Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
⁠8 Tren Kuliner Ini Diprediksi Bakal Makin Populer pada 2027
Potret belanja makanan di supermarket (pexels.com/Jack Sparrow)
  • Whole Foods Market memprediksi tren kuliner 2027 akan dipengaruhi perhatian konsumen pada gizi, asal bahan, transparansi komposisi, serta dampak lingkungan.

  • Produk beautrition, kacang-kacangan sebagai protein nabati, dan eksplorasi rasa pahit diperkirakan makin diminati melalui makanan praktis, camilan, minuman, hingga hidangan utama.

  • Kuliner rumahan Jepang, kreasi baru dari hidangan klasik, penelusuran asal bahan, dan upaya zero waste membuka peluang inovasi bagi pelaku industri makanan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tren kuliner terus berkembang seiring perubahan gaya hidup dan preferensi konsumen. Makanan kini tidak hanya dinilai dari rasa dan tampilannya, tetapi juga kandungan gizi, asal bahan pangan, hingga dampaknya terhadap lingkungan. Perubahan tersebut diperkirakan turut membentuk tren makanan dan minuman sepanjang 2027.

Industri kuliner diprediksi akan menghadirkan lebih banyak pilihan yang menarik. Konsumen juga diperkirakan semakin memperhatikan komposisi produk dan upaya mengurangi limbah makanan.

Dilansir dari Food & Wine dan Amazon News, sebuah jaringan supermarket multinasional asal Amerika Serikat, Whole Foods Market, memprediksi delapan tren makanan dan minuman yang akan berkembang pada 2027. Prediksi ini disusun Trends Council, tim yang terdiri dari pembeli, pencari bahan pangan, dan pakar kuliner yang memantau perkembangan industri serta perubahan kebiasaan konsumen.

Lantas, apa saja tren kuliner yang diperkirakan semakin populer pada 2027? Berikut daftarnya.

1. Makanan untuk kesehatan kulit

Konsep beautrition, gabungan dari kata beauty dan nutrition, diperkirakan semakin mendapat perhatian pada 2027. Tren ini mengacu pada pendekatan yang menghubungkan kecantikan dengan asupan nutrisi melalui makanan dan minuman sehari-hari.

Produk dalam kategori ini umumnya mengandung nutrisi yang dikaitkan dengan pemeliharaan kesehatan kulit, seperti protein, kolagen, antioksidan, dan lemak sehat. Bahan-bahan tersebut kemudian diolah menjadi produk yang praktis dikonsumsi, mulai dari minuman fungsional hingga makanan ringan dan sarapan.

Salah satu contohnya adalah oatmeal yang dipadukan dengan kolagen atau minuman dengan tambahan nutrisi tertentu. Produk seperti ini menyasar konsumen yang ingin memperhatikan asupan gizi, sekaligus menjaga kesehatan kulit tanpa harus mengubah seluruh pola makan.

Meski demikian, klaim manfaat produk kecantikan yang dikonsumsi perlu dicermati. Kandungan nutrisi tertentu tidak otomatis menjamin kulit menjadi lebih sehat atau membuat seseorang terlihat lebih muda. Pola makan seimbang, hidrasi yang cukup, dan perawatan kulit yang sesuai tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kulit.

2. Kacang-kacangan

Potret kacang-kacangan (pexels.com/Marta Branco)

Kacang-kacangan diperkirakan semakin populer dan tidak lagi sekadar menjadi pelengkap makanan. Bahan pangan seperti kacang arab, edamame, lentil, dan lupini berpotensi lebih sering diolah menjadi hidangan utama, karena fleksibel, relatif mudah diolah, serta mengandung protein dan serat.

Perkembangan tren ini dapat dilihat dari semakin beragamnya olahan berbahan polong-polongan, seperti salad kacang, mangkuk lentil siap santap, hingga camilan berbahan kacang. Tekstur dan cita rasanya yang beragam membuat bahan-bahan tersebut mudah dipadukan dengan sayuran, biji-bijian, saus, maupun bumbu dari berbagai tradisi kuliner.

Selain itu, kacang-kacangan dapat menjadi alternatif sumber protein nabati dalam menu sehari-hari. Bagi konsumen yang ingin memperbanyak variasi makanan tanpa selalu mengandalkan daging, bahan ini menawarkan banyak kemungkinan pengolahan.

