Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Intip Cara 2 Chef Indonesia Ini Sajikan Cita Rasa Nusantara ke Dunia
(kiri) Chef Yuda Bustara, alumni Taylor’s University dan (kanan) Chef Hans Christian, Salah Satu Pendiri August. (dok. Taylor’s University)
  • Chef Hans Christian mengangkat bahan, cita rasa, dan kenangan Indonesia ke fine dining kontemporer melalui August, yang masuk Asia’s 50 Best Restaurants dan meraih predikat restoran terbaik Indonesia tiga kali berturut-turut.

  • Chef Yuda Bustara memperluas pengenalan masakan Indonesia lewat dapur profesional, televisi, konten, pop-up dining, serta kolaborasi internasional, setelah memenangkan The Maverick Academy 2024 dan bekerja sama dengan Chef Alvin Leung.

  • Hans dan Yuda kembali ke Taylor’s University untuk membagikan pengalaman kepada calon chef; institusi tersebut menekankan teknik, adaptabilitas, kreativitas, manajemen, magang profesional, dan kolaborasi akademik internasional.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Chef Hans Christian dan Yuda Bustara memperkenalkan cita rasa Indonesia kepada khalayak lebih luas melalui fine dining, televisi, konten kuliner, pop-up dining, dan kolaborasi internasional.
  • Who?
    Hans Christian, salah satu pendiri restoran August di Jakarta, dan Yuda Bustara, chef serta pembawa acara kuliner, terlibat dalam pengembangan dan pengenalan masakan Indonesia.
  • Where?
    Aktivitas mereka berlangsung di Jakarta, termasuk August, serta dalam kolaborasi internasional seperti LUMA di Hong Kong dan kegiatan di Taylor’s University, Malaysia.
  • When?
    Hans dan Yuda baru-baru ini hadir dalam kampanye Camp of Leaders di Taylor’s University. August dinobatkan sebagai Asia’s One to Watch pada 2023, sementara Yuda memenangkan The Maverick Academy pada 2024.
  • Why?
    Keduanya ingin membawa bahan, cita rasa, cerita, dan kenangan Indonesia ke panggung yang lebih luas, sambil mempertahankan akar kuliner yang membentuk perjalanan mereka.
  • How?
    Hans mengolah unsur Indonesia dalam fine dining kontemporer di August. Yuda memakai pengalaman dapur profesional, televisi, konten, pop-up dining, dan kolaborasi chef untuk memperkenalkan masakan Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bagi chef Hans Christian dan Yuda Bustara, masakan Indonesia lebih dari sesuatu yang familiar. Masakan Indonesia bagi mereka adalah sumber cerita, kenangan, dan potensi.

Keduanya menempuh pendidikan kuliner di Taylor’s University sebelum melanjutkan perjalanan yang sesuai dengan minat dan pengalaman masing-masing. Hans fokus pada fine dining kontemporer, sementara karya Yuda mencakup ranah dapur profesional, pembawa acara televisi, dan kolaborasi kuliner internasional. Namun, keduanya tetap terhubung oleh kecintaan terhadap makanan dan cita rasa yang tumbuh bersama mereka, serta keinginan untuk memperkenalkan masakan Indonesia kepada khalayak yang lebih luas.

Bagi kedua chef ini, tahun-tahun formatif di Malaysia menjadi babak awal dalam karier. Masakan Indonesia dibawa ke panggung baru sembari menjaga cita rasa di setiap karya.

1. Hans menjadi cerminan cita rasa Indonesia lewat fine dining

Chef dan Salah Satu Pendiri August, Hans Christian. (augustjakarta.com)

Hans termasuk dalam deretan nama yang membentuk lanskap kuliner kontemporer Indonesia. Sebagai Chef dan Salah Satu Pendiri August, sebuah restoran fine dining di Jakarta, Hans telah membangun identitas kuliner yang khas, berakar pada bahan-bahan, cita rasa, dan kenangan Indonesia, serta dibentuk oleh berbagai pengalaman sepanjang kariernya.

Usai menyelesaikan pendidikan kuliner, Hans terus mengasah kemampuannya di tingkat internasional sebelum kembali ke Indonesia. Pengalaman yang diperoleh di luar negeri terus memengaruhi pendekatannya terhadap masakan Indonesia kontemporer.

“Pendidikan kuliner saya memberikan fondasi yang kuat dalam teknik dan disiplin, sekaligus mendorong saya untuk terus belajar dan berkembang. Seiring berjalannya waktu, saya semakin menghargai asal-usul saya. Di August, saya terus mengeksplorasi bagaimana bahan-bahan, cita rasa, dan cerita Indonesia bisa diungkapkan dengan cara baru tanpa melepaskan akar saya,” ujar Hans.

August mencerminkan visinya dalam menghadirkan fine dining kontemporer yang berakar pada keberagaman kuliner Indonesia. Restoran ini dinobatkan sebagai Asia’s One to Watch pada 2023 sebelum masuk dalam daftar Asia’s 50 Best Restaurants. Pada 2026, August menyandang predikat Restoran Terbaik di Indonesia untuk ketiga kalinya berturut-turut.

