Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Aku, yang Berlama-lama Merawat Luka
ilustrasi jam saku antik (pexels.com/Manjari Singh)

Gerimis mengawali hari
Sayup-sayup terdengar racau burung cekakak di dahan sepi
Diikuti semerbak harum teh melati yang mengoyak ruang
Menambah satu lagi puisiku yang lengang

Jika boleh aku melanglang buana lagi
Akan kusambangi pasar di sudut kota yang bersembunyi
Menjejaki ricuh tiap ruasnya, meresapi bising yang tercipta
Merangkap seluruh momennya ke dalam satu polaroid tua

Jika boleh aku menyusuri tepian pantai lagi
Menerima sapuan ombak yang bergegas menuju senja sunyi
Pualam jingga itu terlihat indah meski hanya sementara
Sebelum akhirnya terpasung dalam bingkai harapan yang fana

Jika boleh aku menarik selimutku lagi
Aku akan kembali melipat tangan dan berdoa
Semoga dalam mimpiku, ada hangat dari sisa kenangmu yang tertinggal
Semoga dalam mimpiku, kamu abadi dan nyata

Jika boleh aku mengukir kembali kisah-kisah yang dulu
Jika boleh aku memutar ulang video-video memorabilia itu
Jika boleh aku menyematkan semuanya di atas pusaramu
Maka akan kutunggu hadirmu dalam tiap kias yang kutoreh pilu

Harapan bahkan tak lagi terdengar manis di telingaku
Tapi Tuhan, permohonanku sederhana
Terhitung ribuan hari setelah ia gugur dan berpulang
Batu kerikilku dimulai dari sana
Pencarian pertamaku ada pada bayangnya

Antara ia yang telah mati
Dan aku yang masih menyusuri
Hari berkabungku sudah sepanjang ini
Melampaui semua musim yang silih berganti
Dan kamu ... masih saja tak pernah berhasil kutemui
Lantas, dengan cara apa lagi hadirmu kurasai?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