3. Asal bahan pangan

Tren terroir diperkirakan semakin memengaruhi cara konsumen memilih makanan. Istilah ini merujuk pada karakteristik suatu bahan pangan yang dipengaruhi lingkungan tempat bahan tersebut tumbuh atau dihasilkan, termasuk kondisi tanah, iklim, dan letak geografis.

Dalam konteks kuliner, asal bahan pangan dapat memengaruhi rasa, aroma, tekstur, hingga karakter produk akhir. Kopi dari satu wilayah misalnya, dapat memiliki profil rasa yang berbeda dari kopi yang tumbuh di daerah lain. Hal serupa juga berlaku pada teh, kakao, keju, dan berbagai hasil pertanian.

Oleh karena itu, konsumen diperkirakan semakin tertarik mencari informasi yang lebih spesifik mengenai bahan pangan yang mereka konsumsi. Informasi tentang daerah perkebunan, peternakan, atau perairan tempat bahan berasal dapat menjadi pertimbangan saat memilih produk.

Bagi produsen dan pelaku usaha kuliner, tren ini membuka peluang untuk menonjolkan karakter bahan lokal dan menjelaskan proses produksinya secara lebih transparan. Cerita mengenai asal bahan tidak hanya menambah informasi bagi konsumen, tetapi juga dapat memperkuat identitas sebuah produk.

4. Kuliner rumahan Jepang

Potret makanan jepang (pexels.com/Ivan S)

Popularitas kuliner Jepang diperkirakan terus berkembang, termasuk hidangan rumahan yang dikenal dengan istilah yoshoku. Istilah ini merujuk pada masakan bergaya Barat yang diadaptasi dan dikembangkan sesuai dengan selera masyarakat Jepang.

Beberapa contoh hidangan yoshoku antara lain tonkatsu, omurice, dan kari Jepang. Meski mendapat pengaruh dari masakan Barat, hidangan-hidangan tersebut memiliki karakter tersendiri berkat penggunaan bumbu, bahan, dan teknik pengolahan yang disesuaikan dengan tradisi kuliner Jepang.

Ketertarikan terhadap makanan Jepang juga didukung penyebaran konten kuliner di media sosial. Video memasak, ulasan restoran, hingga rekomendasi makanan saat bepergian dapat membuat konsumen tertarik mencoba hidangan yang sebelumnya belum terlalu dikenal.

Tren ini turut membuka peluang bagi produk bergaya Jepang untuk hadir dalam bentuk yang lebih praktis. Roti susu, bumbu umami, hingga bahan siap olah memungkinkan konsumen mengeksplorasi cita rasa Jepang di rumah tanpa harus selalu berkunjung ke restoran.

5. Hidangan klasik hadir dengan bentuk dan rasa baru

Tren dish reinvention menggambarkan upaya menghadirkan kembali makanan yang sudah dikenal dalam bentuk, tekstur, atau perpaduan rasa yang berbeda. Pendekatan ini memungkinkan pelaku kuliner bereksperimen tanpa sepenuhnya meninggalkan karakter asli hidangan.

Contohnya dapat berupa burger yang terinspirasi dari taco atau gulungan kayu manis yang dibuat menyerupai focaccia. Kedua kreasi tersebut mempertemukan elemen dari hidangan yang berbeda untuk menciptakan pengalaman makan yang baru.

Media sosial turut berperan dalam perkembangan tren ini. Makanan dengan tampilan unik dan proses pembuatan yang menarik lebih mudah mengundang rasa penasaran, terutama di kalangan konsumen yang senang mencoba sesuatu yang berbeda.

Inovasi tersebut juga berpotensi merambah produk siap santap dan makanan beku. Hidangan klasik yang dikemas dengan cara baru dapat menjadi pilihan praktis bagi konsumen, sekaligus memberi kesempatan bagi produsen untuk menawarkan variasi produk.

Meski demikian, daya tarik tren ini tidak hanya bergantung pada tampilan. Perpaduan rasa yang tetap enak dan tekstur yang sesuai akan menentukan apakah suatu kreasi dapat bertahan sebagai pilihan kuliner atau hanya menjadi tren sesaat.

