ilustrasi sistem pencernaan (magnific.com/benzoix)
Hal lain yang cukup menarik adalah hubungan antara kadar vitamin D yang rendah dengan sejumlah kondisi pada saluran pencernaan. Penyakit radang usus seperti Crohn’s disease dan kolitis ulseratif, misalnya, diketahui dapat berkaitan dengan rendahnya kadar vitamin D. Menurut penelitian dalam Journal of Research in Medical Sciences, kadar vitamin D yang lebih rendah ditemukan berkaitan dengan aktivitas penyakit dan hasil kesehatan yang kurang baik pada orang dengan IBD (penyakit radang usus). Namun, hubungan tersebut gak otomatis berarti kekurangan vitamin D menjadi penyebab utama penyakitnya, ya.
Penelitian juga menunjukkan bahwa memperbaiki kekurangan vitamin D mungkin dapat membantu mendukung pengelolaan kondisi tertentu. Meski begitu, vitamin D tetap gak bisa dianggap sebagai pengganti pengobatan medis untuk penyakit pencernaan. Kalau kamu ingin menjaga kadar vitamin D, beberapa pilihan yang bisa dilakukan antara lain mendapatkan paparan sinar matahari, mengonsumsi makanan seperti ikan berlemak, produk susu yang difortifikasi, dan kuning telur, serta menggunakan suplemen jika memang diperlukan. Menurut National Institutes of Health, kebutuhan vitamin D bisa berbeda-beda tergantung usia, kondisi kesehatan, kadar vitamin D awal, dan faktor lainnya, sehingga penggunaan suplemen sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhanmu.
Pada akhirnya, kesehatan usus ternyata dipengaruhi oleh lebih banyak hal daripada sekadar makanan yang dikonsumsi. Vitamin D juga punya peran dalam menjaga lapisan usus, mengatur sistem imun, mendukung pertahanan antimikroba, dan berinteraksi dengan mikrobioma.
Namun, bukan berarti kamu perlu mengonsumsi vitamin D sebanyak-banyaknya demi mendapatkan usus yang sehat, lho. Hal yang lebih penting adalah memastikan kebutuhan vitamin D tercukupi sambil tetap menjaga pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.