5 Alasan Kamu Perlu Berhenti Makan Kol Goreng dari Sekarang

- Kol goreng memiliki kandungan kalori yang tinggi
- Lemak jenuh dan trans fat masuk ke dalam kol saat digoreng
- Antioksidan rusak dan lebih sulit dicerna setelah kol digoreng
Kol sering dianggap sayuran sederhana yang mudah diolah dan ramah di lidah. Saat masih segar atau dimasak dengan cara tepat, kol dikenal kaya serat, vitamin C, dan antioksidan yang baik untuk tubuh. Sayangnya, cara memasak bisa mengubah citra sehat itu secara drastis. Ketika kol digoreng, nilai gizinya perlahan bergeser dan dampaknya pada kesehatan jantung mulai patut dipertanyakan.
Banyak orang memilih kol goreng karena rasanya gurih dan teksturnya renyah. Padahal, proses menggoreng membuat kol kehilangan sebagian manfaat alaminya dan justru berpotensi memicu masalah kesehatan. Dari peningkatan kalori hingga risiko kolesterol, perubahan ini sering luput dari perhatian. Berikut lima alasan kenapa kamu sebaiknya mulai mengurangi, bahkan berhenti makan kol goreng dari sekarang.
1. Kandungan kalori melonjak tajam

Kol mentah atau rebus termasuk sayuran rendah kalori yang cocok untuk pola makan sehat. Namun, saat digoreng, kol menyerap minyak dalam jumlah besar. Proses ini membuat kalorinya meningkat jauh dibandingkan versi rebus atau kukus. Dampaknya, asupan energi harian bisa melonjak tanpa disadari.
Menurut penjelasan dari Healthline, makanan yang digoreng cenderung lebih padat kalori karena penyerapan lemak. Jika dikonsumsi rutin, kondisi ini bisa berkontribusi pada kenaikan berat badan. Padahal, kol seharusnya menjadi sayur pendukung gaya hidup seimbang. Perubahan cara masak membuat manfaat itu berbalik arah.
2. Lemak jenuh dan trans fat ikut masuk

Minyak goreng, terutama yang dipakai berulang, mengandung lemak jenuh dan berpotensi membentuk trans fat. Saat kol digoreng, sayuran ini menjadi “kendaraan” bagi lemak tersebut masuk ke tubuh. Inilah salah satu alasan kol goreng bisa berdampak buruk bagi kesehatan jantung.
Dilansir dari Medical News Today, konsumsi lemak jenuh dan trans fat berlebih berkaitan dengan peningkatan kadar kolesterol LDL. Kolesterol jenis ini dikenal sebagai kolesterol “jahat” yang berisiko menyumbat pembuluh darah. Dalam jangka panjang, kebiasaan makan gorengan bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
3. Antioksidan rusak akibat panas tinggi

Kol mengandung antioksidan alami yang berperan melawan peradangan dan radikal bebas. Sayangnya, suhu tinggi saat menggoreng dapat merusak senyawa bermanfaat tersebut. Akibatnya, kol goreng kehilangan sebagian besar keunggulan nutrisinya.
Healthline menjelaskan bahwa metode memasak dengan panas tinggi cenderung menurunkan kadar vitamin dan antioksidan tertentu. Padahal, nutrisi inilah yang membuat kol layak disebut sebagai superfood. Jika tujuanmu makan kol untuk kesehatan, cara menggoreng justru mengurangi manfaat utamanya.
4. Lebih berat untuk sistem pencernaan

Kol dikenal kaya serat yang baik untuk pencernaan. Namun, ketika digoreng, kandungan lemak tinggi membuatnya lebih sulit diolah oleh sistem cerna. Beberapa orang bahkan mengalami perut kembung atau rasa tidak nyaman setelah mengonsumsi kol goreng. Kondisi ini terjadi karena kombinasi serat dan lemak berlebih dapat memperlambat proses pengosongan lambung.
Lemak yang berlebihan membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna oleh tubuh. Akibatnya, kerja sistem pencernaan menjadi lebih berat dibandingkan saat mengonsumsi kol rebus atau kukus. Kol yang seharusnya membantu menjaga kesehatan usus justru bisa memicu rasa tidak nyaman jika dikonsumsi dalam bentuk gorengan. Inilah alasan mengapa cara memasak sangat berpengaruh pada efek sayur bagi tubuh.
5. Ada cara lebih aman untuk jantung

Berhenti makan kol goreng bukan berarti harus menghindari kol sepenuhnya. Justru sebaliknya, kol tetap bisa jadi pilihan sehat jika dimasak dengan cara yang lebih ramah jantung. Mengukus, merebus, atau menumis dengan sedikit minyak adalah alternatif yang lebih aman.
Medical News Today menyebutkan, metode memasak rendah lemak membantu mempertahankan nutrisi sayur sekaligus mengurangi risiko kolesterol. Dengan cara ini, kol tetap memberikan serat dan vitamin tanpa tambahan lemak berlebih. Tubuh pun mendapatkan manfaat maksimal tanpa efek samping yang tidak perlu.
Mengubah kebiasaan makan memang gak selalu mudah, apalagi jika berkaitan dengan gorengan favorit. Namun, memahami dampaknya pada kesehatan jantung bisa jadi langkah awal yang penting. Kol tetap sayuran bernutrisi, asalkan diolah dengan bijak. Mulai sekarang, pertimbangkan memilih cara masak yang lebih sehat demi tubuh yang lebih kuat dalam jangka panjang.


















