Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Nama yang Tetap Kupanggil

1 min read
[PUISI] Nama yang Tetap Kupanggil
ilustrasi pemakaman (Pexels.com/Brett Sayles)
  • Puisi menggambarkan rumah yang masih menyimpan jejak seorang anak, dari mainan di sudut kamar hingga pintu yang dibuka dengan harapan ia pulang.
  • Tokoh aku terus menyebut nama, memimpikan, dan mencari sosok tersebut dalam tawa serta wajah-wajah kecil, menandakan kehilangan yang sangat mendalam.
  • Meski orang lain menyebut waktu akan menyembuhkan, tokoh aku memanjatkan doa agar sosok yang pergi tumbuh damai tanpa sakit, takut, dan air mata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rumah ini masih menyimpan suaramu
mainanmu masih terbaring di sudut kamar
dan pintu masih kubuka perlahan
seperti berharap langkah kecilmu
akan berlari memanggilku pulang

Aku masih menyebut namamu
ketika pagi datang membawa cahaya
masih memimpikanmu di tidur malamku
masih mencarimu di antara wajah-wajah kecil
masih menoleh setiap mendengar tawa

Orang-orang berkata waktu akan menyembuhkan
tetapi bagaimana mungkin luka ini sembuh
jika yang hilang bukan sekadar kenangan
melainkan separuh hidupku sendiri?

Jika cinta dapat menembus langit
semoga kau mendengar setiap doaku
Tumbuhlah dengan damai di sana
tanpa sakit, tanpa takut, tanpa air mata

    This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
    Share Article
    Editorial Team

    Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia