Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Teknologi Keuangan Makin Pesat, Gen Alpha Hadapi Risiko Ini

ilustrasi pinjaman online (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi pinjaman online (IDN Times/Aditya Pratama)
Intinya sih...
  • Generasi Alpha dihadapkan pada tantangan teknologi keuangan.
  • Literasi keuangan menjadi kunci untuk mencegah keputusan keuangan yang merugikan.
  • Kepercayaan adalah mata uang baru di era teknologi keuangan yang cepat.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026 menyoroti pesatnya kemajuan teknologi keuangan yang mempermudah akses kredit bagi masyarakat. Salah satu yang disorot ialah kemudahan pengajuan kredit melalui platform pinjaman online (pinjol), khususnya yang menyediakan fitur Buy Now Pay Later (BNPL).

Menurut perencana keuangan dan CEO Zapfinance, Prita Ghozie, BNPL tak sepenuhnya berbahaya. Namun, jika penggunanya tidak mempersiapkan rencana untuk pembayaran pinjaman, maka akan berubah menjadi krisis.

"Kebiasaan bergantung pada pinjaman untuk kebutuhan sehari-hari adalah sinyal dari gap yang sangat dalam antara perencanaan keuangan dan kesadaran diri," ucap Prita dikutip dari IMGR 2026, Rabu (27/8/2025).

1. Gen Alpha harus menghadapi tantangan di tengah kemajuan teknologi keuangan

ilustrasi kredit (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi kredit (IDN Times/Aditya Pratama)

Ke depannya, tantangan di tengah perkembangan teknologi keuangan akan dirasakan oleh generasi alpha. Oleh sebab itu, hasil survey menunjukkan 38 persen orang tua memilih untuk memberikan pendidikan finansial lebih dini kepada anak.

"Sebagai respons, orang tua berperan sebagai pendidik keuangan sejak dini. Hal ini menandakan pergeseran yang signifikan: pendidikan keuangan tidak lagi diserahkan kepada sekolah atau aplikasi," bunyi laporan IMGR.

2. Literasi keuangan menjadi kunci untuk cegah keputusan keuangan yang menjerumuskan diri

Ilustrasi uang (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi uang (IDN Times/Aditya Pratama)

Saat ini, keputusan terkait keuangan sebagian besar dibuat secara digital, dalam aplikasi, baik dompet digital (e-wallet), e-commerce, dan sebagainya. Kemajuan teknologi keuangan bisa membuat seseorang membuat keputusan keuangan yang menjerumuskan diri. Menurut Prita, hal krusial yang bisa mencegah pembuatan keputusan itu adalah literasi keuangan.

“Dalam lanskap di mana transaksi, termasuk meminjam terjadi dalam hitungan detik, literasi keuangan yang sebenarnya berarti mengetahui kapan harus mengatakan ya, kapan penundaan, dan kapan akan berjalan," ucap Prita.

3. Kepercayaan adalah mata uang baru

Ilustrasi uang. (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi uang. (IDN Times/Aditya Pratama)

IMGR 2026 menekankan kepercayaan adalah mata uang baru di tengah lanskap yang serba cepat. Oleh sebab itu, platform keuangan yang memprioritaskan transparansi dan edukasi tak hanya melindungi konsumennya, tapi juga akan meraih kesetiaan dari konsumen.

"Pada akhirnya, masa depan sistem keuangan Indonesia tidak akan dibangun di atas akses saja. Tapi akan tergantung pada akuntabilitas, edukasi, dan transparansi etis. Generasi yang dibesarkan di layar tidak hanya membutuhkan kredit, tapi juga kejelasan," tulis IMGR 2026.

IDN menggelar Indonesia Summit 2025, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "Theme: Thriving Beyond Turbulence Celebrating Indonesia's 80 years of purpose, progress, and possibility". IS 2025 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2025 diadakan pada 27 - 28 Agustus 2025 di Tribrata Dharmawansa, Jakarta. Dalam IS 2025, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei dilakukan pada Februari sampai April 2025 dengan studi metode campuran yang melibatkan 1.500 responden, dibagi rata antara Milenial dan Gen Z.

Survei ini menjangkau responden di 12 kota besar di Indonesia, antara lain Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Solo, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar.

Share
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us