2. Yuda memperkenalkan Indonesia lewat layar kaca

Chef Yuda Bustara, alumnus Taylor’s University. (dok. Taylor’s University)

Sementara Hans menghadirkan interpretasinya tentang Indonesia di meja fine dining, rekan sesama alumni Taylor’s University, Yuda, memperkenalkan masakan Indonesia melalui jalur yang berbeda.

Tumbuh besar di Jakarta, Yuda mengembangkan ketertarikan pada memasak sejak dini, terinspirasi oleh para chef yang ia saksikan di televisi. Masa studinya di Taylor’s University membantu mengubah ketertarikan itu menjadi fondasi profesional dan memperluas pemahamannya tentang sejauh mana karier kuliner bisa berkembang.

“Yang paling berkesan adalah bagaimana teori dan praktik berjalan begitu mulus beriringan. Teknik, disiplin, dan standar yang kami pelajari adalah hal-hal yang sama yang saya temui di dapur profesional. Tapi menjadi chef juga berarti mengelola orang, memecahkan masalah, dan memahami bisnis di balik makanan. Fondasi-fondasi itu terus membentuk pekerjaan saya, baik saat menciptakan pengalaman bersantap, berkolaborasi dengan chef lain, maupun bercerita melalui makanan,” tutur Yuda.

Dari dapur profesional, Yuda merambah dunia televisi dan menjadi wajah yang dikenal luas melalui program-program di Asian Food Network, sebelum memenangkan The Maverick Academy pada 2024, sebuah kompetisi kuliner regional yang memadukan keahlian memasak dan jiwa kewirausahaan. Setelah kemenangan itu, ia berkolaborasi dengan Chef Alvin Leung di LUMA, Hong Kong.

Kini karyanya mencakup pembawa acara televisi, konten kuliner, pop-up dining, dan kolaborasi internasional. Cita rasa Indonesia tetap menjadi pusat identitas kulinernya.  Sementara itu, rasa ingin tahunya terus merambah pada orang-orang, tempat-tempat, dan tradisi yang membentuk cara kita menikmati makanan. Melalui masakan dan kisah-kisahnya, Yuda terus memperkenalkan berbagai pengaruh tersebut kepada khalayak yang lebih luas.

Hubungan keduanya dengan Taylor’s University pun berlanjut setelah kelulusan. Baru-baru ini, Hans dan Yuda kembali hadir ke Taylor’s University melalui kampanye Camp of Leaders, di mana mereka memimpin sesi masterclass langsung dan berbagi pengalaman industri mereka dengan para calon chef, sebagai bentuk kontribusi kepada generasi berikutnya.

3. Mempersiapkan para profesional kuliner masa depan

Chef Hans Christian, Chef Yuda Bustara, dan Chef Frederic Cerchi bersama para peserta masterclass kuliner di Taylor’s University. (dok. Taylor’s University)

Perjalanan karier Hans dan Yuda mencerminkan profesi kuliner yang terus berkembang. Penguasaan teknik tetap menjadi hal yang esensial, namun sukses dalam industri ini semakin membutuhkan adaptabilitas, kreativitas, keterampilan manajemen, dan kemampuan menavigasi peluang di luar dapur profesional.

Pandangan yang lebih luas ini terus diterapkan di Taylor’s Culinary Institute, di mana para mahasiswa mengembangkan kemampuan kuliner seiring dengan pengetahuan dan pengalaman industri. Magang profesional memberikan paparan terhadap lingkungan kerja nyata, sementara jalur akademik internasional dan peluang memperoleh kualifikasi ganda membuka lebih banyak pilihan bagi para mahasiswa. Tahun ini juga menandai 40 tahun kolaborasi akademik Taylor’s Culinary Institute dengan Université Toulouse – Jean Jaurès (UT2J), mencerminkan komitmen jangka panjang terhadap kolaborasi internasional dalam pendidikan kuliner.

Bagi Chef Frederic Raymond Paul Cerchi, Kepala Taylor’s Culinary Institute, mempersiapkan para profesional kuliner masa depan berarti membekali mereka dengan kemampuan untuk menempuh berbagai jalur karier dalam industri yang terus berkembang.

“Karier kuliner hari ini bisa mengambil banyak bentuk yang berbeda. Fondasi teknis yang kuat tetap penting, tetapi para profesional masa depan juga membutuhkan kepercayaan diri untuk beradaptasi, berkolaborasi, memimpin, dan terus belajar. Hans dan Yuda menunjukkan betapa berbedanya sebuah passion terhadap makanan bisa berkembang ketika individu menemukan suara dan arah mereka sendiri,” jelas chef Frederic.

Penekanan pada fondasi yang kuat, adaptabilitas, dan relevansi industri ini juga tercermin dalam pendekatan Taylor’s University terhadap pendidikan kuliner dan perhotelan. Universitas ini berada di peringkat ke-26 dunia untuk Hospitality & Leisure Management dalam QS World University Rankings by Subject 2026 dan telah mempertahankan posisinya sebagai universitas nomor satu di Asia Tenggara untuk bidang tersebut selama sembilan tahun berturut-turut.

Temukan informasi lebih lanjut tentang Taylor’s Culinary Institute di Taylor’s University di sini. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Curated For You

Editorial Team

Related Article