Pernah ada musim,
tatkala rebah tak lebih lama dari senja.
Cahaya merapikan diri ke sudut-sudut rumah.
Malam menyapa dengan kedua tangan kosong.
Tak ada yang terbawa ke seberang pagi.
Hingga musim berganti.
Rebah masih kembali pada tubuh yang sama.
Namun, ia tak lagi hadir sebagai tempat usai.
Hanya tubuh yang terbaring,
sedang hari tak kunjung memejamkan diri.
Maka rebah pun tak selalu sampai pada reda.
Bahkan setelah jendela-jendela mengatupkan malam,
masih ada yang belum selesai dipulangkan.
![[PUISI] Rebah yang Dirindukan](https://image.idntimes.com/post/20260615/annie-spratt-sjdnvzhgasu-unsplash_d9d14e78-6d08-45ea-938a-820c0b8d586e.jpg)