperluan pribadi yang mendesak. Jika pasanganmu mulai menyembunyikan kata sandi perbankan atau menolak transparansi aset, ini adalah sinyal merah yang harus kamu waspadai, lho.

2. Sabotase terhadap karier dan kemandirian ekonomi

ilustrasi orang yang melakukan kekerasan finansial akan memaksa pasangannya terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah
ilustrasi orang yang melakukan kekerasan finansial akan memaksa pasangannya terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah (pexels.com/SHVETS production)

Pelaku kekerasan ini berusaha menghalangi pasangannya untuk bekerja atau meraih promosi. Bentuk sabotase bisa bermacam-macam, mulai dari melarang kamu menghadiri rapat penting hingga membuat keributan tepat sebelum kamu berangkat kerja, lho. Tujuannya sangat jelas, yakni memastikan kamu tidak memiliki sumber penghasilan mandiri sehingga kamu tetap berada di bawah kendalinya.

Selain menghalangi pekerjaan, pasangan mungkin akan mengkritik kinerjamu atau merendahkan ambisi profesional yang kamu miliki agar kepercayaan dirimu runtuh. Mereka akan mencoba meyakinkanmu bahwa fokus utamamu hanyalah di rumah, padahal itu jadi strateginya agar kamu tidak memiliki jaring pengaman finansial. Tanpa pekerjaan dan uang sendiri, seorang korban akan merasa terjebak dan tidak berdaya untuk meninggalkan hubungan yang tak sehat tersebut.


3. Pengawasan ketat dan interogasi atas setiap pengeluaran

ilustrasi pasangan mengecek nota perincian barang secara berlebihan
ilustrasi pasangan mengecek nota perincian barang secara berlebihan (pexels.com/Mikail Nilov)

Pengawasan yang berlebihan terhadap perilaku belanja pasangan merupakan bentuk nyata dari financial abuse. Kamu mungkin diwajibkan untuk menyerahkan semua struk belanja dan menjelaskan setiap perincian barang yang kamu beli, sekecil apa pun itu. Jika ada selisih uang sedikit saja, pasangan akan memberikan reaksi kemarahan yang berlebihan atau melakukan silent treatment sebagai bentuk hukuman.

Pola kontrol ini menciptakan tekanan psikologis yang membuatmu merasa selalu diawasi dan tak memiliki privasi dalam mengelola keuangan. Kamu akan merasa cemas kerap ingin membeli barang, bahkan jika barang tersebut adalah kebutuhan primer seperti pakaian atau obat-obatan. Keharusan untuk menjustifikasi setiap pengeluaran menjadi cara pelaku untuk menegaskan dominasinya dan membuatmu merasa tak kompeten dalam mengatur uang.


4. Pengambilan keputusan finansial besar secara sepihak

ilustrasi pasangan yang mengambil keputusan finansial sepihak
ilustrasi pasangan yang mengambil keputusan finansial sepihak (pexels.com/Mikhail Nilov)

Kemandirian finansial dalam rumah tangga seharusnya didasarkan pada diskusi, namun dalam kasus kekerasan, suara kamu sering kali diabaikan. Pelaku biasanya membuat keputusan besar seperti membeli kendaraan, aset properti, atau melakukan investasi berisiko tanpa berkonsultasi denganmu. Kamu baru akan mengetahui keputusan tersebut setelah transaksi terjadi, atau bahkan saat tagihannya mulai berdatangan ke rumah, nih.

Guys, ketidakterbukaan ini juga mencakup penyembunyian utang atau kewajiban finansial lainnya yang bisa berdampak pada stabilitas keluarga di masa depan. Pasangan mungkin berdalih bahwa kamu "tidak mengerti soal investasi" atau "biar dia saja yang mengurus semuanya" untuk membungkam opinimu. Padahal, setiap keputusan yang melibatkan aset bersama seharusnya menjadi kesepakatan kedua belah pihak demi keseimbangan peran dalam rumah tangga.

