Uang Koin Dihapus, Belanja Pakai Kartu Kredit Jadi Makin Mahal

- Penghentian produksi koin satu sen di AS membuat transaksi tunai dibulatkan ke kelipatan lima sen, dengan aturan pembulatan berbeda menurut nominal akhir dan kebijakan negara bagian.
- Penggunaan tunai menurun sepanjang 2016–2025, sementara kartu kredit meningkat: rata-rata konsumen pada 2025 memakai kartu kredit 16 kali per bulan, debit 15 kali, dan tunai enam kali.
- Sejumlah merchant kecil mengenakan surcharge kartu kredit untuk menutup biaya pemrosesan rata-rata 2,35% pada 2024; dampaknya dapat lebih besar daripada pembulatan tunai pada belanja bernilai tinggi.
Selama ini kamu mungkin menganggap cara membayar belanjaan gak terlalu berpengaruh terhadap jumlah uang yang harus dikeluarkan. Namun, perubahan sistem pembayaran di Amerika Serikat mulai menunjukkan bahwa metode pembayaran bisa membuat total belanja berbeda, lho.
Berhentinya produksi koin satu sen membuat sejumlah transaksi tunai mulai dibulatkan ke nominal tertentu. Di sisi lain, penggunaan kartu kredit justru bisa dikenai biaya tambahan oleh sebagian merchant. Artinya, pilihan antara membayar tunai atau menggunakan kartu kini bisa punya dampak langsung terhadap isi dompet.
1. Pembayaran tunai mulai mengalami pembulatan

ilustrasi mengeluarkan uang dari dompet, dolar AS, bayar tunai, cash (unsplash.com/Allef Vinicius) Berhentinya produksi penny atau koin satu sen oleh U.S. Mint membuat sejumlah merchant mulai menerapkan pembulatan pada transaksi tunai. Nilai satu penny sendiri hanya sekitar Rp177 jika menggunakan kurs sekitar Rp17.689 per US$1. Ketika total belanja gak bisa dibayar dengan nominal yang tepat, jumlah akhirnya bisa dibulatkan ke kelipatan lima sen atau sekitar Rp884 terdekat.
Aturan pembulatan ini juga gak diterapkan secara sembarangan karena sejumlah negara bagian di AS sudah membuat aturan masing-masing. Berdasarkan rancangan Common Cents Act, total belanja yang berakhir pada 1, 2, 6, atau 7 sen akan dibulatkan ke bawah. Sementara nominal yang berakhir pada 3, 4, 8, atau 9 sen akan dibulatkan ke atas jika pembayaran tunai gak bisa dilakukan dengan uang pas.
2. Penggunaan uang tunai ternyata terus menurun

ilustrasi kasir, bayar dengan uang tunai, cash (pexels.com/RDNE Stock project) Perubahan tersebut terjadi ketika kebiasaan masyarakat dalam melakukan pembayaran juga ikut berubah. Berdasarkan 2026 Diary of Consumer Payment Choice dari Federal Reserve, konsumen rata-rata melakukan 47 transaksi pembayaran setiap bulan sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, rata-rata 16 transaksi menggunakan kartu kredit, 15 memakai kartu debit, dan hanya enam transaksi menggunakan uang tunai.
Kalau dibandingkan dengan 2016, perubahannya cukup terlihat. Saat itu, konsumen rata-rata melakukan 45 transaksi pembayaran per bulan, dengan uang tunai digunakan dalam 14 transaksi, kartu debit 12 transaksi, dan kartu kredit delapan transaksi. Jadi dalam satu dekade, kartu kredit makin sering dipakai sementara uang tunai kehilangan sebagian perannya sebagai metode pembayaran utama.
3. Kartu kredit bisa membuat tagihan lebih mahal

ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari, pembayaran cashless, kartu kredit (magnific.com/magnific) Di saat pembayaran tunai menghadapi aturan pembulatan, kamu juga perlu memperhatikan biaya tambahan ketika menggunakan kartu kredit. Sejumlah merchant, terutama bisnis kecil, mulai mengenakan surcharge atau biaya tambahan kepada pelanggan yang membayar menggunakan kartu kredit. Crystal Kaldjob dari Goodwin Procter menilai semakin banyak merchant kecil yang menerapkan biaya tersebut untuk membantu menanggung biaya transaksi.
Biaya tambahan ini berkaitan dengan biaya pemrosesan kartu yang harus dibayar merchant. Data National Retail Federation menunjukkan rata-rata biaya tersebut mencapai 2,35% dari nilai transaksi pada 2024, naik dari 2,02% pada 2010. Sebagai gambaran, kalau kamu berbelanja senilai US$100 atau sekitar Rp1,77 juta, biaya 2,35% setara dengan sekitar US$2,35 atau Rp41.600.
4. Merchant juga menghadapi biaya kartu yang makin besar

ilustrasi bisnis, small business, UMKM, enterpreneur, toko, karyawan, Lisbon, Portugal, Eropa (pexels.com/Kampus Production) Alasan merchant mengenakan surcharge sebenarnya berkaitan dengan besarnya biaya transaksi kartu kredit yang mereka tanggung. Dylan Jeon dari National Retail Federation menjelaskan bahwa penerapan surcharge berkaitan erat dengan tingginya biaya pemrosesan kartu yang harus dibayarkan merchant. Bagi bisnis dengan margin keuntungan tipis, biaya seperti ini tentu bisa cukup terasa.
Nilai transaksi kartu kredit juga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, belanja menggunakan kartu kredit mencapai sekitar US$6,46 triliun atau sekitar Rp114,3 kuadriliun, sementara biaya pemrosesan kartu meningkat 9,3% menjadi US$148,52 miliar atau sekitar Rp2.628 triliun. Jeon juga menyebut total swipe fee mencapai hampir US$200 miliar atau sekitar Rp3.538 triliun, sehingga biaya tersebut menjadi salah satu pengeluaran operasional terbesar bagi banyak retailer setelah biaya tenaga kerja.
5. Cara bayar sekarang ikut menentukan biaya belanja

ilustrasi tagihan, struk, pengeluaran, ngopi di kafe, pembayaran cashless (magnific.com/gpointstudio) Perubahan tersebut membuatmu perlu lebih memperhatikan metode pembayaran, terutama ketika berbelanja di merchant yang menerapkan biaya tambahan. Membayar tunai memang bisa membuat total transaksi dibulatkan, tapi selisihnya biasanya hanya berkaitan dengan beberapa sen atau sekitar ratusan rupiah. Sementara itu, surcharge kartu kredit bisa dihitung berdasarkan persentase nilai transaksi sehingga dampaknya berpotensi lebih besar ketika nilai belanja semakin tinggi.
Di sisi lain, perubahan sistem pembayaran ini juga menunjukkan bahwa cara masyarakat bertransaksi sedang mengalami pergeseran. Uang tunai semakin jarang digunakan, sedangkan kartu kredit dan metode pembayaran elektronik semakin dominan. Jadi, sebelum membayar, kamu gak cuma perlu melihat harga barang, tapi juga mengecek apakah ada biaya tambahan berdasarkan metode pembayaran yang kamu pilih.
Pada akhirnya, hilangnya koin satu sen bukan sekadar perubahan kecil dalam sistem uang tunai. Kebijakan tersebut berjalan bersamaan dengan meningkatnya penggunaan kartu dan biaya pemrosesan yang harus ditanggung merchant.
Buat kamu sebagai konsumen, memahami aturan pembayaran bisa membantu menghindari biaya yang sebenarnya bisa diprediksi sejak awal. Dengan begitu, kamu bisa memilih metode pembayaran yang paling masuk akal sesuai nominal belanja dan kebijakan merchant.





















