Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

8 Gejala Penyakit Jantung Koroner, Kenali Sebelum Terlambat

8 Gejala Penyakit Jantung Koroner, Kenali Sebelum Terlambat
ilustrasi nyeri dada, gejala penyakit jantung koroner (freepik.com/wayhomestudio)
Intinya Sih
  • Nyeri dada (angina) adalah gejala utama penyakit jantung koroner, tetapi tidak selalu muncul pada semua pasien.

  • Gejala bisa berbeda pada perempuan, lansia, dan penderita diabetes, sering kali lebih halus dan tidak khas.

  • Sebagian gejala muncul karena suplai darah ke jantung terganggu, akibat penyempitan arteri koroner.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Saat ada masalah serius di dalamnya, tubuh sering memberikan sinyal. Pada penyakit jantung koroner, sinyal itu sering muncul dalam bentuk keluhan seperti mudah lelah, napas pendek, atau rasa tidak nyaman di dada yang hilang timbul, yang mana semua itu sering diabaikan.

Masalahnya, banyak orang baru sadar ketika kondisinya sudah berat. Padahal, mengenali gejala penyakit jantung koroner sejak dini bisa membuat perbedaan besar antara penanganan cepat dan komplikasi yang mengancam nyawa.

Penyakit jantung koroner terjadi ketika arteri koroner menyempit atau tersumbat oleh plak aterosklerosis, sehingga aliran darah ke otot jantung berkurang. Kondisi ini merupakan penyebab utama kematian global, terutama karena dapat memicu serangan jantung.

Di bawah ini adalah beberapa gejala umum penyakit jantung koroner yang penting untuk kamu kenali sejak dini.

1. Nyeri dada (angina)

Nyeri dada adalah gejala paling klasik dari penyakit jantung koroner (PJK). Ini biasanya digambarkan sebagai tekanan, sesak, atau seperti tertindih benda berat di dada. Nyeri dapat menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung dalam banyak kasus.

Secara fisiologis, nyeri ini terjadi karena ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen jantung dan suplai darah. Ketika arteri koroner menyempit akibat plak, aliran darah tidak mampu memenuhi kebutuhan otot jantung, terutama saat aktivitas fisik atau stres.

Penelitian menunjukkan bahwa angina adalah manifestasi langsung dari iskemia miokard (kekurangan oksigen pada otot jantung). Jika kondisi ini berlangsung lama atau semakin parah, risiko serangan jantung meningkat signifikan.

2. Sesak napas (dispnea)

Ilustrasi sesak napas, salah satu gejala penyakit jantung koroner.
ilustrasi sesak napas, salah satu gejala penyakit jantung koroner (freepik.com/rawpixel.com)

Sesak napas sering menjadi gejala yang kurang disadari sebagai tanda penyakit jantung, lebih sering dianggap masalah paru-paru atau kelelahan biasa.

Dalam konteks PJK, sesak napas terjadi karena fungsi pompa jantung terganggu, sehingga darah tidak mengalir efisien ke seluruh tubuh. Akibatnya, cairan bisa menumpuk di paru-paru (kongesti), membuat napas terasa berat.

Sesak napas sering menjadi gejala dominan PJK, terutama pada perempuan dan lansia. Bahkan, pada beberapa pasien, sesak napas bisa muncul tanpa nyeri dada sama sekali.

3. Mudah lelah

Rasa lelah yang tidak biasa, bahkan setelah aktivitas ringan, bisa menjadi tanda awal PJK.

Penyebab utamanya adalah penurunan suplai oksigen ke jaringan tubuh, termasuk otot. Ketika jantung tidak mampu memompa darah secara optimal, tubuh kehabisan energi lebih cepat.

Studi menunjukkan bahwa kelelahan kronis sering muncul sebelum diagnosis PJK ditegakkan, terutama pada kelompok risiko tinggi.

4. Nyeri menjalar ke bagian tubuh lain

Ilustrasi lengan kiri nyeri, salah satu gejala penyakit jantung koroner.
ilustrasi lengan kiri nyeri, salah satu gejala penyakit jantung koroner (freepik.com/master1305)

Pada PJK, nyeri tidak selalu terlokalisasi di dada. Banyak pasien melaporkan rasa tidak nyaman di:

  • Lengan (terutama kiri).
  • Rahang.
  • Leher.
  • Punggung.

