Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[CERPEN] Kota Anemia: Kota yang Kehilangan Kesadaran Lingkungan

[CERPEN] Kota Anemia: Kota yang Kehilangan Kesadaran Lingkungan
Sampah Medis di TPST Bantar Gebang (IDN Times/Reynaldy Wiranata)
Intinya Sih

  • Kota kecil tercemar oleh sampah dan limbah, meracuni lingkungan dan mengganggu kesehatan warga.

  • Warga kota acuh tak acuh terhadap masalah sampah, membuang sembarangan tanpa peduli dampaknya.

  • Petugas kebersihan kesulitan membersihkan sampah karena kurangnya kesadaran warga dalam membuang sampah pada tempatnya.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pagi menyapa kota kecil dengan hangatnya sinar matahari. Langit membentang cerah tanpa awan, seperti menjanjikan hari yang indah. Jalanan mulai dipenuhi aktivitas: orang-orang berangkat kerja, anak-anak berjalan tergesa menuju sekolah, dan sebagian lagi baru pulang dari sif malam. Kota perlahan menggeliat.

Namun, di balik cerahnya pagi itu, ada pemandangan yang mengusik mata hingga hidung. Sampah-sampah berkumpul di trotoar bak keluarga. Limbah pabrik berlayar, meracuni ikan-ikan, dan asap kendaraan menikam paru-paru, hingga bau tak sedap menyelinap, menyelinap mencekik hidung.

Kertas bekas bungkus makanan, botol minuman, hingga plastik-plastik memenuhi trotoar bagaikan pameran seni. Mereka bukan lagi sampah, mereka menjadi seni kota. Tersangkut di sela-sela kursi taman, terhimpit di antara akar pohon rindang, hingga berlayar di atas parit.

Warga kota berjalan seolah tak melihat. Dengan santai, tangan-tangan membuang sampah ke jalan tanpa berpikir panjang. Seolah-olah itu semata-mata tugas petugas kebersihan. Angin mulai memainkan perannya. Plastik-plastik ringan berdansa bersama di udara; berputar, melayang, menabrak sepeda motor, hinggap di teras rumah, lalu terjerembap ke selokan. Parit-parit penuh, tersumbat, dan air mulai tergenang. Seekor tikus ke sana-kemari di antara bangunan kota, berpesta memakan sisa makanan. Di sungai, ikan-ikan mabuk mengambang tanpa arah, tercemar oleh limbah manusia yang tak peduli.

Di pojok taman, seorang petugas kebersihan berhenti sejenak. Ia menghela napas panjang. Tangannya kotor, punggungnya basah oleh keringat. Satu per satu, ia pungut sampah yang berserakan.

“Kalau saja semua orang sadar buang sampah pada tempatnya,” gumamnya lirih, “aku mungkin tak harus memungut sampah yang sama setiap hari.”

Namun, gumam itu tenggelam dalam gelak tawa sekelompok remaja yang melintas. Dengan enteng, mereka melempar gelas plastik ke selokan. Tertawa. Seolah tak tahu, atau tak mau tahu, bahwa bumi sedang sakit.

Angin terus berembus. Sampah masih beterbangan. Dan kesadaran untuk peduli, menjaga, dan merawat kota ini, masih entah di mana.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More
[PUISI] Lemah Tapi Kuat

[PUISI] Lemah Tapi Kuat

25 Jun 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Secercah Gelisah

[PUISI] Secercah Gelisah

24 Jun 2026, 21:17 WIBFiction
[PUISI] Lumbung Kosong

[PUISI] Lumbung Kosong

23 Jun 2026, 07:07 WIBFiction
[PUISI] Menebak Arah Dunia

[PUISI] Menebak Arah Dunia

23 Jun 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Batas Nalar

[PUISI] Batas Nalar

22 Jun 2026, 21:27 WIBFiction
[PUISI] Lembaran dan Balon

[PUISI] Lembaran dan Balon

22 Jun 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Andai Aku Cantik

[PUISI] Andai Aku Cantik

21 Jun 2026, 07:07 WIBFiction
[PUISI] Rahasia Surga

[PUISI] Rahasia Surga

20 Jun 2026, 20:38 WIBFiction