Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Risiko Pisau Cukur Barbershop, dari Infeksi Kulit hingga Hepatitis

5 min read
Risiko Pisau Cukur Barbershop, dari Infeksi Kulit hingga Hepatitis
ilustrasi pisau cukur di barbershop (unsplash.com/Agustin Fernandez)
  • Pisau cukur yang tercemar darah dan dipakai bergantian berpotensi menularkan hepatitis B atau C, terutama bila menyebabkan luka pada pelanggan berikutnya.

  • Peralatan cukur yang kurang bersih dapat membawa bakteri atau jamur pemicu infeksi kulit; iritasi pascacukur juga bisa berasal dari rambut tumbuh ke dalam.

  • Barbershop dianjurkan memakai mata pisau steril sekali pakai; bila terluka, cuci dengan sabun dan air mengalir, lalu konsultasi medis jika diduga terpapar darah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mencukur rambut atau merapikan janggut di barbershop sudah menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Sebagian besar pelanggan lebih memperhatikan hasil potongan rambut, kenyamanan tempat, atau keterampilan tukang cukur dibandingkan alat yang digunakan selama proses cukur.

Padahal, pisau cukur yang bersentuhan langsung dengan kulit dapat menyebabkan goresan atau luka kecil yang sering tidak disadari. Jika alat tersebut tidak diganti atau tidak ditangani dengan benar, ada risiko penularan infeksi tertentu.

Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi penting untuk memahami bagaimana penggunaan pisau cukur di barbershop dapat memengaruhi kesehatan.

  1. 1. Hepatitis B dan C dapat menular melalui alat yang tercemar darah

    Hepatitis B dan C dapat menular ketika darah yang mengandung virus masuk ke tubuh orang lain. Karena itu, pisau cukur yang terkena darah dan digunakan bergantian tanpa diganti atau dibersihkan dengan benar berpotensi menjadi media penularan virus.

    Pisau cukur adalah salah satu barang pribadi yang tidak dianjurkan untuk dipakai bersama karena dapat menularkan hepatitis.

    Meski demikian, mencukur di barbershop tidak berarti kamu pasti tertular hepatitis. Risiko utamanya muncul jika pisau bekas masih mengandung darah dan kemudian menyebabkan luka atau goresan pada pelanggan berikutnya.

    Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa kebiasaan bercukur atau mengalami luka saat bercukur dapat berkaitan dengan peningkatan risiko infeksi yang ditularkan melalui darah. Namun, besarnya risiko dapat berbeda-beda tergantung praktik kebersihan yang diterapkan dan kondisi di masing-masing negara.

  2. 2. Alat yang kurang bersih dapat memicu infeksi kulit

    Pisau atau peralatan cukur yang tidak dibersihkan dengan benar dapat membawa bakteri maupun jamur. Infeksi jamur pada kulit berjanggut, misalnya, dapat menimbulkan bercak merah, bersisik, dan gatal.

    Dalam pemeriksaan kebersihan di sebuah barbershop di Jerman, jamur Trichophyton tonsurans ditemukan pada 3 dari 10 sampel lingkungan yang diambil, termasuk sampel dari alat cukur. Temuan itu menunjukkan mengapa kebersihan alat perlu diperhatikan.

    Bintik atau iritasi setelah bercukur juga tidak selalu berarti tertular infeksi. Rambut yang tumbuh kembali ke dalam kulit dapat memicu benjolan dan peradangan yang dikenal sebagai razor bumps atau pseudofolikulitis.

  3. 3. Risiko penularan HIV dari pisau cukur dinilai rendah, tetapi tetap perlu diwaspadai

    Seorang barber menggunakan pisau cukur untuk merapikan rambut pelanggan dengan teliti di barbershop.
    ilustrasi penggunaan pisau cukur di barbershop (pexels.com/Jose Ricardo Barraza Morachis)

    HIV tidak menular melalui kontak sehari-hari, seperti berjabat tangan atau berbagi tempat duduk. Penularan terjadi ketika darah yang mengandung HIV masuk ke dalam tubuh melalui luka atau jaringan yang rentan.

    Dibandingkan dengan hubungan seksual berisiko atau penggunaan jarum suntik secara bergantian, penularan HIV melalui pisau cukur bukanlah jalur yang umum. Namun, para ahli tetap menganggap penggunaan pisau cukur yang terkontaminasi darah sebagai potensi risiko yang perlu dicegah.

    Karena itu, barbershop sebaiknya menggunakan mata pisau baru untuk setiap pelanggan atau menerapkan prosedur sterilisasi yang sesuai. Walaupun bukti mengenai risiko penularan HIV melalui pisau cukur masih terbatas, tetapi menjaga kebersihan alat tetap penting untuk mengurangi kemungkinan penularan berbagai infeksi yang ditularkan melalui darah.

  4. 4. Periksa kebersihan mata pisau sebelum mulai

    Para ahli merekomendasikan pisau cukur steril sekali pakai untuk setiap pelanggan dan pembuangan mata pisau setelah digunakan. Gagang atau peralatan yang digunakan kembali perlu dibersihkan sesuai prosedur. Selain itu, pisau cukup dianjurkan untuk tidak digunakan bersama.

    Kamu bisa mencoba meminta tukang cukur untuk memakai mata pisau baru yang masih terbungkus dan membukanya sebelum bercukur.

    Perhatikan juga kebersihan tangan, handuk bersih, serta apakah luka pada kulit ditangani secara higienis.

  5. 5. Jika terluka akibat pisau cukur, segera bersihkan dan konsultasikan dengan tenaga medis

    Jika kulit tergores atau terluka saat dicukur, segera cuci area tersebut dengan air mengalir dan sabun untuk membantu mengurangi risiko infeksi.

    Kalau kamu mengetahui atau mencurigai pisau yang digunakan merupakan pisau bekas yang mungkin terpapar darah orang lain, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Dokter dapat menilai apakah perlu pemeriksaan atau tindak lanjut tertentu berdasarkan jenis luka dan kemungkinan paparannya.

    Dalam situasi tertentu yang dinilai berisiko tinggi terhadap HIV, dokter mungkin akan mempertimbangkan pemberian profilaksis pascapajanan (PEP), yaitu obat untuk membantu mencegah infeksi setelah terjadi paparan. Keputusan pemberiannya akan didasari penilaian medis dan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin, idealnya dalam kurun waktu dari 72 jam setelah paparan.

    Referensi

    Centers for Disease Control and Prevention, “Hepatitis B Prevention and Control,” diakses 30 Oktober 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Hepatitis C Prevention and Control,” diakses 30 Oktober 2026.

    Jakob M. Britsch, Stefan Bereswill, and Markus M. Heimesaat, “Infections Acquired in Barbershops—A Review,” European Journal of Microbiology and Immunology 14, no. 4 (2024): 366–72, https://doi.org/10.1556/1886.2024.00104.

    Anne Marcic, Stefan Freytag, and Katharina Langen, “Trichophyton tonsurans Infections after Visiting a Barbershop—Findings from Official Hygiene Monitoring,” GMS Hygiene and Infection Control 19 (2024): Doc52, https://doi.org/10.3205/dgkh000507.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Symptoms of Ringworm,” diakses 30 Oktober 2026.

    Primary Care Dermatology Society, “Pseudofolliculitis Barbae,” diakses 30 Oktober 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “How HIV Spreads,” diakses 30 Oktober 2026.

    NSW Health, “Hairdressers and Barbers,” diakses 30 Oktober 2026.

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Pentingnya Pencegahan Hepatitis di Hari Hepatitis Sedunia 2024,” diakses 30 Oktober 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Best Practices for Occupational Exposure to Blood,” diakses 30 Oktober 2026.

    Mary R. Tanner et al., “Antiretroviral Postexposure Prophylaxis After Sexual, Injection Drug Use, or Other Nonoccupational Exposure to HIV—CDC Recommendations, United States, 2025,” Morbidity and Mortality Weekly Report 74, no. 1 (2025): 1–56, https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/74/rr/rr7401a1.htm.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More