Referensi
Kaberi Dasgupta et al., “Low Energy Diet Plus Supervised Exercise vs. Usual Care Alone in People with Early-Onset Type 2 Diabetes (RESET for Remission): A Randomised, Open-Label, Blinded-Endpoint Efficacy Trial,” The Lancet Regional Health – Americas, dipublikasikan daring 1 Oktober 2026, artikel 101664, https://doi.org/10.1016/j.lana.2026.101664.
University of Leicester, “Study Shows Low Energy Diet Combined with Structured Exercise Reverses Early Onset Type 2 Diabetes in Half of Participants,” diakses 31 Oktober 2026.
ScienceDaily, “Type 2 Diabetes Breakthrough as 54% Achieve Remission in Just 6 Months,” diakses 31 Oktober 2026.
Matthew C. Riddle et al., “Consensus Report: Definition and Interpretation of Remission in Type 2 Diabetes,” Diabetes Care 44, no. 10 (2021): 2438–44, https://doi.org/10.2337/dci21-0034.
Studi: 54 Persen Dewasa Muda Capai Remisi Diabetes dalam 6 Bulan

Dalam uji klinis kecil, sebanyak 27 dari 50 dewasa muda dengan obesitas dan diabetes tipe 2 onset dini mencapai remisi dalam 24 minggu, dibandingkan 2 dari 46 peserta perawatan biasa.
Pesertanya adalah orang berusia 18–45 tahun dengan diabetes tipe 2 onset dini dan obesitas, yang tidak menggunakan insulin.
Programnya sangat terstruktur dan melibatkan pemantauan medis. Remisi bukan berarti diabetes pasti sembuh permanen atau pemeriksaan lanjutan tak lagi diperlukan.
Sebanyak 27 dari 50 peserta yang mengikuti program diet rendah energi dan olahraga terstruktur mencapai remisi diabetes tipe 2 setelah 24 minggu. Dalam kelompok yang menerima perawatan biasa, 2 dari 46 peserta mencapai remisi. Hasil ini berasal dari uji klinis acak RESET for Remission yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Regional Health – Americas.
Sebagai catatan, pesertanya berusia 18–45 tahun, mengalami obesitas dan diabetes tipe 2 onset dini, serta tidak menggunakan insulin.
Table of Content
Programnya melibatkan diet ketat dan latihan terawasi
Selama 12 minggu pertama, peserta dalam kelompok intervensi mengonsumsi 800–900 kalori per hari. Mereka menjalani latihan aerobik dan latihan kekuatan dengan pengawasan dua kali seminggu, ditambah satu sesi latihan mandiri setiap minggu. Pada 12 minggu berikutnya, mereka beralih ke pola makan untuk mempertahankan berat badan sambil melanjutkan olahraga.
Pada peserta dengan data berat badan, kelompok intervensi kehilangan rata-rata 8,4 kilogram selama 24 minggu, sementara kelompok perawatan biasa kehilangan sekitar 1,2 kilogram. Peneliti juga melaporkan bahwa massa otot dapat dipertahankan dalam program yang menggabungkan penurunan asupan energi dengan latihan kekuatan. Namun, penelitian lebih lama masih diperlukan untuk mengetahui apakah hasil tersebut bertahan setelah program berakhir.
Apa arti remisi dalam penelitian ini?

ilustrasi diabetes (IDN Times/Novaya Siantita) Peserta dinyatakan mencapai remisi apabila kadar HbA1c—gambaran rata-rata gula darah selama sekitar tiga bulan—berada di bawah 6,5 persen dan mereka tidak menggunakan obat penurun gula darah setidaknya selama 12 minggu. Kriteria ini mengikuti konsensus internasional tentang remisi diabetes tipe 2.
Remisi bukan jaminan diabetes sembuh permanen. Kadar gula darah bisa naik lagi, sehingga orang yang mencapai remisi tetap perlu berkonsultasi dan menjalani pemantauan kesehatan sesuai saran dokter.
Keterbatasan penelitian dan temuan efek samping
Uji ini hanya melibatkan 96 peserta dan menilai hasil sampai 24 minggu. Karena pesertanya relatif muda, mengalami obesitas, dan tidak menggunakan insulin, hasilnya belum tentu berlaku bagi semua orang dengan diabetes tipe 2, termasuk orang yang lebih tua atau memiliki kondisi kesehatan berbeda.
Peneliti juga menyebut studi jangka panjang dibutuhkan untuk menilai ketahanan remisi dan perubahan kesehatan setelah program selesai.
Efek samping juga tercatat. Setidaknya satu keluhan terjadi pada 43 dari 50 peserta di kelompok intervensi, dibandingkan 6 dari 46 peserta pada kelompok perawatan biasa. Keluhan yang banyak dilaporkan antara lain sembelit, sakit kepala, pusing, dan kelelahan; tidak ada efek samping serius yang dilaporkan selama uji.
Karena intervensi ini membatasi asupan hingga 800–900 kalori sehari, disertai perubahan obat dan olahraga yang dipantau tim penelitian, programnya tidak untuk dicoba sendiri. Peserta menghentikan atau menyesuaikan obat hanya dalam pengawasan medis sesuai protokol. Hasil studi ini tidak menjadi alasan untuk mengurangi atau menghentikan obat diabetes tanpa berkonsultasi dengan dokter.





















