Tiada lagi lazuardi dan awan putih
ketika petang sudah selesai
saatnya kita menyambut
rembulan di singgasana baru
tampak tersipu dan memerah
aku ingin merebah
sembari melantunkan balada
tentang cinta
lalu memeluk gemintang
satu per satu
hingga binasa.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Kala Langit Malam Tampak Malu-Malu
ilustrasi memandang langit malam (pixabay.com/Reinhardi)
Take a Deeper Read
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Curated For You
- [PUISI] Menerbangkan Memoar Dahulu29 Jan 2022, 21:04 WIB
Editorial Team
EditorSiti Atika Azzahrah
Related Article
[PUISI] Negeri Tanpa Nyawa08 Nov 2026, 21:51 WIB
[PUISI] Luka di Balik Percaya08 Nov 2026, 21:31 WIB
[PUISI] Tanpa Pilihan Pasti08 Nov 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Sidang di Dalam Dada08 Nov 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Anatomi Rindu yang Terlupakan08 Nov 2026, 07:07 WIB
[PUISI] Tong Kosong08 Nov 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Hanya Angka07 Nov 2026, 20:47 WIB
[PUISI] Menyembah Sepi07 Nov 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Izinkan Aku Gila Sebentar Saja, Tuhan07 Nov 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Bunga yang Dilarang Mekar06 Nov 2026, 21:17 WIB
[PUISI] Pelangi Setelah Kelabu06 Nov 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Patah Tak Menghentikan Arah06 Nov 2026, 17:07 WIB
[PUISI] Tentang Bunga yang Ingin Dirawat06 Nov 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Tata Krama06 Nov 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Kehidupan Terkurung Plastik05 Nov 2026, 20:52 WIB
[PUISI] Barangkali Hanya Mimpi05 Nov 2026, 18:47 WIB
[PUISI] Jejak Air Mata05 Nov 2026, 11:16 WIB
[PUISI] Cinta yang Berlari Tanpa Sepatu05 Nov 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Sepasang Mata yang Kian Mencari04 Nov 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Bintang Keberuntungan04 Nov 2026, 20:17 WIB