[CERPEN] Di Balik Wajah Kulkas Tujuh Pintu

- Pagi Senin yang aneh, jantung berdebar kencang dan sesak napas tanpa alasan fisik.
- Bertemu wanita idaman dari media sosial di taman kampus, membuat hari terasa surealis.
- Kekaguman semakin bertambah saat melihat kecerdasan dan prestasi wanita tersebut di kelas.
Senin pagi itu, udara Depok terasa menipu. Oksigen yang kuhirup begitu segar, seolah-olah aku baru saja membuka jendela di sebuah vila di kaki pegunungan, bukan di tengah hiruk-pikuk kota penyangga. Namun, anomali cuaca ini tak sejalan dengan apa yang terjadi di dalam rongga dadaku. Begitu aku melangkahkan kaki keluar pagar rumah, jantungku rasanya seperti baru saja dipukul palu godam—berdentum kencang, tidak beraturan, meninggalkan nyeri yang menjalar hingga ke ulu hati.
Dadaku sesak, seakan paru-paruku menyempit mendadak. Suara detak jantungku sendiri menggema di telinga, menenggelamkan suara kokok ayam tetangga atau deru kendaraan yang mulai memadati jalanan.
Aku menaiki motor dengan gerakan mekanis. Saat mesin menderu nyaring, kewarasanku sepertinya tertinggal di garasi. Tarikan gasku liar, tak lagi memedulikan jeritan mesin tua yang kusiksa. Aku membelah jalanan basah sisa hujan semalam dengan kecepatan yang mungkin bisa membuat malaikat pencabut nyawa geleng-geleng kepala.
Sambil menarik gas lebih dalam, aku mencoba meraup napas sebanyak-banyaknya. Aku berusaha mencuri udara pagi yang belum teracuni polusi sepenuhnya. Langit di atasku masih muram; awan cumulonimbus tebal menggantung rendah, sisa-sisa hujan sebelum matahari terbit yang menyirami bumi tanpa henti. Namun, oksigen murni itu seakan tertahan di tenggorokan. Tarikan napas panjang itu gagal membuat dadaku lega. Rasa sesak itu bukan karena asma atau penyakit fisik, melainkan manifestasi dari kecemasan yang tak terjelaskan akan hari ini.
Tibalah aku di area parkir kampus dengan wajah kaku dan pucat pasi. Tanganku gemetar saat memutar kunci kontak ke posisi off. Dengan langkah berat, aku menyeret kakiku menuju taman kampus, tempat yang disepakati untuk memulai praktik mata kuliah lapangan hari ini.
Sepanjang jalan setapak, tangan kananku tak henti-hentinya memegangi dada kiri. Telapak tanganku basah oleh keringat dingin, kontras dengan udara pagi yang sejuk. Aku meremas kemejaku, berusaha menekan jantung agar kembali ke ritme normalnya. Mulutku komat-kamit merapalkan doa, mantra, atau apa pun yang bisa mengembalikan kepercayaan diri yang tercecer di aspal jalanan tadi.
Namun, skenario Tuhan pagi itu sungguh di luar dugaan.
Ketika tubuhku hampir mencapai bibir taman, bukannya mataku sibuk mencari gerombolan teman sekelas, tubuhku justru membeku seketika. Kakiku terpaku di atas paving block yang lembap. Hatiku yang tadi hanya berdebar karena cemas, kini dihantam gelombang panik yang jauh lebih hebat. Rasanya seperti ada tangan raksasa yang meremas isi perutku. Pikiranku melayang, rasanya ingin terbang menembus awan kelabu itu, atau menghilang saja ditelan bumi. Perasaan itu bukan takut, melainkan campuran antara keterkejutan yang ekstrem dan euforia yang mematikan.
Semua bermula ketika kepalaku menoleh ke arah bangku taman di bawah pohon mahoni. Mataku tertumbuk pada sosok seorang wanita.
Bukan sembarang wanita. Dia adalah sosok yang selama berbulan-bulan ini hanya bisa kupandangi lewat layar 6 inci handphone-ku. Sosok yang fotonya sering kali membuat jempolku tertahan lama untuk sekadar menatap sebelum menekan tombol like.
Wajahku dipenuhi rasa heran dan ketidakpercayaan. Refleks, aku menepuk-nepuk pipiku sendiri agak keras. Plak! Plak!
"Apakah aku tidak salah lihat? Ini bukan halusinasi efek kurang tidur, kan?" gumamku, memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi di siang bolong.
Setelah mengerjap berkali-kali, realitas menghantamku. Itu benar-benar dia. Yang lebih mengejutkan, di sebelahnya duduk Rama, teman sekelasku yang terkenal supel itu. Mereka tampak berbincang santai. Dan tepat di detik itu, seolah semesta sengaja mengatur spotlight, wanita itu menoleh ke arahku.
Dia menatapku.
Tangannya yang lentik bergerak pelan, menyisir rambutnya yang hitam kecokelatan dan bergelombang indah tertiup angin. Gerakan sederhana itu, demi Tuhan, terlihat seperti adegan slow motion di film-film romantis.
Sekujur tubuhku kaku, tersipu malu hingga ke tulang sumsum. Darahku berdesir panas naik ke wajah. Namun, ego laki-lakiku menolak untuk terlihat lemah. Aku memaksakan kakiku melangkah menghampiri mereka.
Aku memasang topeng andalanku: Wajah Kulkas Tujuh Pintu.
