ilustrasi gastronomi di Norwegia (pexels.com/Nguyen Ngoc Tien)
Bergen memperlihatkan bahwa bisnis gastronomi tidak harus identik dengan restoran mahal. Kota pelabuhan Norwegia ini menjadi Creative City of Gastronomy pada 2015, dengan identitas kuliner yang sangat erat dengan sejarah perdagangan seafood. UNESCO mencatat ekosistem gastronominya didukung oleh lebih dari 3.000 petani dan 200 pengusaha pangan artisanal, sementara sekitar 6.500 orang bekerja dalam industri akuakultur dan perikanan.
Dari perspektif bisnis, Bergen menarik karena menjadikan sustainability sebagai bagian dari nilai jual. Gastronomi berkaitan dengan hasil laut, pangan organik, biodiversitas, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Kota ini juga menjadi tuan rumah North Atlantic Seafood Forum. Sebuah forum besar yang mempertemukan berbagai pihak untuk membicarakan masa depan pemanfaatan sumber daya laut. Bergen bahkan memiliki Centre of Expertise for Sustainable Seafood. Dengan demikian, isu lingkungan tidak ditempatkan sebagai penghambat bisnis, tetapi justru sebagai bagian dari inovasi industri.
Model Bergen memberi pelajaran bahwa wisata gastronomi dapat berkembang apabila produk lokal memiliki cerita, kualitas, dan nilai keberlanjutan. Wisatawan yang datang bukan hanya mencari seafood, tetapi juga pengalaman mengenai kehidupan pesisir, budaya makanan, dan hubungan masyarakat dengan laut. Ketika cerita tersebut dikombinasikan dengan restoran, petani, nelayan, produsen artisanal, pendidikan, konferensi, dan pariwisata, seafood berubah dari komoditas menjadi pengalaman bernilai tinggi. Inilah cara gastronomi menciptakan ekonomi tanpa harus melepaskan hubungan dengan sumber daya alam yang menjadi fondasinya.
Tujuh negara ubah gastronomi jadi mesin ekonomi menjadi bukti kalau kuliner bisa jauh lebih menguntungkan ketika tidak diperlakukan hanya sebagai produk restoran. Chengdu membangun industri katering dalam skala besar; Jeonju menjadikan tradisi sebagai ekonomi kreatif; Tsuruoka menghubungkan pertanian dan gastronomi; Parma membangun industri agri-pangan dari hulu ke hilir; Arequipa menghidupkan ekonomi melalui festival dan picantería; Gaziantep mengubah sejarah kuliner menjadi branding perdagangan dan pariwisata; sedangkan Bergen menjadikan seafood berkelanjutan sebagai identitas ekonomi. Polanya berbeda, tetapi prinsipnya sama. Semakin panjang dan kuat rantai nilai sebuah gastronomi, semakin besar pula peluang ekonominya.
Di sinilah status UNESCO menjadi menarik bagi bisnis pariwisata. Predikat Creative City of Gastronomy memang bukan sertifikat bahwa sebuah kota adalah yang paling enak di dunia. UNESCO sendiri menekankan bahwa jaringan tersebut bertujuan mendorong kreativitas, pertukaran pengetahuan, industri budaya, dan pembangunan berkelanjutan. Bagi destinasi lain, pelajarannya jelas, yakni jangan hanya bertanya, “Apa makanan khas kita?” Tetapi juga, “Berapa banyak pekerjaan, usaha, wisatawan, investasi, dan nilai tambah yang bisa lahir dari makanan tersebut?” Sebab pada akhirnya, kuliner yang paling sukses bukan cuma yang membuat orang ingin makan lagi, melainkan yang membuat ekonomi lokal ikut tumbuh setelah piringnya kosong.