6. Produk dengan komposisi bahan lebih sederhana

Potret belanja makanan (Pexels.com/Clem Onojeghuo)

Konsumen diperkirakan semakin teliti membaca label makanan dan minuman sebelum membeli produk. Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah daftar komposisi bahan, terutama pada produk kemasan.

Kecenderungan ini berkaitan dengan meningkatnya minat terhadap bahan pangan utuh dan keinginan untuk mengetahui apa saja yang terkandung dalam makanan. Sebagai respons, produsen dapat terdorong menyederhanakan komposisi produk dan menyampaikan informasi bahan secara lebih jelas.

Daftar bahan yang lebih singkat memang dapat memudahkan konsumen memahami isi produk. Namun, jumlah bahan bukan satu-satunya penentu kualitas gizi. Produk dengan komposisi sederhana belum tentu lebih sehat dibandingkan produk dengan daftar bahan yang lebih panjang.

Konsumen tetap perlu memperhatikan kandungan gula, garam, lemak, protein, serat, serta ukuran porsi. Informasi tersebut memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang nilai gizi makanan yang dikonsumsi.

Tren ini pada akhirnya menekankan pentingnya transparansi informasi pangan. Konsumen bukan hanya ingin mengetahui rasa dan harga produk, melainkan juga ingin memahami bahan yang digunakan sebelum menentukan pilihan.

7. Bahan makanan dengan cita rasa pahit

Rasa pahit diperkirakan semakin banyak dieksplorasi dalam makanan dan minuman pada 2027. Jika selama ini rasa manis dan gurih kerap menjadi pilihan utama, tren ini menunjukkan ketertarikan terhadap profil rasa yang lebih kompleks.

Karakter pahit sebenarnya sudah ditemukan dalam berbagai bahan pangan, seperti cokelat dengan kadar kakao tinggi, kopi, teh, serta sayuran tertentu, termasuk radicchio dan endive. Bahan-bahan tersebut dapat memberikan dimensi rasa yang berbeda ketika dipadukan dengan unsur manis, asam, atau gurih.

Dalam hal minuman misalnya, rasa pahit dapat memberikan keseimbangan, agar hasil akhirnya tidak terasa terlalu manis. Sedangkan, dalam hidangan utama, sayuran dengan karakter pahit dapat memperkaya cita rasa dan memberikan kontras terhadap bahan lain.

Eksplorasi rasa ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha kuliner untuk menciptakan kombinasi baru. Konsumen yang ingin mencoba pengalaman makan berbeda dapat menemukan pilihan yang lebih beragam, tidak terbatas pada rasa yang langsung familier di lidah.

8. Tren mengurangi limbah makanan

Potret membuang limbah makanan (pexels.com/Sarah Chai)

Isu keberlanjutan diperkirakan semakin memengaruhi industri kuliner, salah satunya melalui tren zero waste atau upaya mengurangi limbah. Pendekatan ini tidak hanya berkaitan dengan mengurangi makanan yang terbuang, tetapi juga memaksimalkan pemanfaatan bahan pangan selama masih layak digunakan.

Pelaku industri dapat menerapkan berbagai cara untuk mendukung upaya tersebut. Misalnya mengolah bagian bahan pangan yang biasanya tidak dimanfaatkan menjadi produk baru, menggunakan kemasan isi ulang, serta menawarkan produk yang mendekati tanggal kedaluwarsa agar dapat dikonsumsi sebelum tidak layak digunakan.

Tren ini menunjukkan inovasi kuliner tidak selalu harus menghasilkan hidangan baru. Mengelola bahan pangan secara lebih efisien dan mengurangi limbah juga menjadi bagian dari perubahan industri makanan dan minuman.

Itu dia beberapa tren kuliner yang diprediksi akan berkembang pada 2027. Beragam tren tersebut bisa menjadi inspirasi untuk mencoba bahan pangan, kombinasi rasa, dan cara menikmati makanan yang berbeda. Seiring perubahan selera konsumen, dunia kuliner pun diperkirakan terus menghadirkan inovasi baru yang menarik untuk diikuti.

Curated For You

Editorial Team

Related Article