Fenomena ini terjadi karena saraf yang membawa sinyal nyeri dari jantung berbagi jalur dengan area tubuh lain, sehingga otak semacam salah mengartikan lokasi nyeri.

Pola nyeri menjalar ini merupakan tanda khas angina dan tidak boleh diabaikan.

5. Keringat dingin

Keringat dingin yang muncul tiba-tiba, terutama saat disertai nyeri dada, bisa menjadi tanda kondisi darurat.

Kondisi tersebut dipicu oleh aktivasi sistem saraf simpatik akibat stres akut pada jantung. Tubuh merespons seolah sedang dalam kondisi bahaya, sehingga memicu keringat berlebih.

Dalam banyak kasus, gejala ini muncul pada fase awal serangan jantung (sindrom koroner akut).

6. Mual dan pusing

Ilustrasi pusing.
ilustrasi pusing (freepik.com/freepik)

Mual, muntah, atau pusing jarang langsung dikaitkan dengan masalah jantung. Padahal, ini bisa menjadi tanda penting.

Kondisi ini terjadi karena:

  • Penurunan aliran darah ke otak.
  • Respons saraf vagus akibat stres jantung.
  • Ketidakseimbangan sistem otonom.

Gejala ini lebih sering terjadi pada perempuan, sehingga sering menyebabkan keterlambatan diagnosis.

7. Detak jantung tidak teratur (palpitasi)

Pasien mungkin merasakan jantung berdebar, berdetak terlalu cepat, atau tidak teratur.

Hal ini disebabkan oleh gangguan sistem listrik jantung akibat suplai darah yang tidak stabil. Iskemia (kondisi medis serius ketika aliran darah ke suatu organ berkurang atau terhenti, sering kali akibat penyumbatan pembuluh darah) dapat mengganggu konduksi listrik normal, memicu aritmia (gangguan irama atau detak jantung yang tidak teratur).

Dalam beberapa kasus, aritmia ini bisa menjadi serius dan meningkatkan risiko komplikasi seperti henti jantung mendadak.

8. Pingsan atau hampir pingsan

Ilustrasi pingsan.
ilustrasi pingsan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Gejala ini terjadi ketika aliran darah ke otak menurun secara signifikan.

Pada PJK, hal ini bisa disebabkan oleh:

  • Penurunan output jantung.
  • Aritmia berat.
  • Iskemia luas.

Pingsan yang berhubungan dengan aktivitas fisik harus segera dievaluasi karena bisa menandakan masalah jantung serius.

Penyakit jantung koroner tidak selalu datang dengan gejala yang dramatis. Seringnya, tubuh sudah memberikan sinyal, yang sayangnya sering diabaikan atau disalahartikan.

Memahami gejala-gejala ini penting untuk meningkatkan kewaspadaan. Makin cepat dikenali, makin besar peluang untuk mencegah komplikasi yang lebih berat, bahkan menyelamatkan nyawa.

Referensi

World Health Organization. “Cardiovascular Diseases (CVDs).” Diakses Maret 2026.

American Heart Association. “Coronary Artery Disease.” Diakses Maret 2026.

National Heart, Lung, and Blood Institute. “Coronary Heart Disease.” Diakses Maret 2026.

Mayo Clinic. “Coronary Artery Disease Symptoms.” Diakses Maret 2026.

Stephan D. Fihn et al., “2014 ACC/AHA/AATS/PCNA/SCAI/STS Focused Update of the Guideline for the Diagnosis and Management of Patients With Stable Ischemic Heart Disease,” Journal of the American College of Cardiology 64, no. 18 (July 28, 2014): 1929–49, https://doi.org/10.1016/j.jacc.2014.07.017.

Authors/Task Force Members, “Guidelines on the Management of Stable Angina Pectoris: Executive Summary: The Task Force on the Management of Stable Angina Pectoris of the European Society of Cardiology,” European Heart Journal 27, no. 11 (March 16, 2006): 1341–81, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehl001.

John G. Canto, “Symptom Presentation of Women With Acute Coronary Syndromes,” Archives of Internal Medicine 167, no. 22 (December 10, 2007): 2405, https://doi.org/10.1001/archinte.167.22.2405.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More