Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Safron Disebut Emas Merah? Ini Fakta Menariknya

Kenapa Safron Disebut Emas Merah? Ini Fakta Menariknya
ilustrasi safron (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Saffron dijuluki 'emas merah' karena proses panennya sangat rumit, dilakukan manual, dan membutuhkan ketelitian tinggi sehingga setiap helainya bernilai mahal.
  • Dibutuhkan ratusan ribu bunga Crocus sativus untuk menghasilkan sedikit safron kering, membuat rempah ini langka dan berharga tinggi di pasaran.
  • Warna merah, aroma khas, serta budidaya yang hanya cocok di wilayah tertentu menjadikan safron simbol kemewahan dan kualitas dalam dunia kuliner global.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saffron belakangan ini semakin sering muncul dalam berbagai konten kuliner, minuman, hingga gaya hidup sehat. Rempah berwarna merah ini juga kerap disebut sebagai salah satu bahan makanan paling mahal di dunia sehingga bikin banyak orang penasaran. Namun, pernah gak sih kamu bertanya-tanya kenapa safron dijuluki "emas merah"?

Julukan "emas merah" ternyata bukan sekadar kiasan, lho. Ada banyak faktor yang membuat safron memiliki harga tinggi dan begitu dihargai, mulai dari proses panennya yang membutuhkan ketelitian hingga hasil panen yang tidak melimpah. Agar makin paham, simak fakta menarik tentang safron berikut ini.

1. Proses panennya sangat rumit dan memakan waktu

ilustrasi panen safron
ilustrasi panen safron (commons.wikimedia.org/Safa.daneshvar)

Banyak orang mengira bahwa tingginya harga safron disebabkan oleh popularitasnya yang terus meningkat. Namun, alasan utamanya terletak pada proses panen yang sangat rumit dan sebagian besar masih dilakukan secara manual. Bunga safron hanya memiliki masa mekar yang singkat sehingga petani harus memanennya di pagi hari sebelum bunganya mulai layu.

Setelah dipetik, bagian merah dalam bunga harus dipisahkan satu per satu dengan tangan untuk mempertahankan kualitasnya. Proses yang memerlukan ketelitian ini menjadikan produksi safron tidak dapat dilakukan secepat rempah lainnya. Alasan inilah yang membuat setiap helai safron memiliki nilai yang sangat tinggi hingga dijuluki sebagai "emas merah".

2. Dibutuhkan ribuan bunga untuk menghasilkan sedikit safron

ilustrasi safron
ilustrasi safron (magnific.com/magnific)

Ketika melihat kemasan safron yang kecil, banyak orang mungkin bertanya-tanya mengapa harganya bisa begitu mahal. Untuk menghasilkan sekitar satu kilogram safron kering, diperlukan ratusan ribu bunga Crocus sativus yang harus dipanen satu per satu secara manual.

Setiap bunga hanya menghasilkan tiga helai putik merah yang kemudian dikeringkan menjadi safron. Jumlah yang sangat sedikit itu membuat panennya jelas lebih terbatas dibandingkan dengan rempah lainnya. Ketika hasil panen menjadi semakin langka, nilai jual saffron di pasaran pun menjadi lebih tinggi. Inilah salah satu alasan di balik julukan "emas merah".

3. Warna merah dan aroma khas menjadi nilai

ilustrasi safron
ilustrasi safron (magnific.com/magnific)

Sekilas, safron terlihat seperti helai benang merah yang sederhana. Namun, rempah ini dapat memberikan warna keemasan, aroma khas, dan rasa yang sulit ditandingi bahan lain dalam masakan. Tidak heran jika safron sering dipilih untuk hidangan mewah, seperti paella dari Spanyol, risotto Italia, atau beragam dessert Timur Tengah.

Meskipun hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit, hasilnya dapat mengubah penampilan dan rasa sebuah hidangan. Hal ini menjadikan safron berharga tidak hanya karena kelangkaannya, tetapi juga kualitas yang ditawarkan. Dari sinilah julukan "emas merah" menjadi semakin masuk akal.

4. Budidayanya tidak bisa dilakukan sembarangan

ilustrasi safron
ilustrasi safron (magnific.com/magnific)

Melihat tingginya harga safron, beberapa orang mungkin berpikir bahwa rempah ini bisa ditanam di mana saja untuk meraih keuntungan besar. Kenyataannya, tanaman safron memerlukan iklim, jenis tanah, dan suhu tertentu agar dapat tumbuh dengan baik. Jika kondisi lingkungan tanam tidak sesuai, jumlah bunga yang dihasilkan bisa menurun atau kualitas putik pun berkurang.

Oleh karena itu, hanya beberapa negara seperti Iran, India, Spanyol, dan Yunani yang dikenal sebagai penghasil safron berkualitas tinggi. Keterbatasan wilayah budidayanya menyebabkan pasokan safron di seluruh dunia tidak sebanyak rempah lainnya. Nah, kelangkaan ini berkontribusi terhadap harga yang tetap tinggi dari tahun ke tahun.

5. Julukan "emas merah" bukan sekadar soal harga

ilustrasi safron
ilustrasi safron (magnific.com/magnific)

Banyak orang langsung mengaitkan istilah "emas merah" dengan harga safron yang fantastis. Namun, sebutan itu juga mencerminkan betapa berharganya rempah ini karena proses budidaya, panen, dan pengolahannya membutuhkan banyak waktu dan ketelitian. Nilainya sudah diakui sejak beberapa abad yang lalu dan terus bertahan hingga saat ini. Gak heran jika safron sering dianggap sebagai simbol kemewahan dalam dunia kuliner dan perdagangan rempah.

Ketika melihat harganya yang jauh lebih mahal dibandingkan rempah lain, kamu sudah tahu bahwa ada proses panjang yang mendasari nilainya. Julukan "emas merah" pun bukan sekadar istilah yang terdengar menarik, melainkan cerminan dari kualitas, kelangkaan, dan usaha besar di balik setiap helainya.

Julukan "emas merah" pada safron ternyata bukan hanya berasal dari harganya yang tinggi, tetapi juga dari proses budidaya, panen, dan pengolahannya yang membutuhkan ketelitian luar biasa. Kombinasi antara kelangkaan, kualitas, dan nilai sejarah membuat rempah ini tetap menjadi salah satu bahan kuliner paling istimewa di dunia. Jadi, kalau suatu saat melihat saffron dijual dengan harga yang fantastis, kamu sudah tahu cerita menarik yang tersembunyi di balik setiap helainya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More