Gerimis mengawali hari
Sayup-sayup terdengar racau burung cekakak di dahan sepi
Diikuti semerbak harum teh melati yang mengoyak ruang
Menambah satu lagi puisiku yang lengang
Jika boleh aku melanglang buana lagi
Akan kusambangi pasar di sudut kota yang bersembunyi
Menjejaki ricuh tiap ruasnya, meresapi bising yang tercipta
Merangkap seluruh momennya ke dalam satu polaroid tua
Jika boleh aku menyusuri tepian pantai lagi
Menerima sapuan ombak yang bergegas menuju senja sunyi
Pualam jingga itu terlihat indah meski hanya sementara
Sebelum akhirnya terpasung dalam bingkai harapan yang fana
Jika boleh aku menarik selimutku lagi
Aku akan kembali melipat tangan dan berdoa
Semoga dalam mimpiku, ada hangat dari sisa kenangmu yang tertinggal
Semoga dalam mimpiku, kamu abadi dan nyata
Jika boleh aku mengukir kembali kisah-kisah yang dulu
Jika boleh aku memutar ulang video-video memorabilia itu
Jika boleh aku menyematkan semuanya di atas pusaramu
Maka akan kutunggu hadirmu dalam tiap kias yang kutoreh pilu
Harapan bahkan tak lagi terdengar manis di telingaku
Tapi Tuhan, permohonanku sederhana
Terhitung ribuan hari setelah ia gugur dan berpulang
Batu kerikilku dimulai dari sana
Pencarian pertamaku ada pada bayangnya
Antara ia yang telah mati
Dan aku yang masih menyusuri
Hari berkabungku sudah sepanjang ini
Melampaui semua musim yang silih berganti
Dan kamu ... masih saja tak pernah berhasil kutemui
Lantas, dengan cara apa lagi hadirmu kurasai?
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Aku, yang Berlama-lama Merawat Luka
![[PUISI] Aku, yang Berlama-lama Merawat Luka](https://image.idntimes.com/post/20260427/pexels-girlwithcanvas-7504412_264efb80-2b7f-406f-ab4e-662b8f3e4b7f.jpg)
ilustrasi jam saku antik (pexels.com/Manjari Singh)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Curated For You
- [PUISI] Kau Adalah Waktu11 Agu 2026, 05:04 WIB
- [PUISI] Gelombang Culas10 Agu 2026, 05:04 WIB
- [PUISI] Liturgi sang Pengembara Maut09 Agu 2026, 05:04 WIB
Editorial Team
EditorYudha
Related Article
[PUISI] Sisa dari Sebuah Penantian18 Agu 2026, 07:07 WIB
[PUISI] Anatomi Sunyi18 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Aku, yang Berlama-lama Merawat Luka18 Agu 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Tempat untuk Pulang17 Agu 2026, 16:07 WIB
[PUISI] Mantan Pengantin Masa Depan17 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Api yang Lahir dari Abu17 Agu 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Buta Warna16 Agu 2026, 22:48 WIB
[PUISI] Di Mana Surga Kami?16 Agu 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Bintang Jatuh Berlalu Lalang16 Agu 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Serangkai Lili Merana16 Agu 2026, 17:07 WIB
[PUISI] Undangan Paling Menyakitkan 16 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Rumah Suka Duka16 Agu 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Saat Semuanya Menumpuk di Dada15 Agu 2026, 21:17 WIB
[PUISI] Ke Mana Kita Menghadap15 Agu 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Pesona yang Tak Bernama15 Agu 2026, 18:07 WIB
[PUISI] Mengeja Ulang Langkah15 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Biar Takdir Membawaku Jauh15 Agu 2026, 05:04 WIB
[Puisi] Yang Tersisa Setelah Segalanya14 Agu 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Patah-Patah Napas14 Agu 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Pulang Kepada Diriku yang Sederhana14 Agu 2026, 07:07 WIB