5. Eksploitasi kredit dan pemaksaan utang atas nama pasangan

ilustrasi kredit (pixabay.com/mastersenaiper)
ilustrasi kredit (pixabay.com/mastersenaiper)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sering kali mengingatkan masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan data pribadi, termasuk dalam lingkup keluarga. Tanda yang sangat berbahaya adalah saat pasangan memaksamu mengambil pinjaman atau menggunakan kartu kredit atas namamu untuk kepentingannya sendiri. Jika kamu menolak, mereka mungkin akan menggunakan manipulasi emosional atau ancaman agar kamu bersedia menandatangani dokumen pinjaman tersebut.

Dampaknya bisa sangat fatal bagi masa depanmu karena jika cicilan tersebut tidak dibayar, skor kredit atau credit score milikmu yang akan hancur, bukan milik pasangan. Pelaku sengaja melakukan ini agar kamu terlilit utang dan tak memiliki kredibilitas finansial untuk hidup mandiri nantinya. Memanfaatkan identitas pasangan untuk kepentingan finansial pribadi tanpa tanggung jawab termasuk bentuk eksploitasi yang sangat merusak dan melanggar hak-hak pribadimu, lho.


6. Pencurian atau penjualan aset pribadi tanpa izin

ilustrasi penjualan aset pribadimu oleh pasangan
ilustrasi penjualan aset pribadimu oleh pasangan (pexels.com/Thirdman)

Tindakan mengambil atau menjual barang milik pasangan tanpa persetujuan adalah pelanggaran berat terhadap batasan pribadi. Kamu mungkin mendapati perhiasan, gawai, atau barang berharga lainnya hilang secara tiba-tiba dan baru menyadari bahwa pasangan telah menjualnya untuk kepentingan pribadi mereka. Ini adalah bentuk pencurian terselubung yang kerap dilakukan pelaku dengan alasan "uangnya juga dipakai untuk keluarga".

Tindakan ini menciptakan rasa tak aman yang konstan di dalam rumahmu sendiri karena kamu merasa barang-barangmu tidak lagi terlindungi. Pelaku sering kali melakukan gaslighting saat dikonfrontasi, dengan membuatmu merasa bersalah karena terlalu mementingkan harta benda dibandingkan hubungan. Jika kamu kehilangan kendali atas barang-barang yang secara hukum adalah milikmu, ini jadi tanda nyata adanya ketimpangan kekuasaan yang bersifat toksik.

7. Pengurasan dana tabungan masa depan secara sepihak

ilustrasi tabungan (pexels.com/maitree rimthong)
ilustrasi tabungan (pexels.com/maitree rimthong)

Pengurasan dana darurat atau tabungan pendidikan anak tanpa diskusi adalah bentuk pengkhianatan finansial yang serius. Kamu mungkin telah bersusah payah menyisihkan uang selama bertahun-tahun, namun pasangan justru mengambilnya secara sembunyi-sembunyi untuk hobi atau pengeluaran impulsif lainnya. Hal ini memperlihatkan bahwa pasangan tidak menghargai masa depan finansial keluarga dan hanya mementingkan kepuasan instan dirinya sendiri.

Ketika kamu mengetahui bahwa tabungan telah kosong, biasanya pasangan akan memberikan janji-janji manis untuk menggantinya namun tak pernah ditepati. Perilaku ini membuatmu kehilangan jaring pengaman jika terjadi situasi darurat di masa depan. Ketidakmampuan untuk mempercayai pasangan dalam mengelola dana cadangan adalah indikator kuat bahwa hubungan tersebut sedang mengalami krisis kepercayaan dan kendali ekonomi.

Memahami tanda-tanda kekerasan finansial dalam rumah tangga menjadi langkah awal yang krusial untuk melindungi kesejahteraan mental dan finansialmu di masa depan. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional atau berkonsultasi dengan orang kepercayaan jika kamu merasa terjebak dalam pola hubungan yang eksploitatif ini, ya. Ingatlah bahwa dalam pernikahan yang sehat, keuangan seharusnya menjadi alat untuk bertumbuh bersama, bukan senjata untuk saling menguasai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More