[CERPEN] Bersama Hujan, Kereta, dan Masa Lalu

Suara pengumuman kedatangan kereta di stasiun terdengar tepat pukul 00.00 yang bersamaan dengan dentingan suara jam besar di ruang tunggu. Dini hari yang dingin karena hujan turun tanpa henti sedari siang tadi. Sambil mendorong satu koper kecilnya, Derana membaurkan diri bersama ratusan penumpang lainnya.
Akhirnya, setelah empat tahun berada di kota rantau ini, Derana memberanikan diri untuk pergi. Meninggalkan semua kenangan baik dan buruk. Bersiap membuka lembaran baru di tempat yang baru juga.
Kereta melaju dan kota yang jalanannya selalu ramai itu terlewati begitu saja. Air mata yang menetes disekanya dengan ujung sweater yang dikenakan.
Derana selesai dengan kota ini. Dirinya berharap tak akan kembali lagi menginjakkan kaki di kota tempatnya menempuh pendidikan selama empat tahun ini.
Lebih tepatnya, Derana tak ingin kembali bertemu dengan seseorang yang meninggalkan jejak di hatinya. Derana terlalu lelah untuk menyalahkan diri sendiri atas hubungan yang dijalaninya selama ini.
Saat itu dirinya hanya ingin fokus menyelesaikan studi, tetapi seorang laki-laki bernama Nakula hadir dalam hidupnya. Nakula memberikan kasih sayang dan rasa cinta yang terus-menerus dan berulang. Laki-laki itu datang membawakan sesuatu yang tak pernah didapatkannya.
Derana terbiasa hidup tanpa kasih sayang ayahnya dan terbiasa mendengar pertikaian di rumah. Orangtuanya tak bercerai, tetapi cekcok adalah suara harian yang didengar Derana. Gadis itu lebih terbiasa tak dicintai dan disayangi.
Menjalani hubungan dengan Nakula membuat Derana merasa utuh. Euforia dicintai sedemikian rupa membuatnya terbuai. Dirinya rela menyesuaikan diri seutuhnya demi tetap menjadi Derana-nya Nakula.
Derana hanya membutuhkan cinta dan kasih sayang dan Nakula mampu memberikannya. Namun, Derana tak menyadari jika ada konsekuensi yang harus diterimanya.
Dirinya menjadi sangat terikat dengan Nakula dan tanpa sadar lebih banyak menyalahkan diri sendiri atas permasalahan yang mereka alami. Derana juga dibatasi untuk berhubungan dengan teman-temannya.
“Temen-temen kamu itu enggak baik. Buktinya mereka mau jauhin kamu dari aku. Padahal selama ini kamu bahagia sama aku, ‘kan?” kata Nakula suatu hari.
Derana mengangguk, “Iya.”
“Good!” Nakula tersenyum. “Bukan aku yang perlu kamu jauhi, tapi temen-temen kamu. Ngerti, Ra?”
“Iya,” jawab Derana.
Semuanya terjadi selama tiga tahun lamanya. Derana yang awal semester aktif mengikuti kegiatan kampus dan memiliki banyak teman pada akhirnya hanya menghabiskan waktu dengan Nakula.
Teman-teman Derana pun akhirnya menjauh, merasa Derana tidak lagi bisa digapai dan tidak membutuhkan teman lain.
Sore itu Nakula datang ke kontrakannya dengan emosinya yang meluap, Derana hanya bisa menangis di belakang Nilam. Satu-satunya teman yang dijadikan teman curhat Derana tanpa sepengetahuan Nakula.
Nakula menyalahkan Derana atas banyak hal, termasuk saat Nakula gagal dalam perlombaan fotografi. Kata Nakula, Derana merusak semua hasil foto karena ekspresinya yang tidak professional.
“Kamu tuh manusia, tapi ekspresi kayak nenek sihir, Ra! Semua hasil foto jelek karena kamu enggak becus pasang ekspresi wajah! Nyesel aku jadiin kamu sebagai model!” bentak Nakula saat itu.
Jujur Derana malu saat Nilam mendengar hardikan langsung dari Nakula. Untungnya laki-laki itu langsung pergi setelah Derana memberanikan diri mengakhiri hubungan mereka.
Jangan ditanya bagaimana amarah Nakula saat itu. Untungnya penghuni kontrakan lain tidak ada di tempat karena pulang kampung dan keluar. Nilam yang akhirnya menenangkan dan mengusir Nakula dengan mengancam akan menghubungi polisi.
“Aku bantu kemas barang. Kamu pulang malam ini aja. Orang gila itu bisa datang lagi kalau kamu masih di sini,” ujar Nilam.
Segelintir ingatan sore tadi terulang di benaknya. Derana berharap keputusannya untuk pergi merupakan pilihan yang tepat.
“Aku berhak bahagia.”
“Aku berhak dicintai dan mencintai secara seimbang.”
Sebelum benar-benar tertidur, Derana berharap semua kejadian hari ini bukanlah ilusi. Ia berharap dirinya benar-benar bisa bebas dan bisa membuka lembaran baru.
“Semua akan baik-baik saja,” gumamnya lalu menyelimuti diri sendiri dengan sweaternya. Dirinya tertidur bersama puluhan orang lainnya di dalam gerbong ditemani hujan yang terus mengguyur.
Saat pagi menjelang tiba nanti, dirinya hanya berharap dapat memulai kehidupan barunya. Derana tahu itu tidak mudah, tetapi semoga doanya di dengar alam dan dikabulkan oleh Tuhan. Dirinya sekarang hanya manusia yang tidak berdaya, tetapi semoga Tuhan berkenan mengabulkan harapan dan doanya.