Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Menarik Terasi, Bahan Pangan dari Fermentasi Udang Rebon
ilustrasi terasi (commons.wikimedia.org/Peachyeung316)
  • Terasi dibuat melalui fermentasi udang rebon atau ikan kecil dengan garam, kemudian dijemur, dihaluskan, dan didiamkan hingga berubah menjadi pasta berwarna gelap.
  • Proses fermentasi mengurai protein menjadi asam amino, terutama glutamat, yang menghasilkan rasa umami kuat untuk sambal, tumisan, nasi, dan berbagai masakan Nusantara.
  • Terasi juga populer di Asia Tenggara dengan nama berbeda serta mengandung protein dan mineral, tetapi kandungan garamnya tinggi sehingga perlu dikonsumsi secukupnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Terasi, nama ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga kamu. Terbuat dari fermentasi udang rebon atau ikan, bahan pangan ini menawarkan rasa gurih dan aroma yang khas. Terasi sering diandalkan sebagai penambah cita rasa dalam berbagai masakan Nusantara, khususnya sambal.

Tak hanya di Indonesia, terasi juga populer di kawasan Asia Tenggara dengan berbagai nama, lho. Di Malaysia dan Singapura, terasi dikenal dengan nama belacan. Sementara di Filipina, hasil fermentasi udang ini dikenal dengan nama bagoong-alamang, buronghipon, dinailan, dan lamayo. Yuk, temukan deretan fakta menarik tentang terasi lainnya dalam artikel berikut!

1. Terbuat dari fermentasi udang rebon atau ikan kecil

ilustrasi udang rebon (pexels.com/Ponsakthi Anand)

Terasi terbuat dari fermentasi udang rebon atau ikan kecil. Udang rebon dan ikan segar dicuci bersih lalu dijemur di bawah sinar matahari hingga setengah kering. Selanjutnya, udang dan ikan tersebut dihaluskan bersama dengan garam sebagai pengawet alami.

Setelah itu, adonan udang dan ikan yang sudah dihaluskan didiamkan berhari-hari hingga mingguan untuk proses fermentasi. Setelah fermentasi sempurna, adonan akan berubah warna menjadi lebih gelap kemerahan atau coklat kehitaman dan memadat seperti pasta. Nah, agar lebih menarik di pasaran, terasi biasanya dikemas dengan berbagai bentuk. mulai dari balok, kepingan, hingga bubuk.

2. Pemberi rasa umami alami pada masakan

ilustrasi sambal terasi (pexels.com/kevin yung)

Terasi dikenal sebagai pemberi rasa umami alami yang sangat kuat. Cukup dengan menambahkan sedikit saja, terasi mampu mengubah masakan biasa langsung naik level jadi lebih gurih, beraroma, dan menggugah selera. Tak heran kalau banyak masakan Nusantara yang tak bisa lepas dari terasi, mulai dari aneka sambal, tumisan sayur, hingga nasi.

Fyi, sumber rasa umami dari terasi ini berasal dari proses fermentasi jangka panjang, lho. Selama fermentasi, protein dari udang dan ikan akan terurai menjadi asam amino bebas, terutama asam glutamat. Asam glutamat inilah yang menciptakan rasa gurih di lidah yang mirip dengan MSG. Makin lama proses fermentasinya, semakin dalam dan kompleks juga rasa umami yang dihasilkan.

3. Populer di Asia Tenggara dengan berbagai nama

ilustrasi pasta terasi (pexels.com/Melike B)

Tak hanya Indonesia yang memanfaatkan terasi sebagai penambah cita rasa masakan Nusantara. Bahan pangan ini juga populer di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, Filipina, hingga Thailand. Hanya saja penyebutan namanya berbeda-beda.

Di Malaysia dan Singapura, terasi dikenal dengan nama belacan. Sementara di Filipina, hasil fermentasi udang ini dikenal dengan nama bagoong-alamang, buronghipon, dinailan, dan lamayo. Di Thailand, terasi dikenal dengan nama kapi yang warnanya jauh lebih muda dan pucat dibanding terasi lokal.

4. Nutrisi dan mineral yang terkandung dalam terasi

ilustrasi terasi (magnific.com/magnific)

Karena terbuat dari udang rebon dan ikan kecil, terasi mengandung nutrisi dan mineral penting. Di dalamnya terdapat protein, kalsium, fosfor, zat besi, serta vitamin B12 yang baik untuk tubuh. Kandungan kalsiumnya yang tinggi dari cangkang udang bahkan bermanfaat untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi.

Meski demikian, jangan berlebihan menambahkan terasi dalam masakan. Diketahui terasi memiliki kandungan garam yang cukup tinggi akibat proses fermentasi. Jika dikonsumsi terlalu banyak, dapat memicu hipertensi.

5. Tips memilih terasi

ilustrasi memilih terasi (pexels.com/RF._.studio _)

Memilih terasi bukan cuma soal rasa, tapi juga soal kualitas dan keamanannya. Agar cita rasa masakanmu makin pas, berikut sejumlah tips memilih terasi yang dapat kamu ikuti.

  1. Pilih terasi dengan warna cokelat tua, cokelat kemerahan, atau cokelat kehitaman. Jangan pilih terasi dengan warna merah atau ungu yang terlalu terang dan mencolok yang dikhawatirkan mengandung pewarna tambahan yang berlebihan dan kurang aman untuk dikonsumsi.

  2. Hindari terasi yang berbau apek berlebihan atau beraroma bahan kimia yang menyengat. Pilih terasi yang memiliki aroma khas udang atau ikan fermentasi yang alami.

  3. Terasi yang baik biasanya memiliki tekstur yang padat, kompak, tetapi tidak terlalu keras dan mudah dihancurkan.

  4. Selain itu, pilih terasi dengan kemasan yang masih utuh, bersih, dan tertutup rapat.

  5. Jangan lupa, cek juga izin edar BPOM dan label halal yang tertera dalam kemasan terasi.

Itu dia sejumlah fakta menarik tentang terasi, mulai dari bahan dasar, proses pembuatan, hingga cita rasa khas yang tak tergantikan. Asal dikonsumsi secukupnya, terasi masih bisa kok jadi bumbu andalan penambah cita rasa yang membuat masakanmu makin istimewa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article