“Bacterial Vaginosis (BV).” Cleveland Clinic. Diakses Oktober 2026.
“Pad Rash: Causes, Symptoms, and Treatment.” Medical News Today. Diakses Oktober 2026.
“Why Does My Period Smell So Bad?” Saalt. Diakses Oktober 2026.
“Why Does My Period Smell So Bad?” Verywell Health. Diakses Oktober 2026.
“Does Period Blood Smell? What’s Happening and How to Manage It.” Nua Woman. Diakses Oktober 2026.
Apa yang Terjadi jika Pembalut Tidak Diganti Seharian?

- Pembalut perlu diganti sekitar tiap 4 jam, atau 2–3 jam pada awal menstruasi saat aliran lebih deras, untuk mencegah rembes dan menjaga kenyamanan.
- Pemakaian pembalut seharian meningkatkan kelembapan yang mendukung pertumbuhan bakteri dan jamur, serta berisiko memicu bacterial vaginosis dengan gejala keputihan, gatal, iritasi, dan nyeri saat buang air kecil.
- Kelembapan, panas, dan gesekan dari pembalut yang dipakai terlalu lama dapat memicu ruam vulva; darah yang tertampung juga bisa menghasilkan bau lebih menyengat akibat penguraian bakteri.
Pembalut jadi kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan dari perempuan. Selama siklus menstruasi, pembalut berfungsi untuk menampung darah yang keluar dan merembes ke pakaian. Meski begitu, pembalut merupakan barang sekali pakai dan pemakaiannya gak bisa seharian. Normalnya kita harus mengganti pembalut yang lama dengan yang baru setiap 4 jam sekali.
Namun frekuensi pastinya juga sangat bergantung pada beberapa faktor, termasuk intensitas aliran darah. Di hari-hari awal menstruasi, aliran darah akan keluar lebih banyak sehingga kita perlu menggantinya setiap 2-3 jam sekali. Selain itu, mengganti pembalut dengan yang baru juga membuat kita merasa lebih nyaman. Lantas apa yang terjadi jika kita tidak mengganti pembalut seharian? Berikut penjelasannya!
1. Kelembapan berlebih memungkinkan pertumbuhan bakteri dan jamur

ilustrasi bakteri (unsplash.com/CDC) Mengganti pembalut bisa jadi aktivitas yang cukup merepotkan, terutama di hari pertama di mana kita harus menggantinya berkali-kali. Namun memakai pembalut penuh selama berjam-jam jelas bukan pilihan yang benar. Selain meningkatkan risiko darah merembes ke pakaian, pembalut yang basah juga menyebabkan area kewanitaan menjadi terlalu lembap, dan sempurna untuk pertumbuhan bakteri dan infeksi jamur. Selain itu menggunakan pembalut terlalu lama juga dapat meningkatkan bacterial vaginosis.
Dilansir Cleveland Clinic, bacterial vaginosis adalah infeksi vagina yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri berlebihan. Setiap vagina yang sehat mengandung bakteri. Namun kebiasaan menggunakan pembalut terlalu lama atau kurang menjaga kebersihan area vagina dapat memicu pertumbuhan bakteri “jahat”. Jika jumlahnya terlalu banyak, hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan. Gejalanya meliputi cairan vagina berwarna putih pucat, abu-abu, atau kehijauan, keputihan berbau amis terutama setelah berhubungan seksual, gatal dan iritasi, serta sensasi terbakar saat buang air kecil.
2. Ruam dan iritasi pada area kewanitaan

gambar buah jeruk (unsplash.com/Alexander Grey) Setiap pembalut dilengkapi dengan perekat yang membuat posisinya tak berubah selama pemakaian. Namun seperti yang kita ketahui, berjalan, berlari, dan bentuk aktivitas fisik lainnya dapat menyebabkan pembalut bergerak, dan hal itu jelas akan menyebabkan gesekan pada kulit, dan meningkatkan risiko iritasi. Dilansir Medical News Today, kondisi ini akan semakin buruk jika kamu menggunakan pembalut yang sama terlalu lama. Kelembapan dan panas yang terperangkap dapat mengiritasi vulva dan menyebabkan ruam pada area kewanitaan.
Ruam yang muncul juga disertai dengan beberapa gejala seperti perubahan warna kulit, gatal, kulit terasa sakit, atau perih, dan lepuhan yang muncul disertai dengan rasa terbakar. Selain penggunaan pembalut terlalu lama, ruam juga bisa muncul karena alergi terhadap bahan-bahan tertentu. Pasalnya pembalut menstruasi sendiri terdiri dari beberapa bahan yang dapat memicu terjadinya iritasi atau alergi. Pada orang yang punya kulit sensitif, penggunaan bahan-bahan ini dapat memicu reaksi buruk pada kulit hingga memicu timbulnya ruam.
3. Bau tidak sedap akibat darah menstruasi yang tertampung terlalu lama

gambar pembalut wanita (magnific.com/Magnific) Pada dasarnya darah menstruasi memang bisa berbau, dan itu merupakan sesuatu yang normal. Ini karena darah menstruasi mengandung zat besi yang membantu membawa oksigen dalam tubuh. Ketika darah akhirnya keluar, darah tersebut akan terpapar udara, membuat zat besi terutama dan menghasilkan bau logam. Meski begitu, bau darah menstruasi bisa cukup bervariasi setiap bulan. Dilansir oleh Very Well Health, perubahan ini disebabkan oleh beberapa kemungkinan.
Pertama, darah bercampur dengan bakteri alami yang ada di vagina, keringat, dan cairan keputihan yang menyebabkan bau. Kedua, perubahan bau juga bisa disebabkan oleh perubahan hormon selama siklus menstruasi. Ketiga, menggunakan tampon atau pembalut terlalu lama juga bisa membuat bau darah menstruasi jadi semakin menyengat. Ini karena semakin lama darah terpapar dengan udara, maka akan semakin banyak juga bakteri yang menguraikannya.
Mengganti pembalut dengan yang baru merupakan pekerjaan sederhana. Namun hal ini sangat penting untuk menjaga kesehatan area kewanitaan kita. Gak hanya mencegah bau, mengganti pembalut dengan yang bersih juga menghindarkan kita dari paparan risiko infeksi hingga penyakit berbahaya.
Referensi






