Ekspresiku kubuat sedingin mungkin, datar, tanpa emosi. Padahal, di balik wajah tembok itu, tersimpan detak jantung yang berpacu semakin gila, membuatku sesak napas dan pusing tujuh keliling. Kesadaranku rasanya timbul tenggelam. Saat aku berdiri di hadapan mereka dan mengulurkan tangan untuk bersalaman, keseimbanganku goyah. Aku hampir limbung, seperti orang mabuk laut yang baru mendarat di dermaga.
"Eh, Bro! Sini gabung," sapa Rama santai, tidak menyadari badai yang berkecamuk di dalam diriku.
Wanita itu menyambut uluran tanganku. Kulitnya terasa halus dan hangat, sangat kontras dengan tanganku yang sedingin es batu.
"Hai," ucapnya singkat diiringi senyuman tipis.
Hari itu rasanya benar-benar surealis. Sebelumnya, aku hanyalah pengagum rahasia yang memandang wajahnya yang diselimuti pancaran sinar rembulan dari media sosial. Aku hanya berani menebak-nebak seperti apa suaranya, seperti apa wangi parfumnya. Namun, kali ini, aku bagaikan musafir yang menemukan oasis di tengah gurun pasir. Aku telah menemukan "surga"-ku. Aku bisa berhadap-hadapan langsung, bahkan bersentuhan kulit dengan wanita yang kukagumi dalam diam selama ini.
Sepanjang kegiatan di taman, aku mempertahankan pertahananku. Di balik wajahku yang kaku dan minim senyum, mataku adalah pengkhianat terbesar. Mataku tak tahan untuk tidak melirik curi-curi pandang ke arahnya. Melihatnya secara langsung memberikan efek menenangkan yang aneh, sejuk bak melihat matahari terbit dari puncak Gunung Rinjani setelah pendakian yang melelahkan.
Setiap kali dia berbicara, hatiku terasa damai seperti sedang duduk di tepi pantai, mendengarkan deburan ombak yang lembut. Suaranya renyah dan tertata. Tidak hanya itu, aku juga merasakan manisnya kehidupan saat melihat senyum simpul terbit dari bibirnya yang mungil ketika menanggapi candaan Rama.
Ketika posisi kami berdekatan saat mengamati objek praktik, aku sesekali menarik napas panjang dan dalam. Bagaikan itu adalah napas terakhirku, aku ingin merekam aroma keberadaannya ke dalam memori otakku. Aku sering menundukkan kepala, berpura-pura sibuk mencatat, bak sedang khusyuk mengheningkan cipta. Padahal, aku sedang menyimak setiap kata per kata yang keluar dari mulut kecilnya.
Kekagumanku sudah di ambang batas. Ternyata, dia bukan hanya modal tampang. Saat dosen bertanya, dia menjawab dengan cerdas dan lugas. Selain mengagumi parasnya yang cantik jelita, aku kini juga mengagumi otaknya yang encer. Prestasinya yang gemilang bagaikan "Sang Mega Bintang"—bersinar terang tanpa tandingan di antara mahasiswa lainnya.
Hari itu pun berlalu dengan sisa-sisa debaran yang masih tertinggal.
Waktu bergulir cepat hingga Jumat tiba. Pagi menjelang siang itu, lorong kampus masih lengang. Belum banyak mahasiswa berlalu-lalang karena sebagian besar kelas belum bubar. Aku baru saja hendak keluar dari kelasku, melangkah menuju ambang pintu, ketika telingaku menangkap frekuensi suara yang begitu lekat di ingatan.
Suara itu.
Meski pelan dan berbaur dengan gema lorong, aku tahu persis siapa pemiliknya. Sebelumnya, aku hanya bisa mereka-reka suaranya lewat story Instagram berdurasi 15 detik. Namun setelah pertemuan Senin lalu, suara itu sudah terpatri di hipokampusku.
Setelah aku melangkah keluar dan menengok ke arah kanan lorong, mataku memvalidasi apa yang didengar telingaku. Itu memang suara yang keluar dari bibir manis wanita yang kukagumi. Dia sedang berjalan dari arah berlawanan bersama seorang temannya.
Seketika, sindrom Senin pagi itu kambuh lagi. Aku berjalan menyusuri lorong dengan detak jantung yang tidak lagi normal. Aura senyumnya yang menawan, yang terlihat dari kejauhan, selalu sukses membuatku kehilangan sebagian kesadaran. Pikiranku kacau, kelimpungan mencari pegangan logis.
Jarak kami semakin dekat. Dia melangkahkan kakinya ke arahku, begitupun aku yang terpaksa harus melangkah menyongsongnya. Tidak ada jalan memutar.
Langkahku menjadi aneh, penuh salah tingkah. Rasanya aku lupa cara berjalan yang benar. Apakah tanganku harus diayun? Apakah aku harus melihat ke depan atau ke lantai? Kepercayaan diriku luntur seketika. Aku, si pria "kulkas tujuh pintu", mendadak kehilangan sisi maskulinitasku. Aku berjalan sambil menunduk, tidak punya nyali untuk menatap matanya lagi.
Namun, tepat saat kami berpapasan, di titik temu lorong yang sunyi itu, aku merasakan angin kecil berhembus saat ia melewatihku.
"Duluan ya," ucapnya lembut, menyapaku lebih dulu.
Kepalaku terangkat sedikit, terkejut. "Eh, iya. Hati-hati," jawabku gagap, suaraku terdengar sumbang di telingaku sendiri.
Dia berlalu, meninggalkan jejak wangi yang lembut di udara. Aku berhenti sejenak, membalikkan badan menatap punggungnya yang menjauh. Jantungku masih berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena panik. Ada senyum kecil yang akhirnya berhasil lolos dari wajah kakuku. Jumat ini, sepertinya akan menjadi hari yang baik.

















