Comscore Tracker

[CERPEN] Hujan di Rel Malam

Antara Mimpi dan Kenyataan, Antara Kenangan dan Penyesalan.

Kamu berdiri memejamkan mata, merasakan dinginnya malam. Kamu buka matamu dan di hadapanmu hanyalah reruntuhan stasiun tua. Kamu tersenyum, entah karena panggilan diri ataukah peringatan yang keras. Apa pun itu, rasa syukur tercurah dari musibah ledakan yang telah menghilangkan lengan kananmu.

Langkahmu tenang di antara petak-petak lantai yang telah ditumbuhi rerumputan liar, matamu menyelidiki sekitarmu yang meninggalkan kenangan hitam dan gelap. Walaupun abu dan api telah tiada, aroma terbakar masih menyisakan baunya dalam hatimu. Malam yang tenang, berawan yang menutup lembutnya rembulan. Cahaya remang yang syahdu memperkuat kenanganmu sewaktu pertama kali menginjak stasiun ini.

Kamu berpegangan tangan dengan ibumu. Usiamu mungkin sekitar sepuluh atau sembilan tahun, kira-kira masa di mana kamu masih belum bisa membuka botol selai sendiri atau mengikat tali sepatu. Kamu melihat ke sekeliling, kamu seolah mengharapkan sesuatu yang hebat terjadi.

"Jangan terlalu bersemangat,___. Nanti kamu cepat lelah sebelum kita sempat bermain di taman nanti," kata ibumu sambil menggandeng keranjang piknik.

Ayahmu telah kembali dari membeli sesuatu yang tidak kamu ketahui namanya; panjang setelapak tangan, berwarna coklat tua, dan berbau aneh menurutmu. Kemudian berbicara dengan ibumu dengan nada gembira.

Kamu kurang memahami atau mengikuti pembicaraan orang tuamu, jadi kamu hanya terpaku pada rel kereta dan kereta yang perlahan mendekat. Begitu peluit kereta berbunyi, Kamu langsung menarik tangan ibumu.

Kalian bertiga masuk ke dalam gerbong kereta tersebut, untuk pergi ke suatu tempat dalam rangka piknik keluarga untuk merayakan keberhasilanmu dalam meraih nilai bagus di sekolah.

Sebuah bangku yang hanya tinggal setengah menjadi tempat dudukmu setelah berkeliling beberapa langkah. Kamu menatap langit erat-erat yang telah memiliki awan yang siap melontakkan halilintarnya. Seketika cahaya menyelimuti mata dan sekelilingmu, kilat itu menyambar pohon di seberangmu dan membelahnya jadi dua. Cahaya yang membutakan itu membangkitkan kenangan atas peristiwa itu.

Kamu berlari memasuki kerumunan orang yang lalu-lalang di stasiun. Nafas yang terengah-engah membuat pandanganmu goyah. Kamu pun duduk di sebuah bangku panjang dimana banyak orang duduk menunggu kereta datang.

Tepatnya pada bel tengah hari di jam stasiun dan peluit kereta berbunyi, seketika kamu merasakan dirimu seperti terlontak ke udara. Untuk anak berusia dua belas tahun, daya angkatnya tidak begitu tinggi tapi rasanya cepat dan sangat sakit. Belum suara yang memekikkan telinga tadi kamu kenali, sebuah batu menghantam kepalamu. Gelap langsung menyelimuti pandanganmu, dan suara-suara perlahan menghilang.

Penyesalan, itulah yang menyelimuti pikiranmu. Kamu mengetahui kesalahanmu di sekolah bukanlah hal yang menyebabkanmu lari dari rumah, kamu hanya tidak kuat dengan kemarahan ayahmu yang meledak-ledak. Kamu sakit hati dan ingin berlari sejauh-jauhnya.

Langkahmu perlahan menuju kumpulan lubang gelap yang menyisakan ruang untuk tanaman liar tumbuh di dalamnya. Dinding-dinding yang bolong dan kaca-kaca yang telah pecah menjadi saksi bisu terhadap dahsyatnya ledakan bom teroris itu. Kamu hanya bisa menatap sepetak lantai yang berbaur dengan tanah, dimana kamu melihat orangtuamu menghembuskan nafas terakhir mereka.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Sebuah teriakan menyadarkanmu akan situasi yang terjadi, kamu terbangun dengan selimut debu dan pusing menyakitkan. Kamu tidak dapat bergerak, dan kamu segera tahu sebabnya setelah melihat apa yang ada sekelilingmu.

Kamu terkubur dalam reruntuhan. Kamu berteriak meminta pertolongan, sebuah suara membalas dari atas. Kemudian tak berselang lama, beberapa orang bertubuh kekar membuka perangkap maut itu. Kamu digotong dengan tandu oleh orang-orang berbaju putih.

Kamu tidak ingin mempercayai apa yang baru saja kamu lihat. Dua tubuh yang sangat mirip dengan kedua orang tuamu terkulai tak berdaya di antara puing-puing dengan luka yang terbuka dan darah mengering, mustahil bagi siapa saja untuk hidup dengan luka sebesar itu di punggung dan dada mereka.

Tanpa terasa matamu sembap karena air hangat yang mengalir dari matamu, pandanganmu kabur dan perih semakin menjadi. Kamu merasa ingin berteriak namun tak mampu, pikiranmu tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Rasanya kematian akan lebih baik bagi dirimu.

Hujan mulai turun, tidak begitu deras namun dingin menyambut dengan segera. Uap Nafasmu membeku perlahan, tak begitu kelihatan namun menusuk hidung dan daun telinga. Malam yang dingin, untuk kenangan yang dingin, di hari yang sama pada rentang 15 tahun setelah itu. Setiap tahun-tahun sebelumnya selalu begini, hanya berbeda suasana dan busana.

Kamu seolah tidak ingin lepas daripada kenangan yang merubah pandangan hidupmu ini, menjadikanmu lebih kuat untuk menghadapi tantangan hidup. Rasa bersalah yang membuatmu ketakutan akan kesalahan yang berikutnya. Selama lenganmu yang telah diamputasi menemanimu hingga sekarang.

Kamu mendengar suara yang tak asing lagi, karena itulah yang kamu tunggu selama ini. Cahaya lampu kuning yang terang menelan bayangan hitam dan gelap. Kereta itu berhenti tepat di depanmu dan membukakan pintunya. Kamu tersenyum lega kemudian masuk ke dalam cahaya yang menyelimuti seluruh gerbong itu. Begitu pintu tertutup, Hujan memakan semua suara dan derasnya menutupi semua jejak-jejak. Lenyaplah kereta itu, seolah tak pernah datang sama sekali.

...

Pemakaman Umum, sebuah taman peristirahatan semua orang yang telah menghabiskan seluruh waktunya. Hari ini ada seseorang yang bergabung, di sebuah sebelah dari makam yang lebih tua. Seseorang berumur 26 tahun yang meninggal karena demam dikuburkan berdampingan dengan makam orang tuanya yang menjadi korban dari ledakan bom teroris di sebuah stasiun yang ramai.***

 

By tanganair

 

Baca Juga: [CERPEN] Kota Ini Penuh dengan Binatang

tanganair Photo Writer tanganair

Saya seorang seniman dan sastrawan eksperimental yang menyukai hal aneh dan berbanding terbalik.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya