Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[PUISI] Cukup Aku

[PUISI] Cukup Aku
ilustrasi berproses dengan diri sendiri (pexels.com/Guillermo Berlin)

Dahulu, kubungkus letih dalam senyap
Menitipkan langkah pada jalan yang bisu
Berjuang tanpa tapak yang tampak
Seakan diri tenggelam di waktu

Kupikir sorak adalah pelabuhan
Tempat lelahku berhak bersandar
Namun, kusadar tak semua goresan
Perlu dibaca oleh mata yang samar

Sebab perjalanan ini milikku sendiri
Tak butuh riuh, tak butuh riak
Cukup aku, cukup sunyi
Cukup proses yang mencatat jejak

Biarlah letih bersandar di dada
Tanpa diumbar ke angin lalu
Yang sejati tak haus cahaya
Cukup aku, cukup tahu

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Ruang yang Dirampas

16 Apr 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Ritmeku Sendiri

[PUISI] Ritmeku Sendiri

15 Apr 2026, 17:47 WIBFiction
[PUISI] Sisa Tawa di Dada

[PUISI] Sisa Tawa di Dada

15 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Ladang Bancakan

[PUISI] Ladang Bancakan

13 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Sempurna

[PUISI] Sempurna

12 Apr 2026, 17:48 WIBFiction
[PUISI] Asing

[PUISI] Asing

12 Apr 2026, 05:04 WIBFiction